Anak Krakatau Ternyata Sudah 'Bangun' Sejak Juni, Kini Statusnya Siaga

Aktivitas vulkanik Anak Krakatau terlihat dari berbagai parameter pemantauan, mulai dari citra satelit, pengamatan visual, hingga aktivitas kegempaan.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 11 Juli 2026, 20:53 WIB
Awalnya Terdeteksi Satelit, Begini Kronologi Gunung Anak Krakatau Kembali Aktif hingga Naik Status Siaga

Liputan6.com, Jakarta - Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) telah terdeteksi sejak awal Juni 2026. Temuan itu diperoleh hampir satu bulan sebelum status gunung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Andi Suwardi mengatakan tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik terlihat dari berbagai parameter pemantauan, mulai dari citra satelit, pengamatan visual, hingga aktivitas kegempaan.

"Sejak 1 Juni 2026 citra satelit Sentinel mendeteksi emisi gas sulfur dioksida (SO2). Kemudian pada 10 Juni mulai muncul anomali panas dan titik api di kawah yang menunjukkan aktivitas permukaan gunung meningkat," kata Andi, Sabtu (11/7/2026).

Selain itu, kepulan asap dari kawah terlihat semakin intens. Pada periode yang sama, aktivitas gempa vulkanik dangkal juga meningkat, terutama gempa hembusan, hybrid, dan low frequency.

Menurut Andi, peningkatan gempa vulkanik dangkal menjadi salah satu indikasi adanya pergerakan magma menuju permukaan.

"Ini mengindikasikan adanya dinamika magma di bagian dangkal atau dekat permukaan gunung api," ujarnya.

Peningkatan aktivitas paling signifikan terjadi pada 18-19 Juni 2026. Dalam dua hari tersebut, jumlah gempa hembusan, hybrid, dan low frequency melonjak hingga rata-rata lebih dari 50 kali per hari.

Selama periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026, PVMBG mencatat ratusan gempa vulkanik yang didominasi gempa hembusan, hybrid, dan low frequency. Pemantauan deformasi melalui jaringan tiltmeter juga menunjukkan inflasi atau penggembungan tubuh gunung yang menandakan tekanan magma masih berlangsung di bawah permukaan.

Memasuki 26 Juni 2026, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat. Frekuensi gempa hembusan semakin sering disertai keluarnya asap kawah berwarna kelabu yang mengandung abu vulkanik tipis. Sebaran abu bahkan terdeteksi oleh satelit Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia.

Rangkaian peningkatan aktivitas itu kemudian berujung pada erupsi pada Kamis (2/7/2026) pukul 14.05 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak dengan arah sebaran ke barat laut.

 

Status Siaga

Berdasarkan evaluasi terhadap data visual, kegempaan, deformasi, dan pemantauan satelit, PVMBG kemudian menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga) pada hari yang sama pukul 16.30 WIB.

Seiring kenaikan status tersebut, masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi. Warga juga diimbau mewaspadai potensi lontaran material pijar, aliran lava, awan panas, hingga hujan abu apabila aktivitas vulkanik kembali meningkat.

Meski demikian, PVMBG menegaskan hingga saat ini belum ada indikasi aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat memicu tsunami di wilayah pesisir Lampung maupun Banten.

"Kami mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BPBD, maupun instansi pemerintah terkait dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi," kata Andi.

Anak Krakatau Meletus Lagi

Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Sabtu (11/7/2026) sore. Letusan terjadi sekitar satu menit dengan kolom abu setinggi 200 meter di atas puncak. Meski demikian, petugas memastikan aktivitas vulkanik tersebut masih tergolong erupsi skala kecil.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi mengatakan, erupsi terjadi pada pukul 17.10 WIB. Tinggi kolom abu teramati sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut (mdpl).

"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 49 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 5 detik," kata Andi. 

Menurut Andi, letusan tersebut merupakan pelepasan energi yang sebelumnya telah terakumulasi di dalam tubuh gunung api. Ia menegaskan, durasi erupsi sekitar satu menit belum menunjukkan adanya indikasi letusan besar dalam waktu dekat.

"Masih skala kecil. Material letusannya hanya jatuh di sekitar Gunung Anak Krakatau saja," jelasnya.

Terkait arah sebaran abu yang mengarah ke barat laut, Andi menjelaskan abu vulkanik bergerak ke arah laut sehingga belum mengancam wilayah permukiman.

"Itu ke arah laut," katanya.

Hingga saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga). Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diimbau tidak mendekati kawah aktif atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya