Bursa Proses IPO Enam Perusahaan

Enam perusahaan memproses pelaksanaan penawaran saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO). Dari enam perusahaan, tiga memiliki aset jumbo.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 09 Juli 2026, 08:05 WIB
Karyawan melintasi layar pergerakan IHSG, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan lima perusahaan telah mencatatkan saham hingga 8 Juli 2026. Total dana dihimpun mencapai Rp 1,67 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin menuturkan, hingga kini terdapat enam perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Dari enam perusahaan itu, tiga memiliki aset skala besar atau aset di atas Rp 250 miliar.

Berikut rincian berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017:

  • 2 perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar)
  • 1 perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar)
  • 3 perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar)

Berikut rincian sektornya:

  • 1 perusahaan dari sektor basic materials
  • 2 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 1 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 2 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan

Selain itu, Saidu menuturkan, hingga kini telah diterbitkan 93 emisi dari 52 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dengan dana dihimpun Rp 94,45 triliun.

"Sampai dengan 8 Juli 2026 terdapat 28 emisi dari 21 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” kata Saidu.

Berikut klasifikasi sektornya:

  • 2 perusahaan dari sektor basic materials
  • 2 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 5 perusahaan dari sektor keuangan
  • 1 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 6 perusahaan dari sektor infrastruktur

Dari rights issue, BEI mencatat telah terdapat empat perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue senilai Rp 3,89 triliun. Saidu mengatakan, masih terdapat perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue dari sektor properti dan real estate.

BEI Ingatkan Emiten Baru: IPO Bukan Garis Akhir

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya, PT Niramas Utama Tbk dengan kode saham JELI dan PT Nitrasanata Dharma Tbk berkode JECX resmi mencatatkan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) dan memulai perdagangan di lantai bursa pada Selasa ini. 

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Saidu Solihin mengingatkan perusahaan yang telah melantai di bursa agar tidak menganggap penawaran umum perdana saham sebagai garis akhir.

“Menjadi perusahaan tercatat bukan akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari komitmen jangka panjang untuk menjalankan usaha secara berkelanjutan,” kata Saidu dalam Pencatatan Perdana Saham PT Niramas Utama Tbk dan PT Nitrasanata Dharma Tbk, di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, status sebagai perusahaan tercatat justru menjadi awal dari komitmen jangka panjang untuk menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, menjaga transparansi, serta melindungi kepentingan investor.

Pesan tersebut disampaikan Saidu saat seremoni pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Kedua emiten tersebut resmi menjadi perusahaan tercatat kedua dan ketiga pada 2026, sekaligus emiten saham ke-958 dan ke-959 di BEI.

 

959 Emiten di Bursa Efek Indonesia

Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Saidu mengatakan, pencatatan saham menjadi momentum penting, bukan hanya bagi kedua perusahaan, tetapi juga bagi perkembangan pasar modal Indonesia.

“PT Niramas Utama Tbk dan PT Nitrasanata Dharma Tbk yang resmi menjadi perusahaan tercatat kedua dan ketiga pada tahun 2026 ini, sekaligus menjadi perusahaan tercatat saham ke-958 dan 959 di Bursa Efek Indonesia pada saat ini,” ujarnya.

Menurut Saidu, kehadiran dua emiten baru dari sektor yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni makanan dan minuman serta layanan rumah sakit dan klinik swasta, menunjukkan semakin beragamnya perusahaan yang memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.

“Hari ini menjadi momentum penting bukan hanya bagi kedua perusahaan, tetapi juga bagi pasar modal Indonesia. Hal ini karena bertambahnya dua perusahaan tercatat dari dua sektor berbeda yang dekat dengan masyarakat yaitu PT. Niramas Utama TBK yang bergerak di bidang makanan dan minuman, serta PT Nitrasanata Dharma yang bergerak di bidang aktivitas rumah sakit swasta dan aktivitas klinik swasta,” ujar Saidu.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya