Bank Indonesia Memperkuat Pengembangan UMKM, Ini Tujuannya

Bank Indonesia (BI) menyatakan, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 08 Juli 2026, 15:16 WIB
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Juni mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 yang berada pada level optimis (indeks>100) sebesar 117,8.

Bank Indonesia menyatakan, terjaganya keyakinan konsumen pada Juni 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsume (IEK) yang tetap berada pada level optimis masing-masing 109,2 dan 126,4, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya masing-masing sebesar 112,2 dan 129,7.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Deny Prakoso menuturkan, pihaknya juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan seiring menjaga stabilitas. BI menilai, Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah salah satu pilar pertumbuhan ekonomi nasional dan penyerapan tenaga lapangan kerja.

"Oleh karena itu, Bank Indonesia terus memperkuat pengembangan UMKM agar semakin berdaya saing,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).

Oleh karena itu, Bank Indonesia terus memperkuat pengembangan UMKM agar semakin berdaya saing. Pada 2025, omzet UMKM binaan Bank Indonesia mencapai Rp 7,02 triliun atau tumbuh 23,1% (yoy), dengan pertumbuhan tertinggi pada omzet UMKM ekspor (21%) dan UMKM Digital (25%).

“Capaian tersebut diperkirakan terus bertumbuh seiring implementasi Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, yang tahun ini menargetkan lahirnya 400 barista bersertifikasi internasional, 50 inovasi wastra baru, 200 pesantren produsen air minum dalam kemasan, dan 10 pesantren pengelola pertanian terintegrasi,” ujar dia.

Ramdan menambahkan, berbagai program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional, meningkatkan nilai tambah dan daya saing UMKM, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Percepatan Penyaluran Kredit

UMKM Yanti Batok Craft. (Foto: Liputan6/Selma Intania)

Bank Indonesia juga melakukan percepatan penyaluran kredit melibatkan Pemerintah, otoritas terkait, perbankan, dan pelaku usaha. Upaya tersebut didukung Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), turut memperkuat fungsi intermediasi perbankan dan pembiayaan bagi dunia usaha. Hal ini tercermin dari kredit perbankan mampu tumbuh 11,51% (yoy) pada Mei 2026, meningkat dibandingkan 9,69% (yoy) pada akhir 2025.

“Peningkatan pembiayaan sektor produktif tersebut akan semakin memperkuat aktivitas dan pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.

Ramdan menuturkan,Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan serta memperkuat sinergi dengan Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas, memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, serta turut mendukung penciptaan lapangan kerja.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya