Pengendali Blue Bird Beli 52,56 Juta Saham BIRD

Pemegang saham pengendali Blue Bird (BIRD) Purnomo Prawiro kini memiliki 14,18% saham BIRD.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 07 Juli 2026, 08:15 WIB
Pengemudi taksi biru Blue Bird menambah daya kendaraannya di tempat Pengisian daya mobil listrik di kantor Pusat Blue Bird, Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu pemegang saham pengendali PT Blue Bird Tbk (BIRD), Purnomo Prawiro membeli saham BIRD pada pertengahan Juni 2026. Aksi beli saham BIRD ini bertujuan untuk investasi.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa, (7/7/2026), Purnomo Prawiro membeli 52.560.000 saham BIRD dengan harga Rp 1.490 per saham. Dengan demikian, nilai pembelian saham BIRD itu mencapai Rp 78,31 miliar.

“Tujuan transaksi investasi, status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi pembelian saham BIRD, Purnomo Prawiro kini memiliki 354.854.300 saham BIRD atau setara 14,18%. Sebelumnya, ia memiliki 302.294.300 saham BIRD atau sekitar 12,08%.

Berdasarkan data Google Finance, saham BIRD ditutup di Rp 1.515 per saham pada perdagangan saham Senin, 6 Juli 2026. Harga saham BIRD berada di level tertinggi Rp 1.550 dan terendah Rp 1.510 per saham. Kapitalisasi pasar saham BIRD mencapai Rp 3,79 triliun.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,69% menjadi 5.916,07. Indeks saham LQ45 melompat 0,46% menjadi 584,48. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 5.935,68 dan terendah 5.857,35. Sebanyak 386 saham menguat sehingga angkat IHSG. 242 saham melemah dan 155 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham mencapai 1.630.565 kali dengan volume perdagangan saham 19,8 miliar saham. Namun, transaksi perdagangan saham tidak terlalu ramai. Transaksi harian saham hanya Rp 9,4 triliun.

 

Belanja Modal 2026

Melalui Visi Keberlanjutan 50:30, Bluebird berharap dapat membuktikan komitmennya dalam mengurangi 50 persen emisi karbon dan buangan operasional pada 2030. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, PT Blue Bird Tbk (BIRD) menargetkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,9 triliun pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis melalui peremajaan armada, penambahan kendaraan baru, serta pembangunan infrastruktur pendukung operasional.

Direktur Keuangan PT Blue Bird Tbk, Irawaty Salim, mengatakan perseroan secara konsisten mengalokasikan investasi untuk menjaga kualitas layanan dan memenuhi kebutuhan mobilitas pelanggan yang terus berkembang.

"Untuk 2026, kami menargetkan capex sekitar Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,9 triliun yang akan difokuskan untuk penggantian armada, penambahan kendaraan baru, serta pengembangan infrastruktur pendukung operasional perusahaan," ujar Irawaty dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).

Sebelumnya, PT Blue Bird Tbk (BIRD) menegaskan, kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax maupun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) belum memengaruhi strategi pengembangan usaha perseroan. 

Direktur Keuangan PT Blue Bird Tbk Irawaty Salim mengatakan, perusahaan terus mencermati pergerakan suku bunga, terutama karena sejumlah mitra pendanaan mulai melakukan penyesuaian bunga pinjaman. 

"Ada beberapa counterpart kita juga sudah mulai menaikkan interest rate-nya," kata dia dalam konferensi pers, Kamis, 18 Juni 2026.

Meski demikian, Irawaty menilai kondisi tersebut tidak menjadi hambatan bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi. Menurutnya, Bluebird akan tetap mengedepankan pendekatan yang hati-hati dengan mempertimbangkan perkembangan permintaan pasar sebelum menambah kapasitas armada. 

"Karena yang kita lihat ke depannya bagaimana demand dari market itu sendiri teradaptasi dulu. Apakah kita memang harus menambah armada atau tidak, kita melakukan ekspansi secara terukur," terang dia.

Irawaty menyebut, kenaikan BI Rate merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar. Ia juga meyakini regulator tetap mempertimbangkan kondisi dunia usaha dalam setiap kebijakan yang diambil. 

 

Tebar Dividen

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Adrianto Djokosoetono, Kamis, (18/6/2026). (Foto: Liputan6.com/Gagas YP)

Sebelumnya, PT Blue Bird Tbk (BIRD) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 166 per saham kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Kamis (18/6/2026). 

Keputusan tersebut mencerminkan komitmen perusahaan untuk memberikan imbal hasil kepada pemegang saham di tengah kinerja keuangan yang terus bertumbuh.

Total dividen yang dibagikan setara dengan 65,3% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada tahun buku 2025. Dividen akan diberikan kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham per 30 Juni 2026 dan dijadwalkan dibayarkan pada 10 Juli 2026.

Manajemen menegaskan, kebijakan dividen tersebut tetap mempertimbangkan kebutuhan investasi dan penguatan struktur permodalan perusahaan guna mendukung ekspansi bisnis dalam jangka panjang. Sementara itu, sisa laba bersih akan dicatat sebagai laba ditahan untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha.

Pembagian dividen didukung oleh kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025. Blue Bird membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 5,7 triliun, naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak perusahaan melantai di bursa. EBITDA tercatat Rp 1,4 triliun atau tumbuh 13%, sedangkan laba tahun berjalan meningkat 9% menjadi Rp 643 miliar.

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Adrianto Djokosoetono, mengatakan, pencapaian 2025 menjadi bukti konsistensi Bluebird dalam memperkuat kualitas layanan dan mengembangkan solusi mobilitas yang relevan dengan kebutuhan pelanggan. 

“Fokus pada inovasi, pemanfaatan teknologi, serta perluasan kapasitas operasional terus menjadi pendorong pertumbuhan Perseroan dan memperkuat fondasi bisnis untuk jangka panjang,” ujarnya.

Sepanjang 2025, Blue Bird juga memperkuat kapasitas operasional dengan mengoperasikan lebih dari 26.000 armada yang didukung 58 pool, lebih dari 1.300 outlet, serta layanan yang telah hadir di 22 kota di Indonesia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya