Liputan6.com, Jakarta - PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau Holding Perkebunan Nusantara menargetkan peningkatan produksi dan kinerja keuangan yang agresif pada 2026. Target tersebut disusun melalui Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) dengan mengandalkan peningkatan produktivitas di seluruh komoditas utama.
Plt. Direktur Utama PTPN III, Iswahyudi mengatakan, perseroan menargetkan produksi minyak sawit mentah (CPO) mencapai 2,8 juta ton pada 2026 atau naik 10% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Advertisement
"Target ini memang lebih tinggi dari capaian 2025 dan membutuhkan dukungan penuh melalui penerapan operational excellence di seluruh unit usaha,” ujar Iswahyudi dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, di DPR RI, Senin (6/7/2026).
Selain CPO, perseroan menargetkan produksi gula milik mencapai 600 ribu ton atau sekitar 25% di atas rata-rata produksi lima tahun terakhir. Produksi karet kering dipatok sebesar 144 ribu ton, sedangkan produksi teh kering ditargetkan naik 3% menjadi 49.400 ton.
Peningkatan produksi tersebut ditopang target produktivitas yang lebih tinggi. Produktivitas CPO diproyeksikan mencapai 5,3 ton per hektar atau naik 10% dibandingkan realisasi 2025. Produktivitas gula ditargetkan meningkat 17% menjadi 5,37 ton per hektar, sementara produktivitas karet dan teh masing-masing diproyeksikan naik 15% dan 30%.
Di sisi keuangan, Holding Perkebunan Nusantara menargetkan penjualan sebesar Rp 73,6 triliun pada 2026, naik sekitar 40% dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai Rp 59,3 triliun.
Laba kotor diproyeksikan meningkat 32% menjadi Rp 23 triliun. Adapun laba setelah pajak ditargetkan sebesar Rp 5,8 triliun, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai Rp 6,4 triliun.
Menurut dia, penurunan target laba tersebut disebabkan asumsi harga CPO dalam RKAP 2026 yang lebih rendah dibandingkan harga aktual sepanjang 2025.
"Jika menggunakan rata-rata harga CPO saat ini, target laba setelah pajak pada 2026 setara sekitar Rp 8 triliun,” ujar dia.
Pertumbuhan EBITDA
Perseroan juga membidik pertumbuhan EBITDA operasional sekitar 40% menjadi Rp 15,7 triliun. Sementara itu, total aset ditargetkan meningkat menjadi Rp 171,2 triliun.
Dari sisi rasio keuangan, PTPN III menargetkan margin laba bersih mencapai 8%, return on asset (ROA) sebesar 3,48%, dan return on equity (ROE) sebesar 7%.
Ia menambahkan, perbaikan struktur keuangan juga menjadi fokus perusahaan setelah restrukturisasi utang pada 2021. Pada 2026, perseroan menargetkan rasio interest bearing debt terhadap EBITDA turun menjadi 2,79 kali atau berada di bawah tiga kali.
Jurus PTPN Bikin Perkebunan Makin Produktif dan Efisien
Sebelumnya, Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group) terus memperkuat perannya sebagai motor inovasi di industri perkebunan Indonesia. Upaya tersebut salah satunya melalui peluncuran Research Day 2025.
Dengan tema Research for Smart and Sustainable Plantation, PTPN berupaya membangun ekosistem riset terpadu yang melibatkan akademisi, lembaga penelitian, dan mitra strategis demi melahirkan solusi nyata bagi tantangan perkebunan nasional.
Sebagai pelaku utama sektor perkebunan nasional, PTPN Group meyakini bahwa riset merupakan pilar penting dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing. Melalui Research Day 2025, PTPN Group membuka peluang sinergi lebih luas untuk menghadirkan kebaruan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri perkebunan.
Direktur Produksi dan Pengembangan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Rizal H. Damanik, yang diwakili Ketua Komite Riset PTPN Group, Dison M.P. Girsang, menyampaikan komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem riset perkebunan di Indonesia.
“PTPN Group berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan kegiatan riset melalui alokasi anggaran cukup besar, sekitar 5% dari total biaya human capital setiap tahunnya,” ujarnya