Ini Syarat Ideal Jadi Bos BUMN

Imbas aset susut Rp 100 triliun, Dony Oskaria sebut direksi BUMN wajib punya integritas, kepemimpinan kuat, dan disiplin eksekusi demi perbaiki tata kelola.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 22 Mei 2026, 11:30 WIB
Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria .(Dok Danantara)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria mengungkap syarat ideal yang diperlukan untuk menjadi direktur di perusahaan pelat merah. Integritas hingga kemampuan mengambil keputusan menjadi dua poin penting.

Dony mengatakan, direksi BUMN dituntut untuk memiliki kapasitas yang mumpuni. Selain itu, turut juga memiliki kemampuan menghadapi dinamika bisnis globak yang kompleks.

“Direksi BUMN harus memiliki kepemimpinan yang kuat, integritas, dan kemampuan mengeksekusi strategi secara disiplin,” ujar Dony mengutip keterangan resmi, Jumat (22/5/2026).

Beberapa syarat yang menurutnya perlu dimiliki direktur BUMN diantaranya kemampuan leadership, strategic thinking, project management, hingga memastikan implementasi strategi berjalan efektif menjadi syarat penting bagi para pemimpin perusahaan negara.

Selain kompetensi bisnis dan manajerial, direksi BUMN juga dituntut memiliki integritas, akuntabilitas, ketahanan mental, serta kemampuan membangun kepercayaan para pemangku kepentingan agar transformasi perusahaan dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan.

"Menjadi seorang direktur bukan sekadar jabatan, melainkan standar kepemimpinan yang harus dijaga dan diwujudkan melalui tindakan nyata," ucap Chief Operating Officer (COO) Danantara ini.

 

Ambil Keputusan Strategis

Kepala BP BUMN, Dony Oskaria (Foto: BP BUMN)

Dony menuturkan, direksi BUMN didorong mampu mengambil keputusan strategis secara etis di bawah tekanan, memperkuat transparansi dan tata kelola perusahaan. Serta memastikan transformasi berjalan terukur dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.

Director Onboarding Program juga menjadi ruang penguatan perspektif kepemimpinan agar para direksi memiliki visi yang selaras dalam mendorong daya saing BUMN. Penguatan tata kelola, disiplin eksekusi, dan orientasi terhadap keberlanjutan dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga kinerja perusahaan negara di tengah perubahan ekonomi global.

Melalui program tersebut, Dony menyebut BP BUMN dan Danantara terus mendorong hadirnya pemimpin-pemimpin BUMN yang profesional, adaptif, dan visioner. Harapannya, mampu membawa perusahaan negara menjadi lebih kompetitif serta memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 

Salah Tata Kelola

Kepala BP BUMN, Dony Oskaria (Foto: BP BUMN)

Sebelumnya, Chief Operation Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengungkap nilai aset BUMN tak sesuai dengan catatan keuangan yang ada. Hal tersebut disinyalir karena kesalahan tata kelola.

Dony mengatakan pihaknya tengah menghitung penurunan nilai aset (impairment) milik BUMN sebelum memfinalkan laporan keuangan konsolidasi. Dia mencatat nilai aset BUMN susut hingga Rp 100 triliun.

"Anda bisa bayangkan pada tahun ini saja Impairment hampir Rp100 triliun akibat kesalahan tata kelola," ungkap Dony, mengutip keterangan resmi, Rabu (20/5/2026).

 

Asuransi Gagal Bayar

Selain susutnya nilai aset tadi, Dony melirik adanya potensi gagal bayar dari perusahaan pengelola dana pensiun (dapen) BUMN. Hal ini pula yang tengah jadi sorotan untuk diperbaiki.

"Tahun ini saya harus menyelesaikan lagi potential default dan exposure kita dana pensiun kurang lebih Rp50 triliun," ucap dia.

Dia memastikan laporan keuangan akan dirilis setelah masalah-masalah ini ditangani. "Kita sedang bereskan buku-buku semua. Impairment kita rapihkan dulu," tegasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya