BI Rate Naik, Ini Sektor Saham yang Berpotensi Untung dan Rugi

Kenaikan BI Rate jadi 5,25% diperkirakan menekan IHSG dalam jangka pendek. Sektor properti dan teknologi berpotensi terdampak, sementara perbankan diuntungkan.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 22 Mei 2026, 06:00 WIB
Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik ke level 8.000 pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen diperkirakan memberikan tekanan jangka pendek terhadap pasar modal Indonesia, terutama terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan secara historis kebijakan kenaikan suku bunga acuan kerap memicu koreksi terbatas di pasar saham. Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi perubahan psikologi pasar yang mendorong investor melakukan penyesuaian strategi investasi.

“Secara historis, kenaikan BI Rate seringkali memicu koreksi minor atau tekanan jangka pendek pada IHSG. Hal ini terjadi karena dua faktor psikologi pasar,” ujar Nafan kepada Liputan6.com, ditulis Jumat (22/5/2026).

Nafan menjelaskan, kenaikan suku bunga akan mendorong pelaku pasar menghitung ulang prospek kinerja perusahaan, terutama emiten yang memiliki beban utang tinggi karena berpotensi menghadapi kenaikan biaya bunga.

Menurut dia, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi pasar. Pertama, meningkatnya biaya modal (cost of fund) yang dapat mengurangi profitabilitas perusahaan. Kedua, penyesuaian valuasi saham akibat meningkatnya tingkat pengembalian yang diharapkan investor (required rate of return).

“Peningkatan biaya modal (cost of fund): Investor mengantisipasi penurunan profitabilitas emiten akibat beban bunga yang membengkak. Penyesuaian valuasi: suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan tingkat pengembalian yang diharapkan (required rate of return), sehingga valuasi saham cenderung turun,” jelasnya.

 

Hanya Sementara

Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 98,791 miliar senilai Rp67,823 triliun. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Meski demikian, Nafan menilai tekanan pasar berpotensi hanya bersifat sementara jika investor memandang kebijakan BI sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi makro, terutama dalam pengendalian inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah.

Dari sisi sektoral, sektor properti dan real estate diperkirakan menjadi salah satu yang paling terdampak negatif. Kenaikan BI Rate berpotensi mendorong kenaikan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), sehingga dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan penjualan emiten properti.

Selain itu, sektor teknologi juga dinilai rentan karena banyak perusahaan masih mengandalkan pendanaan eksternal untuk ekspansi bisnis. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan menekan valuasi saham berbasis pertumbuhan (growth stocks).

“Namun, jika kenaikan BI Rate dinilai pasar sebagai langkah pre-emptive yang efektif untuk meredam inflasi dan menstabilkan nilai tukar rupiah, koreksi biasanya hanya berlangsung sementara sebelum akhirnya indeks kembali stabil,” ujarnya.

 

Bank Dapat Manfaat

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, sektor perbankan, khususnya bank-bank kelompok KBMI IV, diperkirakan justru dapat memanfaatkan momentum ini melalui potensi pelebaran Net Interest Margin (NIM), seiring kemampuan menaikkan bunga kredit lebih cepat dibandingkan bunga simpanan.

Sementara itu, sektor konsumer primer juga dipandang relatif lebih defensif karena permintaan masyarakat terhadap produk kebutuhan dasar cenderung tetap stabil meski terjadi perubahan tingkat suku bunga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya