Terjawab, KA Argo Anggrek Ngerem Tak Maksimal 1,3 Km Sebelum Tabrak KRL

Jarak yang dibutuhkan untuk kereta aman berhenti dengan rem maksimal adalah 900 hingga 1.000 meter.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 21 Mei 2026, 17:12 WIB
Paparan Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi terkait tabrakan maut antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. (Dok. tangkapan layar YouTube DPR RI)

Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap fakta upaya yang dilakukan masinir KA Argo Bromo Anggrek menghindari kecelakaan dengan KRL Commuterline di Stasiun Bekasi Timur pada Senin 27 April 2026. Masinir KA Argo Anggrek sudah berusaha menghentikan laju kereta.

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, KA Argo Anggrek sudah melakukan pengereman sebelum menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. Pengereman dilakukan dari jarak 1,3 KM sebelum lokasi kejadian.

“Masinis itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan,” kata Soerjanto dalam rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Soerjanto menjelaskan, masinis melakukan pengereman kereta setelah diinformasikan oleh pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek. Dia menjelaskan, pengereman dilakukan secara hati-hati, mempertimbangkan keselamatan rangkaian kereta. 

"Berdasarkan hasil wawancara, KA Argo Bromo Anggrek, taktis pengereman dilakukan secara mempertimbangkan keselamatan terhadap rangkaian kereta yang dioperasikannya,” kata dia.

 

Para pekerja memeriksa kondisi lokomotif Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dan salah satu gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line yang mengalami kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa 28 April 2026. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Perintah kepada Masinir KA Argo Anggrek

Soerjanto membeberkan, jarak yang dibutuhkan untuk kereta aman berhenti dengan rem maksimal adalah 900 hingga 1.000 meter. Namun, masinis KA Argo Anggrek saat itu tak melakukan pengereman maksimal karena adanya perintah agar rem dilakukan sedikit-sedikit. Alasannya, mempertimbangkan keselamatan. Masinir juga diminta membunyikan klakson. 

“Karena dia taunya dikomunikasi di dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson,” tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya