Defisit APBN Rp 164,4 Triliun per April 2026

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, deifist akan terus membaik ke depan didukung pajak.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 19 Mei 2026, 20:04 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Rabu (22/4/2026). Purbaya menjelaskan mengenai pajak jalan tol. (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 30 April 2026 menyusut menjadi Rp 164,4 triliun atau setara 0,64% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini membaik dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB.

Purbaya menjelaskan, penurunan defisit tersebut antara lain ditopang oleh perubahan keseimbangan primer yang berbalik menjadi surplus Rp 28 triliun pada akhir April 2026, setelah sebelumnya mengalami defisit Rp 95,8 triliun pada akhir Maret 2026.

“Ke depan akan terus membaik. Kenapa? Di pendapatan negara sudah 13%, di mana pajak tumbuh 16% dan mungkin akan lebih tinggi lagi, kata Pak Dirjen, mungkin mendekati 20%. Artinya kita akan usahakan ke arah sana. Ini jelas lebih bagus prospeknya dibandingkan tahun lalu,” jelas Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (19/5/2026).

Dari sisi pendapatan, penerimaan negara tercatat meningkat menjadi Rp 918,4 triliun pada akhir April 2026, naik dari Rp 574,9 triliun pada akhir Maret. Sementara itu, belanja negara juga mengalami kenaikan menjadi Rp 1.082,8 triliun dibandingkan Rp 815 triliun pada periode sebelumnya.

Kondisi tersebut mendorong keseimbangan primer APBN kembali mencatat surplus, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit hampir Rp 100 triliun. Pada saat yang sama, pembiayaan anggaran turut meningkat menjadi Rp 298,5 triliun dari sebelumnya Rp 257,4 triliun.

Meski demikian, Purbaya menegaskan kontribusi belanja pemerintah terhadap perekonomian masih berada di bawah 10%, sedangkan peran sektor swasta mencapai lebih dari 90%.

 

Purbaya Bongkar Sumber Pendanaan untuk Tutup Defisit APBN 2026

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap sumber pendanaan defisit APBN 2026. Menurutnya, ruang untuk menutup defisit dari utang masih masuk akal.

Dia menjelaskan, ruang defisit APBN diperkirakan masih dalam batas yang ditentukan. Adapun, defisit APBN bakal ditekan hingga di bawah 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Ada, kalau defisit tambah kan, dari awal kan nambah sedikit tapi masih dalam limitnya. Ada penambahan utang tapi sebetulnya masih terkendali," kata Purbaya seperti dikutip dari wawancara Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Minggu (10/5/2026).

Diketahui, per Maret 2026, defisit APBN tembus Rp 240,1 triliun. Menurutnya angka ini masih bisa ditambal dari perolehan pajak sepanjang tahun kedepan.

"Oh dari pajak aja. Itu masih masuk-masuk desain, cuma di (pos) belanja kan, belanjanya dipercepat. Nanti kan ada siklus, biasanya pendapatan pajak meningkat di triwulan-triwulan tertentu. Tapi kan belanjanya sudah sebagian di depan, nanti kan ke belakangnya akan berkurang sedikit," urainya.

Dia menjelaskan, defisit APBN masih dalam batas target yang ditentukan sebesar 2,68 persen PDB. Bendahara Negara ini tetap menghitung kemungkinan naiknya harga minyak dunia. Meskipun begitu, defisit APBN tidak sampai jebol di atas 3 persen.

"Kita akan tekan terus di bawah 3 persen untuk defisit tahun ini. Tergantung nanti harga minyaknya berapa ya, average-nya. Yang jelas kita sudah hitung dengan harga minyak rata-rata 100 dolar sampai akhir tahun, defisitnya masih di sekitar 2,9 (persen)," tuturnya.

 

Defisit APBN Rp 240,1 Triliun

Sebelumnya, Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp 240,1 triliun per 31 Maret 2026. Angka ini dinilai masih terkendali.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro menyampaikan defisit APBN tersebut setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, batas defisit yang ditetapkan dalam APBN sebesar 2,68% PDB untuk periode sepanjang 2026.

"APBN mencatatkan defisit Rp 240,1 triliun (0,93% PDB), dengan keseimbangan primer negatif Rp 95,8 triliun," kata Deni dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (1/5/2026).

Angka defisit APBN ini lebih tinggi 140,5% dari periode yang sama tahun lalu. Pada Januari-Maret 2025 lalu, angka defisit APBN mencapai Rp 99,8 triliun atau setara 0,41% terhadap PDB.

Diketahui, tingkat belanja pemerintah mencapai Rp 815 triliun dengan pendapatan negara sekitar Rp 574,9 triliun. Deni menilai, besaran defisit APBN tersebut masih dalam kategori aman dan terukur. Hal itu dikatakan sejalan dengan desain APBN 2026.

"Posisi ini masih sangat terjaga, terukur, dan sesuai desain APBN 2026. Pembiayaan anggaran juga dikelola secara prudent, efisien, dan fleksibel mengikuti dinamika pasar keuangan," tutur dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya