Pasar Modal Pekan Ini Masih Bergejolak, Intip Prediksi dan Saham yang Dapat Dicermati

Analis menilai, pasar modal Indonesia pekan ini masih dipengaruhi sentimen MSCI. Berikut prediksi sentimen dan IHSG selama sepekan.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 18 Mei 2026, 10:48 WIB
Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal domestik pekan lalu mengalami tekanan cukup berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam ke level 6.723, dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, terutama perubahan komposisi indeks MSCI yang mendorong reposisi portofolio investor asing.

"Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” tutur Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi dalam risetnya, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, investor asing mulai menyesuaikan posisi menjelang effective date rebalancing akhir Mei, sehingga memicu passive outflow yang cukup besar. Tekanan itu diperparah oleh sentimen global, mulai dari ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama hingga penguatan dolar AS yang menekan rupiah.

"Situasi ini membuat Dollar AS terus menguat dan menekan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp 17.520 per dolar AS.”

Selain itu, konflik di Timur Tengah dan gangguan distribusi energi akibat krisis Selat Hormuz ikut mendorong harga minyak dunia menembus USD 105 per barel.

Meski begitu, IPOT menilai tekanan saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan rebalancing global, bukan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang masih solid di 5,61%, pasar domestik dinilai tetap memiliki fondasi yang kuat.

 

Proyeksi Pasar Modal Pekan Ini

IHSG melemah sejak awal perdagangan yang dibuka pada level 8.027,82. Berdasarkan data RTI, Kamis (29/1/2026), IHSG sore turun 88,354 poin atau setara 1,06 persen ke posisi 8.232,201. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Untuk pekan ini 18-22 Mei 2026, fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi MSCI Rebalancing menjelang effective date 29 Mei 2026. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.

Namun, menariknya, di balik potensi outflow tersebut, terdapat peluang rotasi inflow menuju saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR.

Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI, yang dalam jangka menengah dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging termasuk Indonesia.

Secara teknikal, IHSG saat ini masih berada dalam fase bearish dengan support berikutnya berada di area 6.640 hingga 6.538. Walaupun indikator mulai menunjukkan tanda awal bearish exhaustion, konfirmasi reversal masih belum terbentuk sehingga strategi defensif tetap menjadi pendekatan yang paling relevan dalam jangka pendek.

Rekomendasi Saham

Penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (4/7/2024) menunjukan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

1.PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Buy BUMI (Entry: 214, Target Price (TP): 242, Stop Loss (SL): <200). Bumi Resources kami rekomendasikan sebagai trading proxy utama untuk memanfaatkan momentum bullish harga batubara dan potensi technical rebound pasca tekanan MSCI rebalancing. 

Imam menuturkan, BUMI berpotensi memperoleh rotasi inflow seiring kemungkinan peningkatan bobot indeks serta didukung sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga energi global di tengah krisis distribusi energi dunia.

2.PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA)

Buy MINA (Entry: 384, Target Price (TP): 384, Stop Loss (SL): <342). Sanurhasta Mitra (MINA) menarik seiring berlanjutnya pertumbuhan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang naik 10,5% YoY pada Maret 2026 dan mencapai 3,44 juta wisatawan sepanjang kuartal I-2026. 

Menurut Imam, peningkatan arus turis, khususnya dari Malaysia, Australia, dan China, berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor hospitality dan lifestyle consumption yang menjadi salah satu eksposur bisnis MINA, sehingga membuka peluang peningkatan permintaan domestik maupun recurring revenue perseroan di tengah pemulihan aktivitas pariwisata nasional.

3.PT RMK Energy Tbk (RMKE)

Buy RMKE (Entry: 3300, Target Price (TP): 3650, Stop Loss (SL): <3110). RMK Energy menarik dicermati sebagai beneficiary dari implementasi Peraturan Gubernur Sumatera yang mewajibkan distribusi batu bara menggunakan jalur hauling khusus dan kereta api, bukan lagi jalan umum. 

Imam mengungkapkan, regulasi ini secara struktural memperkuat positioning RMKE karena perseroan telah memiliki ekosistem logistik batu bara terintegrasi mulai dari hauling road, stasiun muat kereta api, hingga pelabuhan, sehingga berpotensi meningkatkan utilisasi volume dan memperkuat barrier to entry di tengah kebutuhan efisiensi distribusi batu bara nasional.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya