6 Miliarder dengan Total Kekayaan Rp 18.750 Triliun Dampingi Trump ke China

Sejumlah miliarder sekaligus CEO perusahaan AS ikut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke China.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 14 Mei 2026, 17:39 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membawa rombongan elite bisnis dalam kunjungannya ke China pekan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping. (Patrick Pleul/Pool Photo via AP, File)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membawa rombongan elite bisnis termasuk miliarder dalam kunjungannya ke China pekan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Pertemuan ini menjadi summit pertama kedua pemimpin pada masa jabatan kedua Trump, di tengah ketegangan terkait perdagangan, perang di Iran, hingga persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Melansir Yahoo Finance, Kamis (14/5/2026), dalam rombongan tersebut, terdapat enam miliarder dengan total kekayaan gabungan mencapai USD 1,07 triliun atau sekitar Rp 18.750 triliun asumsi kurs Rp 17.523 per dolar AS.

Beberapa tokoh bisnis yang ikut dalam perjalanan ke Beijing antara lain CEO Tesla Elon Musk dengan kekayaan USD 829,8 miliar, CEO Nvidia Jensen Huang senilai USD 195,5 miliar atau setara Rp 3.425 triliun, CEO Blackstone Stephen Schwarzman sebesar USD 39,9 miliar atau setara Rp 699 triliun, CEO Apple Tim Cook dengan kekayaan USD 2,9 miliar atau setara Rp 50,8 triliun, CEO GE Aerospace Larry Culp senilai USD 1,8 miliar atau setara Rp 31,5 triliun, serta CEO BlackRock Larry Fink sebesar USD 1,3 miliar atau setara Rp 22,7 triliun.

Selain mereka, sejumlah CEO papan atas lainnya juga hadir, termasuk CEO Boeing Kelly Ortberg, CEO Goldman Sachs David Solomon, dan CEO Citigroup Jane Fraser. Total ada 17 eksekutif yang mengikuti agenda tersebut.

Trump tiba di Beijing pada Rabu malam waktu setempat dan dijadwalkan bertemu Xi pada Kamis pagi.

Sejumlah perusahaan yang ikut dalam lawatan ini diketahui memiliki kepentingan bisnis besar di China. Nvidia, misalnya, masih menunggu izin dari Washington dan Beijing untuk menjual chip AI canggih ke pasar China. Meski Trump telah menyetujui penjualan model chip lama, pemerintah China sejauh ini belum mengizinkan pembeliannya.

Sementara itu, Boeing disebut hampir menyelesaikan kesepakatan penjualan 500 pesawat jenis Boeing 737 Max yang diperkirakan akan diumumkan bertepatan dengan pertemuan Trump dan Xi.

Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump mengatakan dirinya akan meminta Xi untuk “membuka China agar orang-orang brilian ini bisa menunjukkan kehebatan mereka,” merujuk pada para eksekutif yang ikut dalam rombongan.

 

 

Donald Trump Bakal Bertemu Xi Jinping, Bahas Perang Iran?

Sebelumnya, pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 diperkirakan lebih banyak membahas konflik Iran dibanding isu perdagangan yang selama ini membayangi hubungan kedua negara. Perang di Timur Tengah itu dinilai menyita perhatian Washington dan Beijing, termasuk soal dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global.

Dilansir dari CNBC, Sabtu (9/5/2026), Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah memastikan Iran menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut. Situasi memanas setelah China menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.

Langkah Beijing itu sempat memunculkan optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai. Harga minyak turun, sementara bursa saham menguat seiring harapan meredanya konflik.

Di tengah persiapan pertemuan tingkat tinggi itu, pemerintah AS dikabarkan menolak usulan China untuk menggelar forum khusus antara pejabat senior China dan para CEO perusahaan Amerika Serikat. AS khawatir kedekatan bisnis dengan China akan memunculkan persepsi negatif di dalam negeri.

 

China Masih Jadi Pasar Strategis Citi

Bendera AS dan China berkibar berdampingan (AP/Andy Wong)

Seorang eksekutif AS yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut Gedung Putih hingga kini juga belum resmi mengundang para petinggi perusahaan untuk ikut dalam lawatan Trump ke China. Bahkan, daftar awal yang berisi sekitar dua lusin pemimpin bisnis disebut berpotensi dipangkas.

CEO Boeing, Kelly Ortberg, dilaporkan akan mendampingi Trump dalam kunjungan tersebut. Kehadiran Ortberg dinilai penting karena Boeing tengah berupaya mendapatkan pesanan besar pertama dari China dalam hampir 10 tahun terakhir.

Sementara itu, CEO Citigroup, Jane Fraser, juga mengonfirmasi rencananya ikut dalam rombongan. Menurut Fraser, hubungan antara AS dan China tetap penting bagi dunia usaha.

"Saya pikir sangat penting melihat adanya keterlibatan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia,” ujar Fraser seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (9/5/2026).

Ia menambahkan, China masih menjadi pasar strategis bagi Citigroup. Perusahaan itu telah beroperasi di China selama 124 tahun dan memiliki banyak klien multinasional di negara tersebut.

“Kita semua membutuhkan keterlibatan itu terus berlangsung,” imbuhnya.

Presiden China Terima Sejumlah Kunjungan

Presiden China Xi Jinping. (Dok. AFP)

Sepanjang tahun ini, Xi Jinping tercatat menerima kunjungan sejumlah pemimpin dunia, mulai dari Inggris hingga Korea Selatan, yang sebagian besar datang bersama delegasi bisnis besar. Namun, kalangan korporasi disebut tidak terlalu mempermasalahkan berkurangnya fokus pembahasan ekonomi dalam pertemuan Trump-Xi, selama konflik geopolitik bisa diredakan.

"Dari perspektif Citi, kami sudah berada di China selama 124 tahun. Itu pasar yang sangat penting,” ujarnya. 

"Banyak klien multinasional kami beroperasi di sana. Kami juga melihat banyak perusahaan China tumbuh dan berekspansi secara global yang membawa manfaat bagi semua pihak,” lanjutnya menjelaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya