Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tekanan pasar akibat sentimen rebalancing MSCI dan meningkatnya volatilitas di pasar saham domestik, investor dinilai perlu mulai mengalihkan fokus ke sektor-sektor defensif yang relatif lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Senior Technical Analyst, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan strategi rotasi sektor menjadi langkah yang relevan untuk menjaga portofolio tetap stabil di tengah ketidakpastian.
Advertisement
Dia menuturkan, sektor perbankan berkapitalisasi besar atau big banks masih menjadi pilihan utama karena tetap menjadi penopang likuiditas di pasar modal Indonesia, meskipun bobot Indonesia dalam indeks global mengalami penyesuaian.
“Sektor yang dicermati misalnya dengan volatilitas ini tentunya investor cenderung melakukan rotasi ke sektor yang lebih defensif dan juga tidak terdampak langsung oleh rebalancing MSCI misalnya apa, perbankan, big caps ya mau itu BNI, BRI, Bank Mandiri, BCA meskipun bobot Indonesia turun misalnya tapi kan perbankan tetap menjadi penopang utama likuiditas di IHSG,” ujar Nafan kepada Liputan6.com, Kamis (14/5/2026).
Ia menuturkan, apabila terjadi koreksi lanjutan pada saham-saham bank besar seperti Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia, kondisi itu justru dapat menjadi momentum akumulasi bagi investor jangka menengah hingga panjang.
"Jika terjadi koreksi tentunya ini bisa jadi peluang untuk melakukan akumulasi beli mengingat apa, mengingat fundamentalnya solid lalu juga dividennya juga rajin pembagian dividennya,” jelas Nafan.
Sektor Konsumsi Defensif
Selain perbankan, sektor konsumer defensif juga dinilai menarik untuk dicermati, terutama emiten dengan model bisnis yang stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi indeks.
Saham-saham seperti Indofood CBP Sukses Makmur, Indofood Sukses Makmur, dan Adaro Energy Indonesia dinilai layak masuk radar investor sebagai pilihan defensif di tengah pasar yang masih bergerak fluktuatif.
"Lalu juga di sisi lain, misalnya di sektor consumer yang defensif misalnya ada ICBP maupun juga INDF itu juga termasuk yang resilient, dia terhadap fluktuasi index karena sifat bisnisnya itu relatif stabil lalu juga di sisi lain, juga sektor energi seperti Adaro juga termasuk defensif ya, pergerakan harga sahamnya Adaro dan juga cukup terlihat major uptrend untuk ADRO jadi seperti itu kalau hemat saya,” pungkas Nafan.
Penutupan IHSG pada 13 Mei 2026
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin tertekan pada perdagangan saham Rabu, (13/5/2026) setelah rilis hasil tinjauan indeks MSCI. Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah mayoritas sektor saham memerah dan transaksi harian di bawah Rp 20 triliun.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini anjlok 1,98% menjadi 6.723,32. Indeks saham LQ45 merosot 1,79% menjadi 657,88. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG terpangkas 1,98% dan masih didominasi oleh tekanan jual. Ia menilai, hal itu sejalan dengan mayoritas pergerakan bursa global dan regional Asia yang juga terkoreksi beserta laporan yang disampaikan Rabu pagi. Koreksi IHSG itu dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi di 3,8% Year on Year (YoY).
Ia menilai, rilis data ekonomi itu akan membuat suku bunga the Federal Reserve (the Fed) akan cenderung tinggi untuk jangka lama. “Kedua, memanasnya kondisi geopolitik Amerika Serikat-Iran mengenai gencatan senjata dan juga perundingan yang terjadi,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Sektor Saham
Ketiga, ia mengatakan, rilis rebalancing MSCI Indonesia yang berisiko menimbulkan downweighting dan aliran dana investor asing yang keluar dari pasar Indonesia juga menekan IHSG.
Pada perdagangan saham Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.787,34 dan level terendah 6.705,43. Sebanyak 416 saham melemah sehingga bebani IHSG. 239 saham menguat dan 163 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan saham 2.299.552 kali dengan volume perdagangan saham 38,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 19,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.470.
Dari 11 sektor saham, dua sektor saham menghijau. Sektor saham transportasi naik 4,89%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham industri menanjak 1,26%.
Sementara itu, sektor saham basic melemah 4,43%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi melemah 1,61%, sektor saham consumer nonsiklikal terpangkas 0,44%, sektor saham consumer siklikal terperosok 1,4%.
Lalu sektor saham kesehatan melemah 1,22%, sektor saham Keuangan tergelincir 0,58%, sektor saham properti merosot 0,70%, sektor saham teknologi terpangkas 0,71% dan sektor saham infrastruktur susut 2,72%.