IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Cermati Data Ekonomi Pekan Ini

Berikut sejumlah sentimen global dan domestik yang membayangi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah pekan lalu.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 04 Mei 2026, 08:26 WIB
Sejumlah sentimen baik global dan domestik mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada pekan lalu. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah sentimen global dan domestik mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama sepekan.

Berdasarkan catatan dalam Syailendra Research, bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) kembali mempertahankan fed fund rate (FFR) di level 3,5%-3,75%. Hal ini disebabkan inflasi yang relatif tinggi.

Selain itu, tujuh negara OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi minyak sebesar 188.000 barel per day (bpd) pada Juni 2026. Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pengunduran diri dari OPEC mulai 1 Mei 2026 untuk meningkatkan produksi tanpa hambatan kuota.

Selain itu, dalam Syailendra Research menyebutkan, S&P Global Ratings memperkirakan terjadi perbaikan pendapatan negara pada kuartal I 2026 yang dapat mengendalikan defisif Indonesia kurang dari tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan dibantu dengan efisiensi terutama makan bergizi gratis (MBG).

S&P memperkirakan, pertumbuhan PBD Indonesia mencapai 5% YoY, rupiah berada di kisaran Rp 16.850 per dolar AS, Inflasi naik menjadi 3,2% YoY karena ada kenaikan biaya dan potensi kenaikan suku bunga acuan 50 basis poin (bps).

Selain itu, Syailendra Research menyebutkan, imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sampai ke level 6,21% pada lelang pekan lalu di tengah aksi Bank Indonesia (BI) untik menarik minat investor asing. Hal ini sekaligus diharapkan mendorong penguatan rupiah yang melemah ke 17.350 terhadap dolar AS.

Di tengah sentimen itu, pekan lalu, rupiah melemah terhadap dolar AS sebesar 0,86% ke 17.334. Sementara itu, indeks dolar AS menguat tipis 0,30% menjadi 98. Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,42% menjadi 6.957 dengan aliran dana investor asing yang jeluar USD 323 juta atau Rp 5,59 triliun (asumsi kurs dolar AS 17.320). Di wall street, tiga indeks saham acuan kompak melemah antara lain indeks Nasdaq turun 0,7%, indeks Dow Jones terpangkas 0,7%, dan indeks S&P 500 merosot 0,4%.

 

Data Ekonomi yang Perlu Dicermati

Pernyataan tersebut menanggapi pandangan fraksi terhadap asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen hingga 5,7 persen dalam Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN Tahun 2024. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lalu apa saja yang perlu dicermati pada awal Mei 2026?

4 Mei: Pengumuman Global Manufaktur PMI, neraca perdagangan, inflasi

5 Mei: Pertumbuhan PDB

5 Mei: Neraca perdagangan Amerika Serikat

7 Mei: Klaim pengangguran, data nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran

Penutupan IHSG 30 April 2026

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona merah pada perdagangan saham Kamis, (30/4/2026). Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah seluruh sektor saham yang memerah.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup turun 2,03% menjadi 6.956,80. Indeks saham LQ45 terpangkas 2,16% menjadi 669,34. Seluruh indeks saham acuan tertekan.

Pada perdagangan saham Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.109 dan level terendah 6.878,57. Sebanyak 576 saham melemah sehingga bebani IHSG. 105 saham diam di tempat dan 133 saham menguat. Total frekuensi perdagangan saham 2.664.979 kali dengan volume perdagangan saham 48,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 21,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.324.

Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham industri dan infrastruktur masing-masing merosot 2,95% dan 2,93%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham basic turun 2,9%, sektor saham energi tergelincir 1,08%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 2,19%, sektor saham consumer siklikal terpangkas 1,84%. Lalu sektor saham kesehatan melemah 1,15%, sektor saham keuangan turun 1,73%. Kemudian sektor saham teknologi melemah 0,93% dan sektor saham transportasi merosot 0,80%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya