Liputan6.com, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan gencatan senjata sementara selama 32 jam dalam rangka perayaan Paskah Ortodoks. Langkah ini langsung direspons oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang menyatakan kesiapan Kyiv untuk mematuhi kesepakatan tersebut.
Dalam pernyataan resmi Kremlin pada Kamis (9/4/2026) gencatan senjata akan berlaku mulai pukul 16.00 waktu setempat pada 11 April hingga akhir 12 April, bertepatan dengan perayaan Paskah Ortodoks, dikutip dari laman Koreatimes, Jumat (10/4).
Advertisement
“Berkaitan dengan hari raya Paskah Ortodoks yang akan datang, gencatan senjata diumumkan untuk periode tersebut. Kami mengasumsikan pihak Ukraina akan mengikuti langkah Federasi Rusia,” demikian pernyataan Kremlin.
Perintah penghentian operasi militer disebut telah diteruskan oleh Menteri Pertahanan Rusia kepada Kepala Staf Umum, dengan instruksi agar seluruh pasukan menghentikan aktivitas tempur di semua garis depan. Meski demikian, militer Rusia tetap diminta siaga terhadap potensi provokasi atau serangan balasan.
Pengumuman ini mengingatkan pada langkah serupa tahun lalu, ketika Moskow menetapkan gencatan senjata 30 jam saat Paskah. Namun, implementasinya diwarnai saling tuding pelanggaran antara kedua pihak.
Dari Kyiv, Zelenskyy menyambut langkah tersebut dengan nada hati-hati. Dalam pernyataannya di Telegram, ia menegaskan bahwa Ukraina telah berulang kali mengusulkan penghentian sementara pertempuran selama periode Paskah.
“Ukraina siap mengambil langkah timbal balik. Kami mengusulkan gencatan senjata selama liburan Paskah tahun ini dan akan bertindak sesuai dengan itu,” ujarnya.
Peluang untuk Meredakan Konflik
Ia juga menekankan pentingnya momentum ini sebagai peluang untuk meredakan konflik yang telah berlangsung selama empat tahun. Zelenskyy menyerukan agar Rusia tidak kembali melancarkan serangan setelah periode gencatan senjata berakhir.
“Masyarakat membutuhkan Paskah tanpa ancaman dan langkah nyata menuju perdamaian,” tambahnya.
Sebelumnya, Kyiv telah mengusulkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing pihak selama periode libur keagamaan, sebuah tawaran yang disebut telah disampaikan melalui Amerika Serikat. Namun, Moskow merespons dingin dan lebih menekankan pentingnya solusi jangka panjang dibandingkan jeda sementara.
Gencatan senjata ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang dipimpin Washington untuk mencari penyelesaian konflik Rusia-Ukraina, yang kini turut dibayangi ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik Iran yang semakin memanas.
Meski membuka peluang jeda kemanusiaan, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa implementasi di lapangan tetap menjadi tantangan utama, dengan risiko pelanggaran yang dapat kembali memperkeruh situasi.