Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap NATO, menyusul pertemuan tertutup dengan Sekretaris Jenderal Mark Rutte di Gedung Putih.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform Truth Social tak lama setelah pertemuan, Trump menuding aliansi militer trans-Atlantik itu gagal mendukung Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran.
Advertisement
“NATO tidak ada ketika kita membutuhkan mereka, dan mereka tidak akan ada jika kita membutuhkannya lagi,” tulis Trump, dikutip dari laman BBC, Kamis (9/4/2026).
Pertemuan antara Trump dan Rutte berlangsung lebih dari dua jam pada Rabu (8/4) waktu setempat. Namun, Gedung Putih tidak mengungkapkan secara rinci isi pembicaraan tersebut maupun durasi pasti pertemuan keduanya.
Di tengah meningkatnya ketegangan global, Trump sebelumnya sempat mempertimbangkan untuk menarik Amerika Serikat keluar dari NATO. Opsi itu mencuat setelah sejumlah negara anggota menolak seruan Washington untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, guna menekan lonjakan harga minyak.
Meski demikian, Rutte menggambarkan pertemuan tersebut sebagai dialog yang “sangat jujur” dan “terbuka”, meskipun diwarnai perbedaan pandangan yang signifikan. Dalam wawancara dengan CNN, ia menegaskan bahwa banyak negara Eropa sebenarnya telah memberikan dukungan, termasuk dalam bentuk penyediaan pangkalan militer, logistik, serta penerbangan pengawasan.
“Ini adalah gambaran yang bernuansa,” kata Rutte, menepis anggapan bahwa sekutu sepenuhnya abai terhadap kepentingan Amerika.
Dari pihak Gedung Putih, Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengutip pernyataan Trump yang menyebut NATO “telah diuji dan gagal”. Ia juga menilai negara-negara anggota telah “mengabaikan rakyat Amerika” yang selama ini berkontribusi besar dalam pembiayaan pertahanan mereka.
Upaya Meyakinkan Trump
Upaya Rutte untuk meyakinkan Trump agar tetap mempertahankan komitmen AS terhadap NATO belum menunjukkan hasil pasti. Presiden AS itu disebut masih menyimpan keraguan mendalam terhadap kontribusi dan komitmen negara-negara anggota, terutama dalam konteks operasi militer terbaru terhadap Iran.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali mengancam akan menarik AS dari aliansi yang kini beranggotakan 32 negara tersebut—sebuah langkah yang berpotensi mengguncang arsitektur keamanan global.
Meski demikian, secara hukum langkah tersebut tidak mudah dilakukan. Pada akhir 2023, Kongres AS mengesahkan aturan yang melarang presiden menarik diri dari NATO tanpa persetujuan dua pertiga Senat atau melalui undang-undang Kongres.
Di sisi lain, Rutte justru menilai dunia kini lebih aman dibandingkan sebelum konflik dengan Iran, dan mengaitkannya dengan kepemimpinan Trump dalam menekan ancaman nuklir Teheran. Ia juga menyebut sebagian besar anggota NATO tidak memandang perang tersebut sebagai tindakan ilegal dan sepakat bahwa pembatasan kemampuan nuklir Iran merupakan hal penting.
Namun, hubungan antara Washington dan NATO memang telah lama berada dalam ketegangan, bahkan sebelum konflik Iran. Salah satu pemicunya adalah kontroversi rencana Trump terkait Greenland, yang kembali ia singgung dalam unggahan terbarunya.
“INGAT GREENLAND, bongkahan es besar yang dikelola dengan buruk itu,” tulis Trump, menegaskan kekecewaannya terhadap sekutu-sekutu Eropa.
Dengan meningkatnya eskalasi konflik di Iran, ketegangan antara Amerika Serikat dan NATO kini mencapai titik yang belum pernah terjadi sebelumnya—menguji soliditas aliansi pertahanan tertua di dunia itu di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.