Liputan6.com, Riyadh - Pemerintah Arab Saudi mengumumkan rencana penerbitan paspor resmi untuk unta, sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengelolaan populasi sekaligus memperkuat sektor peternakan yang bernilai ekonomi tinggi.
Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian menyatakan kebijakan ini bertujuan membangun basis data nasional yang akurat, sekaligus meningkatkan efisiensi dan produktivitas di industri unta. Program tersebut juga diharapkan mempermudah pengawasan distribusi dan perdagangan hewan.
Advertisement
Dokumen yang diperkenalkan berbentuk paspor berwarna hijau dengan lambang negara serta ilustrasi unta berwarna emas. Menurut laporan media pemerintah Al Ekhbariya, paspor ini akan berfungsi sebagai identitas resmi yang mengatur pergerakan, kepemilikan, dan transaksi unta di seluruh wilayah kerajaan.
Selain itu, dokumen tersebut juga dirancang untuk melindungi hak pemilik serta memudahkan verifikasi kepemilikan, khususnya dalam aktivitas jual beli dan transportasi antarwilayah, dikutip dari laman NDTV, Selasa (7/4/2026).
Data pemerintah menunjukkan populasi unta di Arab Saudi mencapai sekitar 2,2 juta ekor pada 2024. Selama berabad-abad, hewan ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di Semenanjung Arab, baik sebagai alat transportasi tradisional maupun simbol status sosial.
Kini, unta juga menjadi bagian dari industri modern yang berkembang pesat, termasuk dalam ajang festival tahunan yang menampilkan kontes kecantikan unta. Dalam kompetisi tersebut, unta-unta unggulan dapat terjual hingga ratusan ribu dolar.
Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas juga memperketat pengawasan terhadap praktik kosmetik ilegal pada unta, seperti manipulasi bentuk bibir dan punuk. Pemerintah menilai praktik tersebut bertentangan dengan prinsip pelestarian keaslian dan kesejahteraan hewan.
Menurut laporan Anadolu Agency, paspor unta akan memuat informasi lengkap, mulai dari nomor mikrochip, identitas hewan, ras, jenis kelamin, warna, hingga tempat dan tanggal lahir. Dokumen ini juga dilengkapi foto dari kedua sisi tubuh untuk memastikan akurasi identifikasi.
Selain itu, terdapat catatan vaksinasi yang terdokumentasi secara resmi dan disahkan oleh dokter hewan, termasuk nama, tanda tangan, serta cap otoritas terkait.
Arab Saudi sendiri merupakan salah satu negara dengan populasi dan kepemilikan unta terbesar di dunia, dengan estimasi sekitar 80.000 pemilik. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memodernisasi pengelolaan satwa yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya dan ekonomi kerajaan.