Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung melemah dalam beberapa waktu terakhir. BEI menilai pergerakan IHSG masih berada dalam fase volatilitas yang wajar. Divisi Riset BEI, Anita Kesia Zonebia, melihat kondisi ini belum tentu mencerminkan tren penurunan jangka panjang, melainkan bisa menjadi bagian dari siklus pasar yang dipengaruhi berbagai faktor.
Ia menjelaskan tekanan terhadap IHSG saat ini memang terlihat cukup signifikan. Namun, volatilitas yang terjadi dinilai relatif bersifat sementara karena masih banyak faktor yang berpotensi mendorong penguatan indeks pada masa mendatang.
Advertisement
"Jadi, kalau misalnya kita lihat apakah penurunan ini bersifat sementara, bisa jadi ya, bisa jadi enggak. Tapi memang volatilitas yang saat ini terjadi, yang benar-benar dalam gitu ya, signifikan itu memang relatifly memang bersifat sementara," kata Anita dalam Edukasi Wartawan, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, pasar saham memang kerap mengalami fase naik dan turun, terutama ketika investor menghadapi ketidakpastian global maupun domestik. Kondisi seperti ini biasanya membuat pelaku pasar mengambil sikap lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya.
Investor Cenderung Wait and See Jelang Idul Fitri
Anita mengatakan, menjelang periode libur panjang seperti Idul Fitri, investor biasanya mengambil sikap wait and see. Hal ini terjadi karena sebagian pelaku pasar memilih mengurangi aktivitas perdagangan selama periode liburan yang relatif panjang.
"Memang menjelang lebaran atau menjelang bukan hanya lebaran, tapi hari-hari libur lah ya, gitu ya. Memang investor itu agak sedikit istilahnya wait and see. Apalagi itu di tengah-tengah volatilitas yang seperti ini. Mungkin nahan dulu deh kayak gitu. Karena ini takut ini periode liburan lumayan panjang nih," ujarnya.
Dalam situasi tersebut, tidak sedikit investor yang memilih menahan transaksi saham terlebih dahulu. Sebagian dari mereka bahkan mengalihkan aset ke instrumen yang dinilai memiliki risiko lebih rendah atau volatilitas yang lebih kecil.
Periode Libur Berakhir Perdagangan Meningkat Kembali
Namun, setelah periode liburan berakhir, aktivitas perdagangan biasanya kembali meningkat. Investor yang sebelumnya menahan diri berpotensi kembali masuk ke pasar untuk melakukan transaksi, sehingga dapat memberikan dorongan terhadap pergerakan IHSG.
"Jadi, mereka alokasikan dulu saja mungkin asetnya ke mungkin aset-aset yang dianggap lebih less risk, gitu ya, atau less volatile, gitu ya. Nah kemudian nanti setelah mungkin melewati libur itu, gitu ya, mungkin akan lebih, ada lagi dorongan untuk kemudian masuk dan kemudian bertransaksi lagi. Itu bisa jadi terjadi," ujarnya.
Selain faktor musiman tersebut, fundamental domestik juga dinilai masih cukup kuat untuk menopang pasar saham. Kondisi ekonomi yang relatif baik, pertumbuhan jumlah investor yang terus meningkat, serta valuasi price to earnings (PE) yang masih menarik menjadi faktor yang berpotensi meningkatkan minat investor.
Penutupan IHSG pada 12 Maret 2026
, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir 0,37% ke posisi 7.362,11. Indeks saham LQ45 merosot 0,14% ke posisi 751,18. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.
Pada perdagangan Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.436,49 dan level terendah 7.323,74. Sebanyak 461 saham melemah dan 211 saham menguat. 149 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.610.561 kali dengan volume perdagangan saham 26,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 13,4 triliun.