Iran Sebut Trump Sebarkan Kebohongan Besar Jelang Perundingan Nuklir di Jenewa

Kebohongan apa yang dimaksudkan oleh Iran? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 26 Februari 2026, 07:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan sidang gabungan Kongres di Gedung Capitol, Washington, Selasa (24/2/2026). (Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Teheran - Iran pada Rabu (25/2/2026) menolak tekanan yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjelang perundingan putaran ketiga antara kedua pihak di Jenewa, Swiss, terkait program nuklir Iran. Dua pejabat Iran secara bergantian menyebut pernyataan Trump sebagai "kebohongan".

Ketegangan meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah AS mengerahkan sejumlah besar pesawat tempur dan kapal perang ke Timur Tengah—pengerahan militer terbesar dalam beberapa dekade terakhir. 

Pengerahan militer ini merupakan bagian dari upaya Trump untuk menekan Iran agar menyetujui pembatasan program nuklirnya. Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika perundingan gagal.

Negara-negara di kawasan Timur Tengah mengkhawatirkan bahwa serangan semacam itu dapat memicu perang regional baru, terlebih konflik Israel-Hamas yang telah berlangsung bertahun-tahun masih menyisakan ketegangan.

Iran sebelumnya menyatakan bahwa seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah akan dianggap sebagai target yang sah apabila terjadi serangan, sehingga puluhan ribu personel militer AS di kawasan tersebut berisiko terdampak.

Foto satelit yang diambil Selasa (24/2) oleh Planet Labs PBC dan dianalisis oleh Associated Press menunjukkan kapal-kapal AS yang biasanya bersandar di Bahrain—markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS—tidak berada di pelabuhan dan telah berlayar ke laut lepas. Armada ke-5 merujuk pertanyaan kepada Komando Pusat Militer AS, yang menolak berkomentar.

Sebelum serangan Iran terhadap Qatar pada Juni 2025, Armada ke-5 juga memindahkan kapal-kapalnya ke laut sebagai langkah perlindungan dari potensi serangan.

 

 

Pernyataan Trump dalam Pidato Kenegaraan

Trump menyinggung Iran dan perundingan nuklir dalam pidato kenegaraannya di Washington pada Selasa (24/2) malam.

Menurut Trump, Iran telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan militer AS di luar negeri, serta sedang mengembangkan rudal yang kelak mampu menjangkau wilayah AS.

"Mereka telah diperingatkan untuk tidak mencoba membangun kembali program senjata mereka, khususnya senjata nuklir, namun mereka terus melakukannya. Mereka memulainya kembali dari awal," kata Trump seperti dikutip dari Associated Press.

Analisis foto satelit sebelumnya oleh AP menunjukkan Iran mulai membangun kembali fasilitas produksi rudalnya dan melakukan sejumlah pekerjaan di tiga lokasi nuklir yang diserang AS pada Juni lalu. Iran selama ini menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.

Negara-negara Barat dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan Iran memiliki program senjata nuklir hingga 2003. Sebelum serangan pada Juni, Iran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen, hanya satu langkah teknis menuju tingkat 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

"Kebohongan Besar"

Menanggapi pidato Trump, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membandingkan Trump dengan Joseph Goebbels, menteri propaganda Adolf Hitler. Ia menuduh Trump dan pemerintahannya menjalankan kampanye disinformasi dan misinformasi terhadap Iran.

"Apa pun yang mereka tuduhkan terkait program nuklir Iran, rudal balistik Iran, dan jumlah korban dalam kerusuhan Januari hanyalah pengulangan 'kebohongan besar'," tulis Baghaei di platform X.

Dalam pidatonya, Trump menyebut sedikitnya 32.000 orang tewas dalam protes bulan lalu. Angka itu merupakan estimasi tertinggi yang disampaikan para aktivis. Human Rights Activist News Agency yang berbasis di AS mencatat lebih dari 7.000 korban tewas dan meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.

Namun, pemerintah Iran pada 21 Januari menyatakan 3.117 orang tewas. Itu merupakan satu-satunya angka resmi yang dirilis sejauh ini.

Sikap Parlemen Iran: Diplomasi atau Konsekuensi

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan AS memiliki dua pilihan: diplomasi atau menghadapi konsekuensi.

"Jika Anda memilih meja diplomasi—diplomasi yang menghormati martabat bangsa Iran dan kepentingan bersama—kami akan berada di meja itu," ujar Qalibaf, seperti dikutip Student News Network, media yang diyakini dekat dengan pasukan Basij, bagian dari Garda Revolusi Iran.

"Namun jika Anda memutuskan untuk mengulangi pengalaman masa lalu melalui penipuan, kebohongan, analisis keliru, dan informasi palsu, serta melancarkan serangan di tengah perundingan, Anda pasti akan merasakan pukulan tegas dari bangsa Iran dan kekuatan pertahanan negara."

Perundingan di Jenewa dan Ketidakpastian ke Depan

Putaran ketiga perundingan Iran dan AS dijadwalkan berlangsung Kamis (26/2) di Jenewa dengan mediasi Oman, yang selama ini menjadi perantara antara Iran dan negara-negara Barat. Pesawat yang membawa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan timnya tiba di Jenewa pada Rabu malam. 

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

"Itu akan menjadi tujuan militer utama jika itu jalur yang dipilihnya," kata Vance kepada Fox News.

Ia menambahkan Trump lebih memilih penyelesaian melalui diplomasi, namun siap menggunakan kekuatan militer jika diperlukan.

"Sebagian besar warga AS memahami bahwa Anda tidak bisa membiarkan rezim paling gila dan paling buruk di dunia memiliki senjata nuklir," ujar Vance.

Saat ditanya apakah penggulingan pemimpin tertinggi Iran turut menjadi tujuan, Vance mengatakan Trump akan membuat keputusan tentang bagaimana memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Jika perundingan gagal, waktu kemungkinan serangan masih belum jelas. Jika tujuan aksi militer adalah menekan Iran agar membuat konsesi dalam perundingan nuklir, belum dapat dipastikan apakah serangan terbatas akan efektif. Namun jika tujuannya adalah mengganti kepemimpinan Iran, hal itu kemungkinan akan menyeret AS ke dalam kampanye militer yang lebih besar dan berkepanjangan.

Status terkini program nuklir Iran belum jelas. Trump tahun lalu menyatakan serangan AS telah menghancurkan sepenuhnya program tersebut. Namun kini pembongkaran sisa-sisa program nuklir Iran kembali menjadi agenda pemerintahan AS.

Inspektur IAEA belum diizinkan mengunjungi lokasi yang diserang untuk memverifikasi kondisi sebenarnya.

Ketidakpastian juga menyelimuti dampak militer yang mungkin terjadi terhadap kawasan yang lebih luas. Iran dapat membalas dengan menyerang negara-negara Teluk Persia sekutu AS atau Israel. Kekhawatiran tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya