Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah sentimen akan bayangi wall street pekan ini, salah satunya data ekonomi Amerika Serikat (AS). Laporan pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Jumat akan menjadi perhatian utama pada kalender data ekonomi pekan ini. Data ekonomi itu akan memberikan investor gambaran tentang pengeluaran konsumen pada Desember yang penuh dengan belanja saat libur dan hambaran inflasi.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (17/2/2026), data ini muncul setelah angka Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pekan lalu menunjukkan inflasi melambat lebih dari yang diperkirakan pada Januari.
Advertisement
Investor juga akan mendapatkan gambaran tentang sentimen pasar dari Universitas Michigan pada Jumat, indikator kunci tentang bagaimana suasana konsumen selaras dengan data pengeluaran riil. Awal bulan ini, data tersebut bergerak ke level tertinggi sejak Agustus, tetapi tetap tertekan dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, perhatian pelaku pasar juga akan fokus pada laporan keuangan Walmart pada Kamis, indikator kuat pengeluaran konsumen. Laporan itu menandai laporan pertama bagi CEO baru Walmart John Furner.
Haisl penting lainnya termasuk laporan keuangan dari DoorDash dan Molson Coors sera beberapa perusahaan yang akan memberikan sinyal tentang bagaimana permintaan data artificial intelligence (AI) mengubah bisnis energi dengan Constellation Energy (CEG), Energy Transfer (ET) dan Southern Company yang akan melaporkan hasilnya. Adapun pasar saham Amerika Serikat tutup pada Senin untuk Hari Presiden.
Aksi Jual
Penjualan besar-besaran yang dimulai pada awal Februari dan menyebabkan saham perusahaan perangkat lunak terkemuka seperti Salesforce dan ServiceNow anjlok telah berubah menjadi masalah pasar yang berpindah dari sektor ke sektor. Saham terus merosot setiap kali ada indikasi alat AI baru dapat menganggu bisnis intinya.
Saham-saham perusahaan teknologi besar juga merosot. Saham Nvidia, Alphabet dan Amazon semua melemah pada Jumat pekan lalu. Bahkan saat proyeksi pengeluaran dari perusahaan-perusahaan terbesar di negara itu telah naik pesat.
"Penurunan harga saham yang dipicu oleh disrupsi AI pada bulan Februari" didorong oleh keyakinan yang sah bahwa perubahan yang didorong oleh AI akan datang lebih cepat, tidak hanya pada perangkat lunak, tetapi juga pada banyak sektor lainnya," tulis ahli strategi UBS, Matthew Mish.
"Waktu terjadinya disrupsi AI masih belum pasti, dan kabut ketidakpastian ini kemungkinan tidak akan segera hilang," ia menambahkan.
Saham-saham perangkat lunak masih menjadi sasaran. Saham AppLovin (APP) turun 18% setelah pendapatan perusahaan mengecewakan minggu ini, dan saham Pinterest (PINS) turun 21% setelah hasil perusahaan tersebut.
Wall Street Pekan Lalu
Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. Pergerakan wall street salah satunya didorong rilis laporan inflasi konsumen yang sedikit lebih rendah dari perkiraan. Di antara tiga indeks acuan di bursa saham AS, indeks Nasdaq melemah sendirian.
Mengutip CNBC, Sabtu (14/2/2026), indeks S&P 500 naik 0,05% dan ditutup ke posisi 6.836,17. Indeks Nasdaq turun 0,22% dan ditutup ke posisi 22.546,67. Indeks Dow Jones menguat 48,95 poin atau 0,10% dan ditutup ke posisi 49.500,93.
Selama sepekan, indeks S&P 500 melemah 1,4%. Indeks Dow Jones susut 1,2% dan Nasdaq terpangkas 2,1%.
Adapun Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan indeks harga konsumen yang mengukur biaya barang dan jasa dalam ekonomi AS naik 0,2% pada Januari mencerminkan kenaikan 2,4% secara tahunan.
Indikator inflasi akan menunjukkan kenaikan 0,3% secara bulanan dan kenaikan 2,5% dari tahun sebelumnya, menurut ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. Jika tidak memperhitungkan fluktasi harga pangan dan energi, Consumer Price Index (CPI) inti sesuai harapan yakni 0,3% per bulan dan 2,5% per tahun.
“Ini seharusnya menjadi kabar baik bagi pasar dan calon Ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh,” ujar Osaic Chief Market Strategist, Phil Blancato.
“Ini hanya data satu bulan, tetapi jika tren berlanjut, hal itu akan membuka jalan bagi penurunan suku bunga dan terkendalinya inflasi,” ia menambahkan.
Sementara itu, Keith Buchanan dari Globalt Investments menuturkan, inflasi juga tidak terlepas dari kekhawatiran yang ada di kalangan investor kalau kecerdasan buatan akan menganggu potensi pendapatan di berbagai industri.
Kekhawatiran Gangguan AI
Ia menuturkan, meski data CPI pada Jumat pekan ini tidak ada hubungannya dengan apa yang diantisipasi pasar terkait gangguan industri, pasar masih mencoba memahami apa arti sebenarnya dari AI dan implementasinya di seluruh perekonomian. Ia mencatat, hal itu menciptakan tekanan ke atas pada pengangguran dan tekanan ke bawah pada inflasi.
“Bagaimana kita bisa berpikir semua orang akan menang dan tidak akan ada yang kalah,” ujar dia.
Kekhawatiran akan gangguan AI mengguncang pasar pekan ini dan menyebar melampaui aksi jual yang terlihat di sektor perangkat lunak dan meluas ke sektor properti, transportasi dan jasa keuangan.
Saham keuangan Charles Schwab dan Morgan Stanley masing-masing turun 10,8% dan 4,9% pekan ini. Sementara itu, saham Workday merosot 11%. Saham CBRE melemah 16% pada pekan ini.