Kanselir Jerman Peringatkan: Tatanan Dunia Berbasis Aturan Tak Lagi Ada

Di tengah meningkatnya persaingan antarnegara besar, kanselir Jerman menilai bahwa kebebasan yang selama ini dianggap terjamin kini kian berada dalam ancaman.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 14 Februari 2026, 16:18 WIB
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan pidato pada peresmian resmi brigade Jerman untuk sayap timur NATO di Vilnius, Lithuania, Kamis (22/5/2025). (Dok. AP/Mindaugas Kulbis)

Liputan6.com, Berlin - Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Jumat (13/2/2026) memperingatkan bahwa tatanan dunia berbasis aturan, yang selama ini menjadi fondasi hubungan internasional, kini tidak lagi berlaku seperti sebelumnya. Peringatan itu ia sampaikan dalam Konferensi Keamanan Munich (Munich Security Conference).

Saat membuka konferensi, Merz seperti dikutip dari laporan BBC menuturkan kepada para pemimpin dunia bahwa "kebebasan kita tidak terjamin" di era persaingan kekuatan besar dan negara-negara Eropa harus siap melakukan "pengorbanan", menyiratkan pada peningkatan anggaran pertahanan, yang bisa berdampak pada prioritas belanja negara. 

Konferensi ini berlangsung dengan latar belakang pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam kedaulatan Denmark atas Greenland. Trump berjanji akan mencaplok wilayah Arktik itu dan memberlakukan tarif atas impor dari sejumlah negara Eropa yang mendukung Denmark.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang turut mendengarkan pidato Merz, sebelumnya menyebut situasi global saat ini sebagai era baru dalam geopolitik.

Pertahanan Eropa serta masa depan hubungan transatlantik menjadi pokok pembahasan utama Konferensi Keamanan Munich 2026.

Pertemuan ini juga digelar di tengah pertanyaan mengenai komitmen AS terhadap aliansi militer NATO. Ambisi Trump untuk mengakuisisi Greenland dipandang oleh banyak pemimpin Eropa sebagai momen penting yang mengikis kepercayaan terhadap sekutu terbesar mereka.

Trump sendiri mengatakan kepada para wartawan di luar Gedung Putih pada Jumat, "Greenland pada akhirnya akan menginginkan kami. Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Eropa. Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Saat ini kami sedang bernegosiasi terkait Greenland."

Selain itu, perang Rusia-Ukraina, ketegangan antara Barat dan China, serta kemungkinan kesepakatan nuklir antara Iran dan AS juga masuk dalam agenda pertemuan tahunan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbedaan Nilai

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert)

Merujuk pada berbagai peringatan bahwa tatanan berbasis aturan sedang runtuh, Merz mengatakan kepada peserta konferensi, "Saya khawatir kita harus mengatakannya lebih tegas: tatanan ini, betapapun tidak sempurnanya bahkan pada masa terbaiknya, tidak lagi ada dalam bentuk tersebut."

Ia kembali menegaskan, "Sebuah retakan, sebuah jurang pemisah yang dalam telah terbuka antara Eropa dan AS. Wakil Presiden JD Vance mengatakan hal ini secara terbuka di sini di Munich setahun lalu."

Merz melanjutkan, "Dia benar. Perang budaya gerakan MAGA (Make America Great Again) bukanlah milik kami. Kebebasan berbicara di sini berakhir ketika ucapan tersebut bertentangan dengan martabat manusia dan konstitusi. Kami tidak percaya pada tarif dan proteksionisme, tetapi pada perdagangan bebas."

Tahun lalu, Vance mengkritik Eropa, termasuk Inggris, terkait kebijakan mengenai kebebasan berbicara dan imigrasi. Pidatonya memicu ketegangan transatlantik selama setahun yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meski demikian, Merz tidak menutup kemungkinan kelanjutan kemitraan yang telah terjalin selama puluhan tahun tersebut. Ia justru menyerukan secara langsung kepada AS, "Mari kita perbaiki dan hidupkan kembali kepercayaan transatlantik."

Pemimpin Jerman itu juga mengungkapkan bahwa "pembicaraan rahasia" tengah berlangsung dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai pembentukan penangkal nuklir bersama Eropa. Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Prancis dan Inggris merupakan dua negara di Eropa yang memiliki senjata nuklir. Sementara itu, Jerman dan banyak negara Eropa lainnya selama ini mengandalkan payung nuklir AS dalam kerangka aliansi NATO sebagai penangkal.

Dalam pidatonya kemudian pada Jumat, Macron kembali menyerukan agar Eropa belajar menjadi kekuatan geopolitik dalam konteks global yang baru.

Ia mengatakan Eropa telah memperkuat kemampuan militernya sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022. Namun, ia menekankan bahwa langkah tersebut harus dipercepat dan dilakukan secara kolektif di seluruh benua. 

Dengan menggambarkan perang di Ukraina sebagai "tantangan eksistensial" bagi Eropa, Macron mendesak agar tidak menyerah pada tuntutan Rusia, melainkan meningkatkan tekanan terhadap Moskow demi mencapai perdamaian yang adil.

Menjelang konferensi Munich, Rubio memperingatkan bahwa "dunia sedang berubah dengan sangat cepat" ketika ditanya apakah pesannya kepada negara-negara Eropa akan lebih bersifat mendamaikan dibandingkan pidato Vance setahun lalu. 

"Kita hidup di era baru dalam geopolitik dan hal itu menuntut kita semua untuk meninjau kembali seperti apa bentuknya dan apa peran kita nantinya," bebernya.

Ketegangan meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah Trump berulang kali menyatakan bahwa Greenland sangat penting bagi keamanan nasional AS. Ia menyebut, tanpa memberikan bukti, bahwa wilayah tersebut dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen sebelumnya pada hari yang sama menyatakan bahwa ia berencana bertemu dengan Rubio untuk membahas ancaman AS yang ingin merebut Greenland dari sekutu NATO tersebut.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya