Moody’s Pangkas Sejumlah Outlook Emiten RI, Ini Daftarnya

Moody’s Ratings mengubah prospek (outlook) menjadi negatif terhadap sejumlah emiten di Indonesia

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 11 Februari 2026, 10:20 WIB
Moody’s Ratings mengubah prospek (outlook) menjadi negatif terhadap sejumlah emiten di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Moody’s Ratings mengubah prospek (outlook) menjadi negatif terhadap sejumlah emiten di Indonesia. Keputusan ini diambil setelah lembaga pemeringkat tersebut menegaskan peringkat utang pemerintah Indonesia di level Baa2, sekaligus merevisi outlook sovereign menjadi negatif pada 5 Februari 2026.

Langkah tersebut turut menyeret sejumlah korporasi besar Tanah Air yang peringkat kreditnya memiliki keterkaitan erat dengan profil risiko Indonesia. Meski sebagian besar peringkat ditegaskan, perubahan outlook mencerminkan meningkatnya tekanan risiko makro dan kebijakan yang dapat memengaruhi kinerja kredit emiten ke depan.

Emiten Non-Keuangan

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

Moody’s menilai ICBP tetap ditopang posisi dominan di pasar mi instan domestik serta ekspansi geografis yang memperkuat diversifikasi pendapatan. Profil keuangan yang konservatif dan likuiditas yang kuat juga menjadi penopang utama kualitas kredit perseroan.

PT United Tractors Tbk (UNTR)

United Tractors dinilai memiliki fondasi kuat dari bisnis alat berat dan jasa pertambangan dengan dukungan likuiditas yang sangat baik. Namun, Moody’s menyoroti kerentanan terhadap siklus industri komoditas serta risiko dari diversifikasi usaha yang dapat memengaruhi stabilitas kinerja.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

Moody’s menilai Telkom memiliki kualitas kredit mandiri yang kuat, posisi pasar dominan, serta profil keuangan yang solid. Meski demikian, ruang kenaikan peringkat dinilai terbatas karena posisi rating Telkom saat ini sudah berada satu tingkat di atas peringkat Indonesia.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

Moody’s merevisi outlook PGN menjadi negatif dari sebelumnya stabil, sejalan dengan perubahan outlook sovereign Indonesia. Lembaga pemeringkat menegaskan kembali peringkat kredit PGN di level Baa2 untuk issuer rating serta baa2 untuk baseline credit assessment (BCA).

 

Perubahan Outlook

Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Perubahan outlook ini mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia, yang dinilai mengalami penurunan dari sisi konsistensi, prediktabilitas, serta efektivitas komunikasi kebijakan dalam setahun terakhir. Jika kondisi tersebut berlanjut, dikhawatirkan dapat mengikis fondasi stabilitas makroekonomi yang selama ini menopang pertumbuhan.

Dari sisi fundamental, Moody’s menilai BCA PGN tetap didukung proyeksi kinerja keuangan yang kuat dalam dua hingga tiga tahun mendatang, posisi dominan sebagai perusahaan transmisi dan distribusi gas terbesar di Indonesia, serta rekam jejak operasional yang solid. Rasio retained cash flow (RCF) terhadap utang PGN tercatat meningkat menjadi 43% pada 2024 dari 39% pada 2023, dan berada di kisaran 42% hingga September 2025.

Bisnis inti transmisi dan distribusi gas diperkirakan tetap menjadi penopang utama, meski ada potensi tekanan dari penurunan alamiah pasokan gas serta kebijakan batas harga gas. Moody’s memperkirakan metrik kredit PGN tetap kuat berkat pengelolaan utang yang prudent dan posisi kas memadai.

Dalam jangka menengah, belanja modal PGN untuk pengembangan jaringan gas dan kapasitas LNG dinilai masih dapat dikelola, didukung pengalaman perusahaan dalam eksekusi proyek. Namun, peluang kenaikan peringkat dinilai terbatas selama outlook sovereign Indonesia masih negatif.

 

Sektor Perbankan

Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG melemah 8,0 persen ke level 7.654,66. Tampak dalam foto, pengunjung berfoto di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Selain korporasi non-keuangan, Moody’s juga mengubah outlook lima bank besar di Indonesia menjadi negatif dari stabil.

Kelima bank tersebut adalah:

  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  • PT Bank Central Asia Tbk
  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk

Moody’s menegaskan berbagai peringkat untuk kelima bank tersebut, termasuk peringkat penerbit, utang senior tanpa jaminan, peringkat simpanan, hingga baseline credit assessment (BCA). Penegasan juga mencakup instrumen subordinasi dan program pendanaan tertentu di sejumlah bank.

Revisi outlook sektor perbankan terutama mencerminkan perubahan outlook sovereign Indonesia. Moody’s menilai meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan dapat berdampak pada lingkungan operasional perbankan, terutama jika tren penurunan efektivitas dan konsistensi kebijakan berlanjut.

Meski demikian, penegasan peringkat Indonesia di level Baa2 tetap mempertimbangkan ketahanan ekonomi yang didukung faktor struktural seperti kekayaan sumber daya alam dan demografi yang kuat, yang menopang pertumbuhan PDB relatif stabil. Faktor-faktor tersebut juga menjadi penopang utama profil kredit industri perbankan nasional di tengah tekanan outlook negatif.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya