Kaesang Tolak Laporan 'Asal Bapak Senang', PSI: Struktur Partai Jadi Kunci Kemenangan 2029

Menurut Faldo, cara berpikir Kaesang sebagai ketua umum didasarkan pada logika kemenangan elektoral.

oleh Tim NewsDiterbitkan 29 Januari 2026, 15:33 WIB
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep di Rakernas PSI di Makassar, Sulawasi Selatan. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep yang menolak laporan ABS atau asal bos senang.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar.

Ketua Bidang Komunikasi Publik DPP PSI, Faldo Maldini mengatakan, Kaesang menekankan pentingnya restrukturisasi partai yang dapat diukur secara nyata, bukan sekadar laporan normatif tanpa substansi.

"Mas Kaesang menegaskan kembali bahwa pentingnya partai memiliki struktur yang kuat. Jadi, langkah ini sangat logis, ya,” katanya di Makassar, Kamis (29/01/2026).

Menurut Faldo, cara berpikir Kaesang sebagai ketua umum didasarkan pada logika kemenangan elektoral. Tanpa struktur yang jelas dan solid, mustahil suatu partai meraih hasil maksimal dalam Pemilu 2029 mendatang.

Selain itu, dia menambahkan, penolakan terhadap praktik ABS menjadi penegasan kekuatan partai harus dibangun dari data dan kinerja yang terukur. Struktur partai, kata Faldo, bukan sesuatu yang bisa direkayasa lewat laporan deskriptif semata.

"Makanya beliau juga bilang jangan tipu-tipu asal bos senang, karena sesuatu yang namanya struktur itu bisa diukur kuantitatif, bukan deskriptif,” tegasnya.

 

Target Lolos

Ketua DPP PSI Bidang Komunikasi Publik Faldo Maldini. (Istimewa)

Faldo menilai pidato tersebut mencerminkan kepemimpinan Kaesang yang ingin membawa PSI ke fase baru.

Meski bukan lagi partai baru, PSI tengah menjalani proses transformasi serius di bawah kepemimpinan Ketua Umum terpilih hasil Pemilu Raya internal.

"Alasan kenapa PSI lolos, ya harus ada orangnya ada strukturnya, ada kadernya dan pengurusnya. Enggak akan mungkin menang sebuah partai kalau tanpa itu semua,” tutup Faldo.

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2016 lebih buruk daripada 2015 (liputan6/abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya