Program MBG Bisa Jadi Instrumen Pengendali Harga

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang menuturkan, salah satu misi Program MBG adalah mengendalikan harga bahan baku pangan.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 16 Desember 2025, 20:45 WIB
Pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yasmin, Kota Bogor, Kamis (9/10/2025). (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Para Ahli Gizi di setiap Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) harus kreatif dalam menyusun menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain harus sesuai dengan kandungan gizi, Ahli Gizi juga perlu memahami harga bahan baku pangan, sehingga dapat memilih bahan baku pangan yang bagus dengan harga terjangkau. Dengan pemahaman ini, program MBG bisa menjadi instrumen pengendali harga bahan baku pangan di tengah masyarakat.

Karena itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang meminta agar para Ahli Gizi yang bertugas di dapur-dapur MBG untuk tidak hanya sekadar textbook minded, yakni hanya memakai bahan baku pangan yang itu-itu saja, dan sekadar mencontoh dari buku-buku acuan, sementara saat itu justru terjadi kelangkaan bahan baku.

“Pemakaian terbesar adalah pakcoy, wortel, buncis, kacang, kemudian selada, timun kadang-kadang. Kalau Anda hanya di situ mengukurnya, hanya text book saja, maka akan terjadi kelangkaan produk-produk tadi dan harganya akan melejit,” ujar Nanik dalam pengarahannya di acara Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola MBG serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu, 14 Desember 2025, dikutip Selasa (16/12/2025).

Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Kementerian/Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu meminta para Ahli Gizi menghitung kandungan gizi bahan baku pangan apa saja yang mirip dengan bahan baku pangan di buku acuan. "Jangan sampai mereka menyusun menu yang itu-itu saja. Sebab, pemakaian terus-menerus dalam jumlah banyak bisa memicu lonjakan harga," ujar dia.

 

Nasib Petani Dapat Tertolong

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang mengimbau Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) untuk tidak memakai makanan buatan pabrik untuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: BGN.

Padahal dengan Program MBG, seharusnya nasib petani bisa tertolong. “Saat harga kentang turun, petani Wonosobo nangis, petani di Bandung itu nagis, Saya minta ke Pak Sony (Waka BGN Sony Sonjaya), instruksikan seluruh Ka SPPG menggunakan kentang. Pernah kan? Akhirnya harga kentang bisa naik. Sebaliknya kalau anda lihat harga di pasar sudah tinggi, tinggalkan. Pakai produk yang lain, supaya harga itu tidak terus tinggi,” ujar Nanik. 

Menurut Nanik, salah satu misi dari Program MBG adalah mengendalikan harga bahan baku pangan di pasaran. Sebab, jika harga bahan baku pangan tidak dikendalikan maka akan terjadi inflasi. “Ahli Gizi, tolong diperhatikan, ya. Kita punya misi untuk menstabilkan harga komonnditas, agar tidak melejit dan juga agar tidak terlalu jatuh,” kata Nanik.

Badan Gizi Nasional Dorong Setiap SPPG Beri Edukasi Gizi bagi Penerima MBG

Paket MBG dari Dapur Kebayunan akan distribusikan ke-39 sekolah dari PAUD hingga SLTA, juga ibu hamil dan menyusui se-kota Depok. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang meminta Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) memberikan edukasi gizi untuk para penerima manfat Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala SPPG juga diminta untuk secara langsung memberikan pendidikan gizi ke sekolah-sekolah. Mereka bisa tampil bersama para guru sekolah untuk menjelaskan tentang makanan bergizi bagi pertumbuhan para siswa.

“Minta waktu satu jam menjadi guru di kelas. Nanti ganti ke kelas berikutnya, di kelas lain. Jelaskan soal pentingnya makan bergizi,” kata Nanik dalam Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu, 14 Desember 2025.

SPPG juga bisa bekerja sama dengan Tenaga Ahli Kesehatan di Puskesmas, Kader Posyandu, serta Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu hamil, ibu-ibu menyusui dan balita. Mereka pun bisa bekerja sama dengan lurah untuk membuat forum pertemuan di desa-desa untuk penyuluhan gizi, dan menjelaskan apa itu MBG.

Nanik sangat mengapresiasi kepala SPPG, akuntan, ahli gizi, mitra, serta relawan dapur yang kreatif dalam merancang berbagai cara dalam upaya pendidikan gizi bagi anak-anak. Misalnya untuk mendorong minat anak-anak makan sayuran, pengantar hidangan MBG memakai kostum tokoh komik yang disukai anak-anak, membawakan bonus jajanan sehat, maupun memberi hadiah-hadiah untuk anak-anak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya