Menko Airlangga Prediksi Ekonomi 2026 Bakal Cerah

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, fondasi ekonomi akhir 2025 mulai menguat, sehingga diharapkan percepatan ekonomi 2026.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 01 Desember 2025, 16:55 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Pimpinan Nasional 2025, di Park Hyatt, Jakarta, Senin (1/12/2025). (Liputan6.com/Tira)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tahun 2025 sebagai whirlwind year atau tahun penuh putaran gejolak.  Menurut dia, rangkaian krisis global saling bertumpuk dan menciptakan tekanan besar bagi ekonomi dunia.

Perang tarif antara negara besar, konflik Israel–Iran, krisis berkepanjangan di Gaza, serta perang Rusia–Ukraina menjadi penyebab utama tingginya ketidakpastian.

"Tahun 2025 ini adalah tahun kita sebut whirlwind year. Kita lihat di tahun penuh ketidakpastian ini kita sebut juga sebagai headwind. Berbagai gejolak terutama di tahun ini adalah gejolak akibat perang tarif, kemudian Perang Israel dengan Iran, Gaza belum selesai, kemudian juga Ukraina belum selesai,” ujar Airlangga dalam Rapat Pimpinan Nasional KADIN, di Park Hyatt, Jakarta, Senin (1/12/2025).

Namun, di tengah tekanan tersebut, Indonesia dinilai mampu menjaga daya tahan ekonomi. Stabilitas makro terjaga, konsumsi tetap positif, dan nilai tukar relatif lebih stabil dibandingkan banyak negara emerging lainnya. 

Airlangga menegaskan bahwa fundamental ekonomi RI cukup kuat untuk menghadapi gejolak global yang masih belum menunjukkan tanda mereda.

"Kita melihat ekonomi sebetulnya sudah kita restart dengan di kuartal ketiga antara lain tingkat suku bunga mulai dipotong dan BI memotong tingkat suku bunga 125 basis point tahun ini dan ini juga mendorong perekonomian sudah mulai di restart,” ujarnya.

 

Sinyal Pemulihan Muncul Ekonomi RI Mulai “Restart” Jelang 2026

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat Rapat Pimpinan Nasional KADIN, di Park Hyatt, Jakarta, Senin (1/12/2025). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Meski 2025 penuh tantangan, Airlangga menyampaikan bahwa proses restart ekonomi Indonesia sudah terlihat sejak kuartal III. Menurut dia, kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang agresif yang dilakukan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang menggelontorkan dana sekitar Rp 200 triliun mampu mendorong penguatan ekonomi dalam negeri.

Dampaknya mulai terlihat pada kenaikan aktivitas manufaktur nasional. Purchasing Managers’ Index (PMI) kembali ekspansif dan pada November mencapai 53,3 level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Permintaan dalam negeri juga meningkat, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang mencapai 121,2 serta Mandiri Spending Index yang menembus 312.

"Kita lihat aktivitas manufaktur ekspansif dan impresif. Tahun ini sudah naik ke 53,3 per November hari ini diumumkan artinya ini akibat dari permintaan dalam negeri yang cukup tinggi, kemudian kita lihat indeks keyakinan konsumen itu 121,2 persen basisnya 100, kalau kita menggunakan mandiri spending index itu juga sudah 312,” ujarnya.

Optimisme 2026 Menguat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Pimpinan Nasional 2025, di Park Hyatt, Jakarta, Senin (1/12/2025). (Liputan6.com/Tira)

Menurut Airlangga, dengan dasar pemulihan yang mulai menguat di akhir 2025, pemerintah optimistis 2026 akan menjadi tahun percepatan ekonomi.

Airlangga menilai risiko yang dihadapi bukan lagi downside risk, tetapi sudah bergeser menjadi upside risk. Artinya, peluang pertumbuhan lebih tinggi semakin besar, didorong oleh konsumsi, stabilitas suku bunga, serta aktivitas industri yang ekspansif.

"Jadi, ke depan kita melihat kita melihatnya ke depan kita didorong oleh tailwind jadi yang ada risikonya upside risk daripada downside risk,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya