Merajut Asa di Pojok Lokal: Kisah Para Pahlawan Keluarga Mengubah Nasib Lewat Etalase Toko

Toko kelontong menjadi tempat hidupnya kembali ekonomi lokal.

oleh Septian DenyDiterbitkan 16 November 2025, 07:30 WIB
Kampanye #BangkitSerentak mengajak masyarakat Indonesia menjadi pahlawan ekonomi lokal, dengan terus berbelanja di toko kelontong SRC. SRC Indonesia yang memiliki 140 ribu jaringan toko di Indonesia, berharap dapat memberikan dampak nyata untuk mendorong pemulihan ekonomi. (Liputan6.com/HO/SRC)

Liputan6.com, Jakarta Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran retail besar yang menjamur hingga ke pelosok kota, banyak toko kelontong harus berjuang keras untuk tetap berdiri. Dari minimarket berjejaring hingga platform belanja daring, ruang gerak toko kecil di sudut kampung seolah makin sempit.

Namun, di antara tantangan itu, muncul cerita-cerita kecil tentang ketangguhan, kolaborasi, dan semangat saling bantu, kisah di mana toko kelontong justru menjadi tempat hidupnya kembali ekonomi lokal.

Salah satu kisah itu datang dari program Pojok Lokal, inisiatif dari jaringan toko komunitas Sampoerna Retail Community (SRC) yang memberi ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memasarkan produknya di toko-toko SRC di seluruh Indonesia. Konsepnya sederhana, satu toko kelontong membuka ruang di raknya dan menjadi titik balik bagi banyak usaha menemukan jalannya.

Simak tiga kisah inspiratif dari Bekasi, Pontianak, dan Magelang, tentang bagaimana program Pojok Lokal menghidupkan kembali semangat wirausaha dan mengubah nasib keluarga.

Mengubah Toko Kelontong Menjadi Jembatan Harapan UMKM

Di Bekasi, Dwi adalah pemilik Toko SRC Toya yang berperan penting bagi lingkungannya. Ia bertekad menjadikan tokonya bukan sekadar tempat belanja, melainkan ruang untuk mendukung tetangga dan kerabatnya yang berwirausaha. Berangkat dari kesadaran bahwa banyak pelaku usaha rumahan yang kesulitan dalam memasarkan produknya, Dwi berinisiatif menyediakan Pojok Lokal di Toko SRC Toya.

"Berawal dari tetangga saya, seorang ibu dengan empat orang anak yang membutuhkan pendapatan lebih untuk membiayai keluarganya, namun modalnya sedikit. Inilah yang mendasari saya untuk membuka ruang bagi mereka yang membutuhkan, khususnya UMKM sekitar," ungkap Ibu Dwi, Minggu, (16/11/2025).

Tujuannya, membantu ibu-ibu di lingkungan sekitar yang membuat camilan berbahan baku lokal dengan meminimalkan beban modal bagi mereka.

 

Omzet per Bulan

Sampoerna Retail Community (SRC), program pembinaan terhadap Usaha Kecil Menengah (UKM) di bidang ritel yang memiliki potensi pengembangan dalam aspek bisnis.

Langkah Dwi terbukti strategis dan sangat membantu. Ia menerapkan sistem penjualan konsinyasi (titip jual) dengan margin yang disepakati, memastikan UMKM mendapatkan keuntungan yang adil. Kini, Toko SRC Toya laris dengan produk-produk titipan terlaris seperti kue kering, keripik usus, bakarung, kelerang, kacang bawang, dan peyek.

Omzet produk titipan rata-rata mencapai Rp3,4 juta per bulan. Dampaknya meluas, usaha tetangganya kini mempekerjakan lima pegawai, dan yang mengharukan, Dwi bersyukur dapat melihat anak-anak tetangganya bersekolah dengan baik berkat keuntungan usaha mereka yang ditopang Pojok Lokal.

Toko kelontong yang dulunya hanya menjual kebutuhan harian kini menjadi ruang tumbuh ekonomi komunitas, membuktikan bahwa di tengah gempuran modernisasi, toko kelontong masih punya cara tersendiri untuk bertahan yaitu dengan berbagi.

Jembatan Masa Depan di Tengah Keterbatasan

Sementara di Pontianak, Kalimantan Barat, Iskandar adalah pemilik Toko SRC Bu Darmi yang bersemangat memberdayakan wirausaha lokal. Inisiatifnya sangat membantu Ibu Nyai, seorang pengusaha UMKM yang memproduksi nastar dan kacang goreng daun jeruk. Di usia 60 tahun, Ibu Nyai menghadapi tantangan besar mulai dari keterbatasan modal, jaringan pemasaran, hingga masalah legalitas yang menghambat pertumbuhan usahanya.

Tahun 2021 menjadi lembaran baru ketika Ibu Nyai mulai menitipkan produknya di Pojok Lokal Toko SRC Bu Darmi milik Iskandar. Kemitraan ini disambut baik dan menjadi sebuah proses pendampingan yang transformatif.

 

 

Pentingnya Kualitas dan Legalitas

Hingga saat ini SRC memiliki jaringan di 140 ribu toko dan menyebar di seluruh wilayah Indonesia.

Melalui Pojok Lokal, Iskandar membantu Ibu Nyai meningkatkan kualitas produk dan memfasilitasi pengurusan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) di Dinas Kesehatan setempat. Langkah ini secara signifikan meningkatkan kepercayaan pelanggan dan omzet nastar dan kacang goreng daun jeruk Ibu Nyai.

"Melalui Pojok Lokal, saya diajarkan pentingnya kualitas dan legalitas. Usaha saya menjadi semakin dikenal, disukai pelanggan, dan omzet pun meningkat," ujar Ibu Nyai, bersyukur atas dukungan dari pemilik toko. Ia membuktikan bahwa usia senja bukanlah halangan untuk berinovasi dan maju.

Kini, usaha Ibu Nyai telah memberdayakan empat orang pegawai, dengan omzet stabil mencapai Rp 2 juta per bulan dan penjualan mencapai rata-rata 80 toples setiap bulan. Iskandar, pemilik Toko SRC Bu Darmi, juga menjadi mitra bagi tiga UMKM lokal lainnya, dengan total omzet yang berhasil dicapai sebesar Rp 2 juta per bulan dari Pojok Lokal mereka.

Kisah ini mengajarkan bahwa kemitraan yang tepat dapat melahirkan peluang baru dan legalitas di tengah keterbatasan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya