TINS Cetak Laba Rp 600 Miliar hingga Kuartal III-2025

PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan laba bersih Rp 602 miliar hingga September 2025 atau kuartal III-2025.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 02 November 2025, 11:00 WIB
IHSG ditutup pada level 7.220,88. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan laba bersih Rp 602 miliar hingga September 2025 atau kuartal III-2025. Perbaikan harga timah global turut menjadi penyumbangnya.

Laba bersih itu didapat setelah, TINS mengantongi pendapatan usaha Rp 6,6 triliun di periode tersebut. Nilai laba bersih tersebut dua kali lipat lebih tinggi dari capaian perseroan pada periode semester I-2025 dengan laba bersih Rp 300 miliar.

“Seiring dengan peningkatan produksi dari kuartal ke kuartal, tren kenaikan harga logam timah global, serta dukungan pemerintah dalam perbaikan tata kelola pertambangan timah, Perseroan berhasil membukukan laba bersih sembilan bulan 2025 sebesar Rp 602 miliar, atau dua kali lipat dari capaian semester I 2025,” ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT TIMAH Tbk, Fina Eliani dalam keterangan resmi, Sabtu (1/11/2025).

Informasi, hingga September 2025, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp6,6 triliun, dengan EBITDA Rp 1,5 triliun. Dari capaian tersebut, laba bersih mencapai Rp 602 miliar, atau 78% dari target laba tahun 2025 sebesar Rp 774 miliar.

Dari sisi neraca, total aset Perseroan naik 7% menjadi Rp 13,7 triliun, sementara liabilitas meningkat 14% menjadi Rp 6,1 triliun. Ekuitas Perseroan juga meningkat 2% menjadi Rp 7,61 triliun, didorong oleh laba positif yang dicatatkan hingga kuartal III.

Indikator keuangan utama menunjukkan kondisi yang sehat: Quick Ratio: 32,8%, Current Ratio: 177,8%, Debt to Asset Ratio: 44,4% dan Debt to Equity Ratio: 79,9%

"Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur keuangan Perseroan tetap solid dan likuid untuk mendukung rencana operasional dan pengembangan bisnis," kata Fina.

 

Dikerek Harga Timah Global

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Fina menerangkan lagi, pertumbuhan laba perseroan didorong oleh kenaikan harga logam timah global, penguatan permintaan dari sektor elektronik, serta strategi Perseroan dalam optimalisasi penjualan dan efisiensi biaya produksi.

Permintaan timah global, terutama dari sektor elektronik seperti tin solder dan tin chemical, tetap kuat didorong pasar Jepang dan China. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, ekspor logam timah Indonesia hingga September 2025 mencapai 37.946 metrik ton, naik 28% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

"Dari total tersebut, PT TIMAH Tbk berkontribusi sekitar 21% terhadap ekspor timah Indonesia, atau sekitar 3% dari ekspor timah global yang mencapai 278.048 metrik ton," ucapnya.

 

Produksi Timah

Green Coke memiliki peran penting untuk berbagai sektor industri skala besar diantaranya yaitu sebagai bahan baku dalam pembuatan Anoda Grafit Aritifisial (Komponen pembuatan Baterai seperti di Electric Vehicle, Electronic, dll). Kemudian Bahan baku Calcined Coke (digunakan sebagai bahan pengurai pada pabrik alumunium; Reduktor dalam proses peleburan timah; Bahan penambah kadar karbon pada industri logam atau pelebur baja); Alternatif bahan bakar (digunakan sebagai alternatif efisien bahan bakar dalam proses industri, dikarenakan memiliki nilai kalori (Net Calorific Value) yang lebih tinggi. Green Coke yang dipasarkan oleh Pertachem hadir dengan spesifikasi unggul, yaitu dengan kadar sulfur rendah sebesar 0,5% (Low Sulphur) dan Ash Content hanya 0,1%. Selain itu, Green Coke juga memiliki nilai kalori (Net Calorific Value) yang lebih tinggi yaitu sekitar 7500 – 8500 Cal/kg. Dengan kandungan sulfur yang lebih rendah berkontribusi pada kualitas udara yang lebih baik dan dampak lingkungan yang lebih rendah. Selain memperkuat pemasaran dan penjualan produk Green Coke, Pertachem sebagai marketing arm produk petrokimia Pertamina, juga akan terus memperluas pengembangan jaringan pemasaran produk lainnya seperti Produk Chemical (Solvent, Paraffin Wax, Sulphur, Caustic Soda, Methanol, SMO, Calcium Carbonate, Purified Terephtalic Acid, dan lainnya); Produk Polymer (Polypropylene, Polyethylene, Polystyrene, Masterbatch, Polyvinyl Chloride, Polytehylene Terephtalate, dan Ethyl Vinyl Acetate); dan Produk Aromatic Olefin (Paraxylene, Benzene, Propylene, Orthoxylene).

Hingga September 2025, Perseroan mencatat produksi bijih timah sebesar 12.197 ton Sn, sementara produksi logam timah mencapai 10.855 ton. Meskipun secara tahunan terjadi penurunan akibat faktor cuaca, kondisi cadangan, dan aktivitas penambangan ilegal, Perseroan berhasil menjaga stabilitas operasional melalui peningkatan efisiensi dan pengendalian biaya produksi.

Penjualan logam timah tercatat 9.469 metrik ton, dengan komposisi 7% pasar domestik dan 93% ekspor. Enam negara utama tujuan ekspor meliputi Jepang (19%), Singapura (19%), Korea Selatan (18%), Belanda (9%), Italia (4%), dan Amerika Serikat (4%).

Fokus pada pasar ekspor di kawasan Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja penjualan dan harga jual rata-rata logam timah Perseroan yang mencapai USD 33.596 per ton, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya