Liputan6.com, Jakarta PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan laba bersih Rp 602 miliar hingga September 2025 atau kuartal III-2025. Perbaikan harga timah global turut menjadi penyumbangnya.
Laba bersih itu didapat setelah, TINS mengantongi pendapatan usaha Rp 6,6 triliun di periode tersebut. Nilai laba bersih tersebut dua kali lipat lebih tinggi dari capaian perseroan pada periode semester I-2025 dengan laba bersih Rp 300 miliar.
Advertisement
“Seiring dengan peningkatan produksi dari kuartal ke kuartal, tren kenaikan harga logam timah global, serta dukungan pemerintah dalam perbaikan tata kelola pertambangan timah, Perseroan berhasil membukukan laba bersih sembilan bulan 2025 sebesar Rp 602 miliar, atau dua kali lipat dari capaian semester I 2025,” ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT TIMAH Tbk, Fina Eliani dalam keterangan resmi, Sabtu (1/11/2025).
Informasi, hingga September 2025, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp6,6 triliun, dengan EBITDA Rp 1,5 triliun. Dari capaian tersebut, laba bersih mencapai Rp 602 miliar, atau 78% dari target laba tahun 2025 sebesar Rp 774 miliar.
Dari sisi neraca, total aset Perseroan naik 7% menjadi Rp 13,7 triliun, sementara liabilitas meningkat 14% menjadi Rp 6,1 triliun. Ekuitas Perseroan juga meningkat 2% menjadi Rp 7,61 triliun, didorong oleh laba positif yang dicatatkan hingga kuartal III.
Indikator keuangan utama menunjukkan kondisi yang sehat: Quick Ratio: 32,8%, Current Ratio: 177,8%, Debt to Asset Ratio: 44,4% dan Debt to Equity Ratio: 79,9%
"Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur keuangan Perseroan tetap solid dan likuid untuk mendukung rencana operasional dan pengembangan bisnis," kata Fina.
Dikerek Harga Timah Global
Fina menerangkan lagi, pertumbuhan laba perseroan didorong oleh kenaikan harga logam timah global, penguatan permintaan dari sektor elektronik, serta strategi Perseroan dalam optimalisasi penjualan dan efisiensi biaya produksi.
Permintaan timah global, terutama dari sektor elektronik seperti tin solder dan tin chemical, tetap kuat didorong pasar Jepang dan China. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, ekspor logam timah Indonesia hingga September 2025 mencapai 37.946 metrik ton, naik 28% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
"Dari total tersebut, PT TIMAH Tbk berkontribusi sekitar 21% terhadap ekspor timah Indonesia, atau sekitar 3% dari ekspor timah global yang mencapai 278.048 metrik ton," ucapnya.
Produksi Timah
Hingga September 2025, Perseroan mencatat produksi bijih timah sebesar 12.197 ton Sn, sementara produksi logam timah mencapai 10.855 ton. Meskipun secara tahunan terjadi penurunan akibat faktor cuaca, kondisi cadangan, dan aktivitas penambangan ilegal, Perseroan berhasil menjaga stabilitas operasional melalui peningkatan efisiensi dan pengendalian biaya produksi.
Penjualan logam timah tercatat 9.469 metrik ton, dengan komposisi 7% pasar domestik dan 93% ekspor. Enam negara utama tujuan ekspor meliputi Jepang (19%), Singapura (19%), Korea Selatan (18%), Belanda (9%), Italia (4%), dan Amerika Serikat (4%).
Fokus pada pasar ekspor di kawasan Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja penjualan dan harga jual rata-rata logam timah Perseroan yang mencapai USD 33.596 per ton, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.