Liputan6.com, Pyongyang - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah menyeberangi perbatasan ke China, di mana dia akan menghadiri parade militer di Beijing.
Parade Hari Kemenangan China pada Rabu (3/9/2025) akan menjadi panggung pertama Kim dalam pertemuan multilateral, di mana dia akan berdiri sejajar dengan Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, serta pemimpin dunia lainnya termasuk dari Myanmar, Iran, dan Kuba.
Advertisement
Kehadirannya juga bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak 1959 seorang pemimpin Korea Utara hadir dalam parade militer China.
Kim menyeberang ke China pada Selasa (2/9), dengan kereta lapis baja, yang disebut-sebut memiliki restoran yang menyajikan anggur Prancis kelas atas serta hidangan seperti lobster segar.
Menurut kantor berita Korea Selatan Yonhap yang melaporkan kereta itu menyeberang ke China, perlindungan ketat pada kereta itu membuatnya berjalan lambat dan perjalanannya diperkirakan memakan waktu hingga 24 jam.
Kehadiran Kim kali ini merupakan peningkatan dibanding parade Hari Kemenangan terakhir China pada 2015, ketika Korea Utara hanya mengirim salah satu pejabat, Choe Ryong-hae.
Kim jarang bepergian ke luar negeri. Kontak terbarunya dengan para pemimpin dunia terbatas pada Putin, yang sudah dua kali ditemuinya sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Ajang China Pamer Kemampuan Militer
Tradisi bepergian dengan kereta dimulai oleh kakeknya, Kim Il Sung—yang melakukan perjalanan dengan keretanya sendiri ke Vietnam dan Eropa Timur.
Ayahnya, Kim Jong Il, juga bepergian dengan kereta karena dilaporkan takut terbang.
Menurut salah satu media Korea Selatan, kereta lapis baja itu memiliki sekitar 90 gerbong, termasuk ruang konferensi, ruang audiensi, dan kamar tidur.
Puluhan ribu personel militer akan berbaris di Lapangan Tiananmen yang bersejarah pada hari parade, untuk memperingati 80 tahun menyerahnya Jepang yang sekaligus menandai berakhirnya Perang Dunia II.
Parade berdurasi 70 menit itu diperkirakan akan menampilkan persenjataan terbaru China—mulai dari ratusan pesawat dan tank hingga sistem anti-drone—sekaligus menjadi ajang pertama di mana struktur kekuatan baru militernya ditampilkan secara penuh.
Sebagian besar pemimpin Barat tidak akan menghadiri parade tersebut karena penentangan mereka terhadap invasi Rusia ke Ukraina, yang telah memicu sanksi terhadap rezim Putin.
Namun, parade ini akan dihadiri para pemimpin dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam—bukti lebih lanjut dari upaya serius China meningkatkan hubungan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Hanya satu pemimpin Uni Eropa yang akan hadir—Perdana Menteri Slovakia Robert Fico—sementara Bulgaria dan Hongaria akan mengirim perwakilan.