Trump Umumkan Kesepakatan Dagang Jepang, Produk Otomotif Turun Jadi 15%

Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengonfirmasi bahwa tarif untuk ekspor otomotif ke AS akan turun menjadi 15%. Ini menjadi kabar baik bagi industri otomotif Jepang, yang menyumbang 28,3% dari total ekspor negara itu pada 2024.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 23 Juli 2025, 17:45 WIB
Pertokoan di area Shinjuku, Tokyo, Jepang. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan kesepakatan dagang besar dengan Jepang pada Selasa (waktu AS), yang mencakup penerapan tarif “timbal balik” sebesar 15% untuk ekspor antar kedua negara. Salah satu poin utama adalah penurunan tarif impor mobil Jepang ke AS, dari sebelumnya 25% menjadi 15%.

Dikutip dari CNBC, Rabu (23/7/2025), dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut perjanjian ini “mungkin kesepakatan terbesar yang pernah dibuat.” Ia mengatakan Jepang akan menginvestasikan USD 550 miliar ke Amerika Serikat dan AS akan mendapat hingga 90% dari keuntungannya.

Trump juga menyebut Jepang akan membuka akses lebih besar untuk produk-produk AS, termasuk mobil, truk, beras, dan komoditas pertanian lainnya. Ia mengeklaim bahwa kesepakatan ini akan menciptakan "ratusan ribu lapangan kerja" di AS.

Jepang Setuju Turunkan Tarif Otomotif

Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengonfirmasi bahwa tarif untuk ekspor otomotif ke AS akan turun menjadi 15%. Ini menjadi kabar baik bagi industri otomotif Jepang, yang menyumbang 28,3% dari total ekspor negara itu pada 2024.

Ekspor mobil Jepang ke AS sendiri sempat menurun menjadi 26,7% pada Juni, dari 24,7% di Mei. Total ekspor Jepang ke AS, mitra dagang terbesar kedua, mencapai 10,3 triliun yen (sekitar US$70 miliar) dalam enam bulan pertama 2025, turun 0,8% dibanding tahun lalu.

Ekonom Brian Jacobsen dari Annex Wealth Management mengatakan kepada CNBC, "Setahun lalu, tarif 15% mungkin akan terasa tinggi. Tapi hari ini, itu justru melegakan."

 

Negosiasi Lanjutan dan Investasi Baru

Deretan restoran di Shinjuku, Tokyo, Jepang. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Trump juga menyampaikan bahwa AS dan Jepang sedang menyusun kesepakatan tambahan untuk perdagangan gas alam cair. Ia menambahkan bahwa kesepakatan lain dengan Eropa akan diumumkan keesokan harinya, meskipun belum ada rincian lebih lanjut.

Kepala negosiator perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, menyebut kesepakatan ini sebagai “#Misi Terselesaikan” dalam unggahan di platform X, dan berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat.

Dinamika Politik di Jepang

Kesepakatan ini muncul hanya beberapa hari setelah koalisi pemerintahan Jepang kehilangan mayoritas di majelis tinggi (setara MPR). Meski sempat menyatakan akan tetap menjabat, media Jepang seperti Mainichi melaporkan bahwa Ishiba kemungkinan akan mengundurkan diri pada Agustus mendatang. Namun, laporan lain menyebut keputusan itu akan menunggu hasil akhir dari negosiasi perdagangan.

Menurut catatan HSBC, kesepakatan dagang ini bisa memperkuat posisi Ishiba di dalam partainya (Liberal Democratic Party) dan mencegah adanya mosi tidak percaya.

 

Saham Otomotif Melonjak

Sebuah jalan tercermin di gedung perkantoran yang memuat papan kutipan elektronik yang menampilkan angka-angka Indeks Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo di Tokyo pada 10 Maret 2022.Behrouz MEHRI / AFP

Pasar saham Jepang langsung merespons positif. Saham sektor otomotif melonjak, dengan Honda naik 8%, Toyota lebih dari 11%, Nissan 8%, Mazda 17%, dan Mitsubishi Motors 13%. Indeks Nikkei 225 pun menguat lebih dari 2%.

Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menaikkan tarif hingga 25% terhadap ekspor Jepang mulai 1 Agustus. Ancaman ini merupakan bagian dari kebijakan tarif yang disebut Trump sebagai “Hari Pembebasan.”

Menurut Chief Investment Officer di WisdomTree Jeremy Schwartz, reaksi positif pasar menunjukkan bahwa pelaku pasar sebelumnya sangat pesimistis terhadap arah negosiasi ini.

Ia juga menambahkan bahwa Trump memanfaatkan kesepakatan ini tidak hanya untuk menyeimbangkan defisit perdagangan, tetapi juga untuk mendorong investasi strategis, seperti proyek infrastruktur kecerdasan buatan senilai US$500 miliar oleh SoftBank, OpenAI, dan Oracle selama empat tahun ke depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya