Duka Kedutaan Brasil untuk Juliana Marins, Turis yang Tewas Jatuh di Gunung Rinjani

Berikut ini ungkapan duka dari Kedutaan Brasil setelah turis Brasil, Juliana Marins, tewas setelah jatuh di Gunung Rinjani.

oleh Tanti YulianingsihDiterbitkan 30 Juni 2025, 11:36 WIB
Ucapan dukacita Kedutaan Brasil di Jakarta soal turis Brasil jatuh di Gunung Rinjani. (Instagram @brasembjacarta)

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka datang dari Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Seorang turis Brasil, Juliana Marins (27), meninggal dunia setelah terjatuh saat melakukan pendakian.

Insiden tragis ini terjadi pada Sabtu, 21 Juni 2025, dan jenazah Juliana Marins baru ditemukan pada Selasa, 24 Juni 2025. Kejadian ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat korban, tetapi juga memicu berbagai reaksi dari pemerintah Brasil dan Indonesia.

Kedutaan Besar (kedubes) Brasil di Jakarta menyampaikan belasungkawa mendalam atas peristiwa tragis tersebut.

"Pemerintah Brasil mengumumkan, dengan penyesalan yang mendalam, meninggalnya turis Brasil Juliana Marins, yang jatuh dari tebing di sekitar jalan setapak dekat kawah Gunung Rinjani (3.726 meter), gunung berapi yang terletak sekitar 1.200 km dari Jakarta, di Pulau Lombok," tulis Kedutaan Brasil melalui akun Instagram @brasembjacarta yang dikutip Senin (30/6/2025).

Dalam pernyataan dukacita tersebut, pihak kedutaan menyebut bahwa "Setelah empat hari bekerja, terhambat oleh cuaca buruk, tanah, dan kondisi jarak pandang di wilayah tersebut, tim dari Badan Pencarian dan Pertolongan Indonesia menemukan jenazah turis Brasil tersebut."

"Kedutaan Besar Brasil di Jakarta memobilisasi otoritas setempat di tingkat tertinggi untuk tugas penyelamatan dan telah memantau upaya pencarian sejak Jumat (20/6) malam, ketika diberitahu tentang jatuhnya turis Brasil di Gunung Rinjani," rinci pihak kedutaan.

"Pemerintah Brasil menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan teman-teman turis Brasil tersebut atas kehilangan besar mereka dalam kecelakaan tragis ini," imbuh pihak kedutaan Brasil.

 

 

Reaksi Pemerintah Indonesia atas Insiden Turis Brasil Tewas

Pendaki WNA Brasil berisinial JDSP (27), belum juga berhasil dievakuasi usai terjatuh di jurang Gunung Rinjani pada Sabtu, 21 Juni 2025 lalu. (Liputan6.com/ Dok Tim SAR Mataram)

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Indonesia juga mengungkap keprihatinan atas kecelakaan tersebut. Mereka menuliskan, turis Brasil itu dilaporkan jatuh ke jurang di dekat danau kawah Gunung Rinjani pada Sabtu, 21 Juni 2025 pukul 06.30 WITA saat mendaki bersama satu pemandu dan lima peserta lainnya.

Tim SAR gabungan menemukan posisi korban berada di kedalaman kurang lebih 400 meter, tapi evakuasi sulit dilakukan karena medan ekstrem dan cuaca buruk. Operasi SAR terus dilanjutkan menggunakan helikopter, drone thermal, serta dua pendaki profesional berpengalaman, berkoordinasi intens bersama Basarnas, TNI/Polri, Pemprov NTB, dan Kedutaan Brasil.

"Laporan terakhir dari Basarnas yang kami terima, tim berhasil menemukan korban dengan visualisasi Drone Thermal milik Kansar Mataram pada kedalaman kurang lebih 400 meter dari titik awal jatuhnya korban dan diperkirakan korban dalam kondisi meninggal dunia. Saat ini, tim persiapan untuk proses evakuasi," tutup pernyataan tersebut.

  

Ungkapan Duka Netizen

Posisi Pendaki Brasil yang Jatuh di Gunung Rinjani Terpantau Melalui Drone. foto: WAG Rescue Team. (dok.Instagram @btn_gn_rinjani/https://www.instagram.com/p/DLPavwzz7Xd/)  

Melalui akun Instagram yang dibuat untuk mendorong penyelamatan Juliana Marins, seorang turis Brasil jatuh di Gunung Rinjani, keluarga korban menyampaikan ungkapan duka di unggahan terbaru mereka. Foto hitam berisi teks putih itu dibagikan pada Selasa malam, 24 Juni 2025.

Mereka menulis, "PENGUMUMAN. Hari ini, tim penyelamat berhasil mencapai tempat Juliana Marins berada. Dengan penuh kesedihan, kami sampaikan bahwa dia meninggal dunia. Kami sangat berterima kasih atas semua doa, pesan kasih sayang, dan dukungan yang telah kami terima pada 24/06/2025."

Mendapati itu, warganet menyerbu kolom komentar, mengungkap belasungkwa terdalam dan memberi kata-kata penghiburan bagi keluarga korban. Kebanyakan mengaku tidak mengenal Juliana secara pribadi, namun mereka turut "bersimpati atas kehilangan" yang dialami keluarga, sahabat, teman, dan kolega perempuan berusia 27 tahun tersebut.

Informasi terbaru seputar evakuasi turis Brasil di Gunung Rinjani tersebut telah disampaikan Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi. Cuplikan klip jumpa pers terkait itu dibagikan akun Instagram SAR Nasional, Rabu dini hari (25/6/2025).   

Kronologi Proses Evakuasi

7 Anggota Tim Penyelamat Dilaporkan Dekati Lokasi Jatuhnya Turis Brasil di Puncak Gunung Rinjani. foto: dok. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani

Di video, Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi berkata, "Pada Selasa, 24 Juni 2025, pukul 16.52 Wita, tujuh orang rescuer yang diturunkan telah dapat menjangkau (posisi korban) di kedalaman 400 meter. Kemudian, pukul 18.00 Wita, satu orang rescuer dari BASARNAS atas nama Hafid Hassadi berhasil menjangkau korban pada kedalaman 600 meter, yang kami sebut 'datum point.'"

"Sebelumnya," ia menambahkan. "Kami memperkirakan korban ada di posisi kedalaman 400 meter dan ternyata, setelah kami bisa menjangkau korban, ada pergeseran turun ke bawah lagi di kedalaman 600 meter."

Penyelamat yang berhasil menjangkau Juliana disebut memeriksa kondisinya dan "tidak ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan," sebut Hariyadi. "Kemudian pada pukul 18.31 Wita, tiga personel rescuer dari potensi SAR atas nama Samsul Fadli dari unit Lombok Timur, serta saudara Agam dan Tyo dari Rinjani Squad menyusul diturunkan mendekati korban."

"Selanjutnya terhadap korban, dilaksanakan wrapping survivor. Setelah mendapatkan informasi tentang kondisi korban, tim SAR gabungan yang berada di LKP─atau kami sebut last known position─menyiapkan sistem evakuasi."

Hariyadi menyebut bahwa tujuh rescuer itu melaksanakan flying camp semalam. "Tiga orang di anchor point kedua di kedalaman 400 meter dan empat orang berada bersama-sama dengan korban di datum point di kedalaman 600 meter," sebut dia.

"Pada pukul 19.00 Wita, dikarenakan cuaca yang tidak memungkinkan, dengan jarak pandang yang sangat terbatas, evakuasi korban dilanjutkan pada Rabu, 25 Juni 2025, pukul 06.00 Wita. Dengan hasil koordinasi, kami akan laksanakan dengan metode lifting atau korban akan diangkat ke atas."

"Kemudian dari LKP, korban akan dievakuasi menyusuri rute pendakian menuju Posko Sembalun dengan cara ditandu.  Selanjutnya, pesawat yang sudah kita standby-kan di Posko Sembalun akan melaksanakan evakuasi medis udara menuju ke Rumah Sakit Bayangkara di Polda NTB.

"Semoga proses evakuasi korban yang akan dilaksanakan besok pagi (Rabu) dapat berjalan dengan lancar dan aman sesuai yang kita harapkan semuanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya