Sabak dan Grip, Alat Tulis Pelajar Tempo Dulu

Sabak terbuat dari lempengan batu karbon yang dicetak berbentuk segi empat. Fungsinya sebagai pengganti buku tulis, sedangkan grip digunakan sebagai alat tulisnya.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 17 Mei 2025, 03:00 WIB
Ilustrasi papan tulis, ruang kelas, sekolah. (Photo by Roman Mager on Unsplash)

Liputan6.com, Yogyakarta - Jauh sebelum era digital seperti sekarang, para pelajar di zaman Sekolah Rakyat (SR) menggunakan sabak dan grip sebagai alat tulis. Keduanya sekaligus menggantikan fungsi buku tulis yang saat itu harganya cukup tinggi.

Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta, penggunaan sabak dan grip terjadi di era kolonial Belanda 1960-an. Pelajar SR (sekarang setara SD), menjadi pengguna yang paling setia dengan alat tulis ini.

Sabak terbuat dari lempengan batu karbon yang dicetak berbentuk segi empat. Fungsinya sebagai pengganti buku tulis, sedangkan grip digunakan sebagai alat tulisnya.

Pada masa itu, banyak murid yang belum memiliki buku catatan atau buku tulis. Hal ini dikarenakan keterbatasan media dan harga yang tinggi.

Penggunaan sabak untuk menulis cukup mudah. Sama seperti buku tulis, sabak juga memiliki garis bantu agar tulisan lurus dan rapi.

Sabak dapat dibersihkan dengan cara mencucinya menggunakan air atau menggosoknya dengan arang. Selain untuk menulis, sabak juga digunakan untuk berhitung maupun menggambar.

Para guru kemudian menulis nilai dengan menggunakan kapur. Selanjutnya, anak-anak akan menempelkan nilai pada pipi mereka sebagai bukti yang akan ditunjukkan kepada orang tua bahwa mereka telah mengikuti ujian maupun latihan soal.

 

Unik

Meski medianya terbatas, saat itu anak-anak tetap bersemangat ke sekolah. Hal ini yang menjadikan pola pembelajaran masyarakat pada masa itu cukup unik.

Saat ini, penggunaan sabak dan grip sudah jarang bahkan hampir tak ditemukan. Pelajar di era modern sudah cukup dekat dengan perkembangan zaman dan pemanfaatan teknologi informasi.

Sabak dan grip pun digantikan dengan buku tulis, pulpen, pensil, dan alat tulis lainnya. Bahkan, saat ini sudah banyak pelajar yang menggunakan komputer, laptop, maupun tablet.

Meski sudah tak digunakan, sabak dan grip masih tersimpan rapi di Museum Pendidikan Indonesia UNY Jalan Colombo No.1, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Sabak dan grip menjadi saksi perkembangan dunia pendidikan Indonesia.

Penulis: Resla

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya