Israel Serang Target di Dekat Istana Presiden Suriah

Serangan ini terjadi menyusul kekerasan sektarian yang pecah beberapa hari sebelumnya antara suni dan Druze.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 02 Mei 2025, 12:36 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan pada Jumat (2/5/2025),  Israel menyerang sebuah target di dekat istana presiden di ibu kota Suriah, Damaskus.

Serangan ini merupakan yang kedua dalam dua hari terakhir, sebagai tindak lanjut dari janji Israel untuk membela kelompok minoritas Druze, yang terlibat dalam kekerasan sektarian melawan militan Sunni awal pekan ini.

Mengutip Al Jazeera, Druze adalah kelompok minoritas etnoreligius yang sebagian besar mengidentifikasi diri sebagai orang Arab dan berbahasa Arab. Agama mereka tumbuh dari Islam Syiah Ismailiyah pada abad ke-11 tetapi telah berkembang hingga mencakup aspek-aspek agama lain, termasuk Hinduisme, serta filsafat kuno. 

Serangan-serangan ini dinilai mencerminkan ketidakpercayaan mendalam Israel terhadap kelompok Suni yang menggulingkan Bashar al-Assad pada Desember lalu. Situasi ini menjadi tantangan tambahan bagi presiden sementara Ahmed al-Sharaa dalam usahanya untuk mengendalikan negara yang terpecah belah itu.

"Israel melakukan serangan tadi malam di dekat istana presiden di Damaskus," kata Netanyahu dalam pernyataan bersama dengan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.

"Ini adalah pesan yang jelas untuk rezim Suriah: Kami tidak akan membiarkan pasukan (Suriah) dikerahkan ke selatan Damaskus atau membiarkan ada ancaman terhadap komunitas Druze."

Militer Israel mengatakan dalam pernyataan bahwa mereka menyerang di area yang berdekatan dengan istana presiden di Damaskus, namun tidak menyebutkan target spesifiknya. Hingga kini belum ada tanggapan langsung dari otoritas Suriah.

Kekerasan Sektarian

Putra Mahkota sekaligus pemimpin de facto Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman bertemu dengan presiden sementara Suriah Ahmad al-Sharaa di Riyadh, Minggu (2/2/2025). (Dok. Kementerian Media Arab Saudi via AP)

Sejak Assad digulingkan pada Desember 2024, Israel telah merebut wilayah di barat daya Suriah, berjanji untuk melindungi komunitas Druze, melobi Amerika Serikat (AS) agar negara tetangganya tetap lemah, dan menghancurkan sebagian besar persenjataan berat milik tentara Suriah dalam beberapa hari setelah penggulingan tersebut.

Sharaa, yang sebelumnya adalah komandan al-Qaeda sebelum memutuskan hubungan dengan kelompok itu pada 2016, telah berulang kali menyatakan niatnya untuk memerintah Suriah secara inklusif. Namun, insiden kekerasan sektarian — termasuk pembunuhan ratusan warga Alawi pada bulan Maret — telah memperkuat kekhawatiran kelompok-kelompok minoritas terhadap dominasi kelompok Islamis.

Kekerasan sektarian pekan ini dimulai pada Selasa (29/4), dengan bentrokan antara warga Druze dan militan suni di wilayah mayoritas Druze, Jaramana. Pemicu konflik adalah rekaman suara yang menghina Nabi Muhammad, yang diduga dibuat oleh seorang penganut Druze menurut kecurigaan militan suni.

Lebih dari selusin orang dilaporkan tewas pada Selasa, sebelum kekerasan menyebar ke Kota Sahnaya — wilayah mayoritas Druze di pinggiran Damaskus — pada Rabu (30/4).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya