Mengungkap Tradisi Ziarah Kubur dan Ikrar Halalbihalal di Betawi Setelah Lebaran

Ikrar halabihalal dimaksudkan sebagai ungkapan maaf dan pembebasan dari kesalahan di antara sesama yang biasanya dilakukan setelah shalat Idul Fitri.

oleh Novia Harlina diperbarui 08 Apr 2024, 00:51 WIB
Peneliti Sejarah Ulama Betawi KH. Rakhmad Zailani Kiki. (Liputan6.com/ ist)

Liputan6.com, Jakarta - Lebaran atau Idul Fitri merupakan momen yang sangat ditunggu oleh umat Islam setelah menjalankan ibadah Ramadaan. Di setiap daerah, terdapat adat dan tradisi khas yang dilakukan, seperti sungkeman kepada orang tua atau ziarah kubur.

Salah satu tradisi yang dijaga oleh masyarakat lokal Jakarta atau Betawi setelah Ramadan adalah ziarah kubur dan ikrar halabihalal. Ziarah kubur dianggap penting untuk menyucikan jiwa dan mengingatkan akan kehidupan setelah kematian yang dilakukan pada bulan-bulan tertentu, termasuk bulan Syawal setelah Ramadhan.

Sementara itu, ikrar halabihalal dimaksudkan sebagai ungkapan maaf dan pembebasan dari kesalahan di antara sesama yang biasanya dilakukan setelah shalat Idul Fitri. Tradisi ini refleksi kekayaan budaya dan adat Betawi yang terus terjaga dan dilakukan secara berkesinambungan pasca momen Lebaran.

Hal ini disampaikan oleh Peneliti Sejarah Ulama Betawi KH. Rakhmad Zailani Kiki dalam tayangan Inspirasi Ramadhan 2024 edisi sahur di Channel Youtube Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan dengan pembawa acara Mabda Dzikara dan Shalimar Anwar Sani Jum’at (05/04/2024), dini hari.

Ia menyebut, Ulama Abuya Abdurrahman Nawi membuat namanya ikrar halabihalal. Jadi jangan dulu ngunjungin ziarah kubur. Ini buat yang sudah wafat. Sampaikan ikrar halalbihalal. Pas setelah salat Idul FItri, bersama-sama jamaah salat ied, menyampaikan minta maaf.

"Kalimatnya seperti ini, kurang lebih nih, saya halalkan, dan maafkan kesalahan yang hadir di sini, baik sengaja maupun tidak, besar atau kecil, lahir dan batin, ikhlas, rida," ujarnya.

Kyai Kiki menjelaskan bahwa dalam tradisi Betawi, ikrar dilakukan pada hari pertama setelah salat Idul Fitri. Setelah itu mereka melakukan kunjungan kepada sanak saudara yang lebih tua dengan membawa antaran berisi makanan khas Betawi seperti dodol, wajik, geplak, dan rendang daging kebo.

"Tradisi ini mementingkan nilai adab, di mana permohonan maaf menjadi hal utama," jelasnya.

Pada hari berikutnya, barulah mereka melakukan ziarah kubur setelah sebelumnya saling berkunjung dengan tetangga. Mereka menekankan pentingnya memperbaiki hubungan dengan sesama yang masih hidup sebelum menghormati yang telah tiada.

Sebelum melakukan ziarah, mereka berupaya memenuhi hak-hak sesama yang pernah disakiti, sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai-nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Betawi.

"Nah, ini bagus ya, ada adabnya dan etikanya. Jadi, sebelum kita mengunjungi yang sudah meninggal, lebih diutamakan yang masih hidup, seperti sesama jamaah salat Idul Fitri, juga tetangga di satu kampung," ungkap Ketua Pengurus Wilayah (PW) Asosisasi Pesantren NU Rabithah Ma`ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) DKI Jakarta ini.

Di akhir sesi, Kyai Kiki juga menyampaikan tentang adab berziarah kubur yang biasa dilakukan oleh Masyarakat Betawi dan merupakan ajaran para guru dan ulama Betawi tempo dulu.

Ketika melakukan ziarah kubur, mereka memberi salam kepada yang telah meninggal, membaca doa-doa seperti ratiban atau tahlilan, serta melakukan tawasul kepada tokoh sufi seperti Syekh Abdul Qadir Jailani.

Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati yang telah meninggal, terutama dalam bulan-bulan seperti Syawal setelah Ramadan.

Ziarah kubur juga dianggap sebagai momen untuk meminta ampunan kepada Allah untuk mereka yang telah tiada dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya