Hadapi Ilegal Fishing dan Pengetatan Ekspor, Industri Perikanan Harus Apa?

Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan belum serta merta menjamin pendapatan dari sumber daya laut dan perikanan bisa terjaga dengan baik.

oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana diperbarui 24 Jul 2023, 20:44 WIB
Pekerja membersihkan ikan cakalang untuk dijual ke pasar di Rumah Produksi Ikan Cakalang, Jagakarsa, Jakarta, Sabtu (19/11/2022). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi olahan ikan asli Indonesia yang komposisi gizinya tidak kalah dengan ikan impor dan harga yang lebih terjangkau. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan belum serta merta menjamin pendapatan dari sumber daya laut dan perikanan bisa terjaga dengan baik. Untuk mencapai pertumbuhan dan keberlanjutan yang optimal, industri perikanan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi.

CoFounder & Chief Sustainability Officer Aruna Utari Octavianty menilai, persaingan yang ketat dalam memperoleh pasokan bahan baku ikan segar menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh industri perikanan di Indonesia.

"Hal ini tentunya berdampak ke industri pengolahan perikanan dalam memenuhi kebutuhan produksi yang stabil dan berkualitas," ujar dia dalam keterangan tertulis, Senin (24/7/2023).

Selain itu, masalah illegal fishing dan overfishing juga menjadi tantangan serius. Praktik-praktik ilegal tersebut dapat merusak ekosistem perairan dan mengancam keberlanjutan sumber daya ikan.

Tantangan lainnya, adanya persyaratan ekspor yang semakin ketat. Negara-negara tujuan ekspor mengharuskan produk perikanan memenuhi standar kualitas dan keamanan pangan yang tinggi.

"Peningkatan pemahaman dan penerapan standar tersebut merupakan tantangan bagi pelaku industri perikanan dalam meningkatkan daya saing dan akses ke pasar internasional," imbuh Utari.

 

2 dari 3 halaman

Contoh

Suasana pasar ikan di Kamal Muara, Jakarta, Jumat (15/4/2022). Pasokan ikan dipastikan aman untuk kebutuhan selama Ramadhan 1443 Hijriah dan Hari Raya Idul Fitri, dengan perkiraan ketersediaan ikan tangkapan dan budidaya April dan Mei 2022 sebesar 2,99 juta ton. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Utari memberi contoh, Aruna sebagai perusahaan perikanan terintegrasi telah menghubungkan dan memasarkan hasil tangkapan nelayan lokal ke pasar domestik dan global.

Melalui jaringan nelayan yang luas tersebar di 31 provinsi di seluruh Indonesia, Aruna mengumpulkan hasil tangkapan komoditas perikanan dari berbagai daerah, sebagai upaya memenuhi kebutuhan stok akan komoditas perikanan.

Didukung lebih dari 40.000 nelayan binaan, Aruna juga telah melakukan pelepasan kontainer sebanyak 20 ton produk perikanan hasil nelayan binaan Aruna yang berada di wilayah Desa Sejahtera Astra di Bangkalan, Jawa Timur.

"Varian komoditas produk perikanan tersebut diperuntukkan bagi industri pengolahan perikanan di seluruh wilayah Indonesia," ungkapnya.

 

3 dari 3 halaman

Diversifikasi Produk Perikanan

Pedagang menunjukan ikan bandeng di Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, Senin (31/1/2022). Ikan bandeng banyak dibeli jelang Imlek sebagai hidangan saat perayaan Tahun Baru masyarakat Tionghoa itu. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Tidak hanya fokus pada peningkatan ketersediaan ikan, tetapi juga mendorong diversifikasi produk perikanan. Diversifikasi ini juga bisa meningkatkan nilai tambah produk perikanan serta kesejahteraan nelayan.

"Kami mengedukasi dan mendorong nelayan Aruna untuk mulai menangkap semua ragam ikan yang ada. Karena kita tahu, jenis ikan tertentu itu tergantung musim ikan juga, jadi kami dorong nelayan kami untuk menangkap komoditas apapun. Sehingga mereka tetap produktif, tetap ada hasil tangkapan setiap harinya," tuturnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya