Liputan6.com, Jakarta Kepala Polisi Paris, Pranci, Didier Lallement, akhirnya meminta maaf kepada fans Liverpool atas tindakan berlebihan yang dilakukan satuannya jelang final Liga Champions, Minggu (29/5/2022). Lallement mengaku kejadian tersebut telah mencoreng citra negara Prancis.
Final Liga Champions 2022 mempertemukan Real Madrid dan Liverpood di Stade de France, Prancis. Namun kick off pertandingan sempat molor menyusul kericuhan yang terjadi di pintu masuk.
Advertisement
Pihak keamanan mendeteksi banyak fans Liverpool yang menggunakan tiket palsu dan melarang mereka masuk. Namun langkah ini justru menimbulkan penumpukan massa. Tidak sedikit penonton yang memiliki tiket asli akhirnya tertahan. Suasana kemudian memanas dan menimbulkan kericuhan.
Dalam sejumlah rekaman video terlihat, polisi menembakkan gas air mata ke arah fans The Reds. Aksi ini menuai kecamaman dari suporter. Sekretaris Kebudayaan Inggris, Nadide Dorries bahkan menyebut kepolisian Paris telah memperlakukan fans Liverpool seperti binatang pada final Liga Champions lalu.
UEFA menyalahkan para penonton dengan tiket palsu sebagai pemicu insiden ini. Namun Liverpool mendesak agar badan sepak bola Eropa itu melakukan penyelidikan untuk mencari akar masalahnya. UEFA kemudian meminta maaf kepada fans Liverpool dan mulai melakukan investigasi atas insiden ini.
Sementara itu Lallement di depan senat Prancis, Kamis (9/6/2022) waktu setempat akhirnya mengakui kesalahannya. Menurutnya, tembakan gas air mata ke arah suporter seharusnya tidak perlu dilakukan.
"Itu benar-benar sebuah kegagalan," kata Lallement seperti dilansir dari AS.
"Itu kegagalan total, karena orang-orang didorong dan diserang. Itu kegagalan karena telah merusak citra dari negara ini," kata Lallement menambahkan.
Data Tidak Akurat
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin melimpahkan sebagian besar kesalahan kepada penggemar Liverpool. Menurutnya 30.000 hingga 40.000 fans The Reds tiba tanpa tiket sah.
Namun pendapat ini segera ditentang dengan kelompok pendukung Reds, Spirit of Shankly. Mereka justru mempertanyakan kemampuan Prancis menjadi tuan rumah final Liga Champions.
Lallement juga mengakui bahwa data tersebut ternyata tidak berdasar. "Angka tersebut tidak memiliki nilai ilmiah tetapi berasal dari umpan balik polisi dan pejabat transportasi umum,” tambah Lallement.