Jakob Oetama di Mata UGM Yogyakarta

Kepergian Jakob Oetama meninggalkan kesan di mata UGM Yogyakarta

oleh Switzy Sabandar diperbarui 10 Sep 2020, 17:30 WIB
Jakob Oetama (Foto: https://www.kompas.tv/Sumber: Pusat Informasi Kompas)

Liputan6.com, Yogyakarta- Kepergian Jakob Oetama meninggalkan kesan di mata UGM Yogyakarta. Pendiri Kompas itu pernah menyampaikan pemikirannya berjudul Antara Jurnalisme Fakta dan Jurnalisme Makna dalam pidato penerimaan gelar doktor kehormatan UGM pada 17 April 2003.

Saat itu, secara tersurat Jakob Oetama tidak menegaskan pilihannya kepada jurnalisme makna, akan tetapi banyak orang yang menginterpretasikannya memilih jurnalisme makna.

Menurut pengamat sekaligus dosen Ilmu Komunikasi UGM Ana Nadhya Abrar pemikiran Jakob Oetama itu merupakan hasil akumulasi penghayatan puluhan tahun sebagai wartawan dan pemimpin umum Kompas. Pemikiran itu merupakan abstraksi dari pembelajaran yang dilakukannya dan sekaligus puncak kesadaran eksistensialnya sebagai wartawan dan pengusaha media.

“Jadi itu puncak karyanya di bidang jurnalisme dan harus diapresiasi dengan penuh suka cita,” ujar Abrar, dalam siaran pers UGM, Kamis (10/9/2020).

Ia berpendapat, secera genealogis, pemikiran Jakob Oetama itu berasal dari konsep eksistensi pers yang ditentukan oleh muatan isi dan jumlah pembaca. Jumlah pembaca yang dimaksud dalam pidatonya berkaitan dengan kemampuan pengelolaan bisnis.

Jakob Oetama berbicara muatan isi sesuai dengan judul pidatonya saat itu. Abrar menilai hal ini ini karena jurnalisme yang diperkenalkan Jakob Oetama berangkat dari jurnalisme investigasi. Ada komodifikasi fakta, yang berarti tidak sekadar melaporkan fakta, melainkan juga latar belakang, riwayat, proses, dan hubungan kausal dan interaktif.

Abrar beranggapan jika ditarik ke masa sekarang, ide Jakob Oetama sulit diterapkan. Sebab, tidak banyak media yang mau report dan ikhlas melakukan investigasi.

“Ide Jakob Oetama ini memerlukan politics of values yang luhur, sedangkan media sekarang suka pragmatis malah terkadang oportunis, apalagi media online banyak yang pragmatis,” ucapnya.

Abrar mengaku senang dengan cara yang diperkenalkan oleh Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik. Cara yang berkaitan dengan pengumpulan fakta, akan tetapi memiliki konsekuensi kerja keras dan dekat dengan masyarakat.

Sementara, Rektor UGM Panut Mulyono berbelasungkawa atas meninggalnya Jakob Oetama. Panut melihat almarhum merupakan alumni UGM yang dikenal sebagai wartawan senior dan banyak memberikan sumbangan bagi kemajuan pers Indonesia, demokrasi, dan pluralisme.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya