Bisnis E-commerce Jadi Modal RI Dapat Arus Modal Luar Negeri

Bisnis e-commerce dan ekonomi digital dinilai memang menjanjikan.

oleh Liputan6.com diperbarui 30 Jan 2019, 18:44 WIB
Ilustrasi e-Commerce (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong mengatakan e-commerce menjadi salah satu motor penggerak investasi dan menarik modal asing.

"E-commerce ini dampak multi investasinya banyak. Dengan perusahaan-perusahaan Unicorn kita menerima puluhan triliun investasi segar setiap tahun, mereka memperluas jumlah karyawan mereka secara drastis dan itu semua memerlukan perkantoran," kata dia, di Kantor BKPM, Jakarta, Rabu (30/1/2019).

"Dan di perkembangan e-commerce juga dibutuhkan banyak sekali investasi di logistik, pergudangan yang akan digunakan platform-platfom ini karena membludaknya e-commerce," lanjut dia.

Bisnis e-commerce dan ekonomi digital kata dia, memang menjanjikan. Sebab kinerja investasi di bisnis ini tetap moncer meski di tengah perlambatan investasi secara global pada tahun 2018.

"Harus diakui bahwa FDI ke e-commerce membludak di saat FDI global lagi turun sehingga proporsinya mungkin agak membengkak. Saya merasa bahwa tren ini sustainable, mungkin nanti ada sedikit rekonfigurasi seandainya Unicorn-unicorn kita mulai IPO, ini akan berpindah definisi dari FDI ke capital market flow. Tapi terlepas langsung atau via pasar modal kan sama saja modal masuk. Investasi di sektor ini menjadi sangat penting untuk arus investasi di Indonesia," jelas dia.

 

Ilustrasi e-Commerce, eCommerce, Online Marketplace, Bisnis Online

Menurut Lembong, dalam perkiraannya, sumbangan bisnis e-commerce dan ekonomi digital terhadap total FDI memang cukup besar, hingga 20 persen.

"Kalau kita pakai formula FDI, perkiraan pribadi saya arus modal ke e-commerce dan digital economy sekitar 15-20 persen dari FDI kita tiap tahun," ungkapnya.

Meskipun demikian, dia belum bisa mengungkapkan berapa nilai investasi asing yang sudah masuk. Sebab dana tersebut belum disuntikkan ke bisnis di Indonesia. Angkanya pun belum tercatat dalam capaian investasi pada kuartal IV/2018.

"Q4 saya belum. Dari fundraising beberapa Unicorn baru mencapai tahap financial closing, belum disuntik ke unit onshore Indonesia. Itu masih jadi tabungan bagi BKPM utk q1-q2 (2019). Jadi modal sudah dikumpulkan dari konsorsium investor tapi belum dimasukkan ke unit kerjanya Unicorn dalam negeri," tandasnya.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya