Kotabaru Jadi Alternatif Wisata Baru di Yogyakarta

Kotabaru Yogyakarta menawarkan wisata seni dan foto secara bersamaan lewat 54 patung yang tersebar di berbagai titik.

oleh Switzy Sabandar diperbarui 14 Okt 2017, 21:03 WIB
Puluhan patung tersebar di Kotabaru Yogyakarta mulai 10 Oktober 2017 sampai 10 Januari 2018 (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Liputan6.com, Yogyakarta Kawasan Kotabaru Yogyakarta yang selama ini lebih dikenal sebagai salah pusat perdagangan dan jasa bisa menjadi salah satu alternatif wisata sampai tiga bulan mendatang. Sebanyak 54 patung dari beragam material tersebar di berbagai titik daerah itu dalam perhelatan bertajuk Jogjatopia Jogja Street Sculpture Project (JSPP) 2017.

Setiap orang, baik pengguna jalan, wisatawan, maupun pengendara kendaraan bermotor bisa mampir di patung yang mereka inginkan. Berswafoto atau sekadar menikmati keindahan karya seni yang sarat makna dan filosofi.

Patung-patung yang dipamerkan itu merupakan karya 50 anggota Asosiasi Pematung Indonesia. Seniman yang terlibat tidak hanya berasal dari dalam negeri, melainkan juga luar negeri, yakni Thailand, Jepang, dan Reunion Island.

Karya-karya itu ditempatkan di area publik Kotabaru, mulai dari simpang empat Galeria sampai jembatan Gondolayu Jalan Sudirman, selama tiga bulan, mulai 10 Oktober 2017 sampai 10 Januari 2017.

Foto dok. Liputan6.com

"Kawasan Kotabaru dipilih untuk menengok kembali sejarah dan meraba visi kolonial yang utopis tentang kota masa depan," ujar Hedy Haryanto, Ketua JSPP 2017 beberapa waktu lalu.

Salah satu karya yang menggambarkan perjalanan Kotabaru berjudul Last Tank karya Indra Lesmana dan Andri Ariyanto. Karya yang menggunakan media karung goni dan sekam ini berlokasi di areal Kridosono.

Karya ini bertujuan untuk menjaga dan mempertahankan kekayaan alam yang susah payah direbut dari penjajah. Simbol tank juga bisa dikaitkan dengan peristiwa Pertempuran Kotabaru pada 7 Oktober 1945. Ketika itu, para pejuang berkonsolidasi di Kotabaru untuk mengusir Jepang yang masih berada di Yogyakarta.

Selain berbau sejarah, karya yang ditampilkan juga sarat kritik sosial. Seniman memotret fenomena sosial yang terjadi di Yogyakarta. Patung berjudul Jamur karya Edi Priyanto di dekat salah satu hotel di Kotabaru, misalnya, bercerita tentang menjamurnya hotel yang mengakibatkan pergeseran nilai peradaban dan budaya di Yogyakarta.

 

 

Foto dok. Liputan6.com

Wahyu Santoso memilih untuk membuat karya berjudul Sumur Misteri yang menggunakan media campuran.

Dia mengangkat pesan jangan mengotori sumur yang merupakan bagian dari kearifan lokal. Tetapi dia juga tidak mempersoalkan apabila ada orang yang berpersepsi lain.

"Kalau anak muda berpikir Jogja sumurnya kering karena banyak hotel, ya silakan saja," tuturnya.

Mickael Boyer, seniman dari Reunion Island, mengusung patung dari pahatan batu padas yang diberi nama Chrysalis. Karya berdimensi 70 x 65 x 170 sentimeter ini dipajang di bundaran depan Kantor Bulog.

Foto dok. Liputan6.com

"Kalau kita mengelilingi patung ini bisa melihat negara saya yang berbentuk wajah, telur, dan lubang," kata Mickael.

Reunion Island merupakan negara yang multikultur dan tiga bentuk di dalam patung merepresentasikan keragaman suku dan budaya.

Edo Riyano (22), salah satu pengunjung, mengaku senang dengan keberadaan karya seni di Kotabaru.

"Biasanya instalasi seni ada di Malioboro, tetapi sekarang ada di Kotabaru dan itu memberi suasana berbeda," ucap mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya