Keluar dari Lapas Ini Napi Bisa Jadi Santri dan Ustaz Hebat

Ponpes di Lapas Klas II B Garut sempat vakum karena masalah anggaran.

oleh Jayadi Supriadin diperbarui 22 Jul 2017, 08:01 WIB
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Garut, Jawa Barat, mendirikan pondok pesantren (ponpes) dengan nama Taubatul Mudznibin untuk narapidana. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Garut, Jawa Barat, mendirikan pondok pesantren (ponpes) dengan nama Taubatul Mudznibin. Rencananya, pendirian ponpes ini bertujuan untuk pembinaan keagamaan terhadap para narapidana atau warga binaan.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Jawa Barat, Susi Susilowati, mengatakan bahwa pendirian ponpes Lapas Klas II B Garut merupakan yang kedua setelah sebelumnya di Cianjur.

"Di beberapa lapas atau rutan (rumah tahanan) yang lain juga sudah ada. Hanya belum jadi ujung tombak pembinaan," ucap dia saat meresmikan ponpes, Jumat, 21 Juli 2017.

Menurut dia, pendirian lapas berbasis pesantren di Jawa Barat merupakan upaya untuk memberikan pembinaan keagamaan. Dengan demikian, para napi diharapkan mampu memberikan contoh yang baik saat kembali ke masyarakat.

"Nanti selepas keluar dari sini (lapas) mereka bisa menjadi santri-santri dan bisa jadi ustaz yang hebat. Apalagi, mereka punya pengalaman yang pahit. Paling tidak bisa bina keluarganya," kata dia.

Selain lapas berbasis pesantren, lembaganya telah memulai pembentukan 10 lapas berbasis industri. Para warga binaan akan mendapatkan berbagai keterampilan sebagai bekal mereka.

"Memang pesantren di lapas akan jadi ujung tombak pembinaan, nanti Jabar menjadi contoh untuk lapas lain di Indonesia berbasis pesantren," ujarnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Sirojul Munir, sangat mengapresiasi berdirinya pondok pesantren di Lapas Klas II B Garut. Ia bangga karena ponpes tersebut bisa menjadi jalan dakwah bagi warga binaan.

"Walaupun sudah diinisiasi sejak 2009, pesantren di lapas bisa konkret berdiri hari ini. Apalagi, ada MoU (nota kesepahaman) antara MUI, Kemenag, dan lapas," kata dia.

Adanya pesantren di lapas menjadi jalan untuk MUI dalam memaksimalkan dakwah Islam. "Masalah dakwah itu tak terbatas dengan wilayah, komunitas, serta situasi kondisi. Dakwah merupakan kewajiban di setiap zaman dan waktu," tutur dia.

Adapun pemimpin Ponpes Taubatul Mudznibin, Lapas Garut, Useng Kamaludin, mengakui lembaganya sempat vakum karena masalah anggaran. Namun, seiring pentingnya pembinaan keagamaan, pesantren lapas kembali aktif.

"Kurikulum yang kami berikan lumayan lengkap mulai qiraah, imla, fikih, akidah, dan akhlak. Total semuanya ada enam kelas, mulai ibtidaiyah, tsanawiyah, hingga aliyah," kata dia.

Saksikan video menarik di bawah ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya