Korut Sebut Kebijakan Donald Trump Serupa Nazisme Hitler

Kantor berita Korut juga menuding Trump mengikuti jejak politik Hitler yang membagi orang berdasarkan kategori teman atau musuh.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 28 Jun 2017, 10:02 WIB
Donald Trump saat mengumumkan hengkangnya AS dari Kesepakatan Paris di Gedung Putih (1/6/2017) (AP Photo/Andrew Harnik)

Liputan6.com, Pyongyang - Korea Utara menyamakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Adolf Hitler, pemimpin Nazi. Pernyataan keras tersebut disampaikan Korut menjelang kunjungan presiden Korea Selatan ke Washington.

Seperti dikutip dari News.com.au, Rabu (28/6/2017) editorial kantor pusat berita Korea Utara (KCNA) menyebut kebijakan Trump serupa dengan "Nazisme di Abad ke-21".

Dalam pelantikannya pada Januari 2017, Trump sempat melontarkan pernyataan, "Sejak saat ini, Amerika akan menjadi yang pertama".

Dalam editorialnya KCNA menyebutkan, "Prinsip 'Amerika adalah yang pertama'...mendukung dominasi dunia dengan cara militer seperti halnya konsep Hitler tentang pendudukan dunia. Trump mengikuti 'jejak politik diktator Hitler' yang membagi dua kategori, yakni teman atau musuh demi membenarkan penindasan".

Korut biasanya mencela musuh-musuhnya dengan cara beragam dalam konteks propaganda. Namun perumpamaan menggunakan sosok Hitler bukanlah hal lazim yang menjadi standar negeri pimpinan Kim Jong-un tersebut.

Pemerintahan Trump diketahui mendorong dijatuhkannya sanksi yang lebih keras atas Korut terkait dengan program nuklir dan misil negara itu. Sementara Pyongyang menilai, AS telah menghalangi pasokan medis dan hal tersebut disebut sebagai "tindakan tidak etis dan tidak manusiawi yang jauh melebihi tingkat blokade yang diterapkan Hitler atas Leningrad".

Pengepungan hampir 900 hari di Leningrad atau sekarang St. Petersburg selama Perang Dunia II telah membuat jutaan orang tewas.

Isu Korut sendiri akan menjadi agenda utama pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Korsel Moon Jae-in. Sejak Presiden Moon dilantik pada Mei lalu, Korut telah beberapa kali melancarkan uji coba rudal.

Pyongyang selama ini kerap menggunakan retorika bombastis bahkan terkadang rasis dan seksis untuk membungkam pemimpin dunia yang "menganggu" rezim Korut. Sebut saja, beberapa waktu lalu, Korut pernah membandingkan Barack Obama dengan seekor monyet setelah presiden ke-44 AS itu mendukung rilis film The Interview, sebuah komedi yang mengejek pemimpin Korut.

Mantan presiden Korsel Park Geun-hye juga pernah menjadi sasaran Korut. Pyongyang menyebut perempuan pertama yang memimpin Korsel itu sebagai "jalang tua yang gila".

Di lain sisi, kematian Otto Warmbier, seorang mahasiswa AS yang ditahan selama 17 bulan di Korut menjadi titik didik antara Negeri Paman Sam dan Pyongyang.

Kejadian yang menimpa Warmbier berawal saat ia mendaftar untuk melakukan perjalanan ke Korea Utara pada musim semi 2016, dengan kelompok wisata Young Pioneer Tours. Dia dijadwalkan menghabiskan lima hari di sana, dilanjutkan dengan kunjungan ke Beijing.

Tapi saat Warmbier hendak pergi ke Beijing dari Bandara Pyongyang, dia diberhentikan oleh petugas keamanan. Menurut pemerintah Korea Utara, Warmbier ditahan karena telah mencuri pamflet politik dari lantai yang terlarang di hotelnya.

Dia mengaku telah melakukan hal tersebut dan memohon pengampunan dan pembebasannya. Namun Korea Utara menjatuhkan hukuman 15 tahun kerja paksa atas dugaan kejahatannya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya