Ini Tujuan 8 WNI Datang ke Singapura Sebelum Dideportasi

Imigrasi Singapura mengenakan status tidak boleh masuk atau Not To Land (NTL) sejak Selasa 10 Januari lalu.

oleh Muslim AR diperbarui 12 Jan 2017, 06:30 WIB
Bendera ISIS (Reuters)

Liputan6.com, Jakarta Sebanyak 8 WNI asal Sumatera Barat yang dilarang masuk oleh Singapura karena diduga terkait ISIS mengaku akan studi banding soal madrasah.

Pihak Imigrasi Singapura mengenakan status tidak boleh masuk atau Not To Land (NTL) sejak Selasa 10 Januari lalu. Pasalnya, pimpinan rombongan ini memiliki foto-foto berkaitan dengan ISIS.

"Mereka ini kan mau studi banding dan pengembangan soal madrasah ke sana, tapi pas mau masuk Singapura dini hari, jam 03.00 pagi, ada foto-foto ISIS di handphone ketua rombongan," ujar Kabag Mitra Biro Penmas Divhumas Polri Kombes Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (11/1/2017).

Usai Imigrasi Singapura mendapati gambar bendera ISIS di handphone salah seorang WNI, mereka langsung dilarang masuk dan dilaporkan. Hingga berita ini ditulis, ke delapan orang tersebut masih diperiksa intensif pihak kepolisian Republik Indonesia.

Ke delapan WNI itu adalah  FH (26), ASA (23), AK (28), SA (19), IO (26), MH (25), REH, dan AHP (21).

Pimpinan rombongan yang berinisial REH, menyimpan gambar yang menyerupai lambang kelompok militan ISIS.

Setelah ditolak masuk Singapura, REH menjalani pemeriksaan di kepolisian Johor. REH mengaku, menerima gambar tersebut dari salah satu grup Whatsapp.

REH pun mengaku telah keluar dari grup Whatsapp tersebut dan menghapus gambar dari galeri telepon pintarnya.

"REH ini mengatakan tidak sadar bahwa gambar tersebut masih ada dalam file manager telepon pintarnya," lanjut Awi.

Namun, berdasarkan keterangan REH di kepolisian Johor, foto-foto itu sudah dihapus.

Muatan gambar tersebut, REH terima secara tak sengaja dari grup Whatsapp dan bukan bertujuan mendukung perjuangan ISIS.

Kini, delapan WNI itu tersebut dibebaskan dan dipulangkan ke Indonesia melalui Batam, Kepulauan Riau. Sekarang, mereka harus menjalani pemeriksaan oleh Polri.

"Setelah diserahkan ke Polri, melalui Kementerian Luar Negeri, saat ini mereka masih diperiksa intensif oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror," ucap Awi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya