Plesetan Musik dari Jepang Berkolaborasi dengan Warga Desa Jateng

kelompok seniman asal Jepang, Dajare, akan berkolaborasi dengan Gangsadewa Ethnic Ansamble.

oleh Switzy Sabandar diperbarui 25 Des 2016, 12:18 WIB
kelompok seniman asal Jepang, Dajare. (Switzy Sabandar/Liputan6.com)

Liputan6.com, Yogyakarta - Sekelompok seniman asal Jepang, Dajare, akan berkolaborasi dengan warga Desa Jatinom, Klaten. Mereka akan menyuguhkan musik kreatif yang memadukan seni tradisi dan modern di Padepokan Ash-Somad Internasional Jatianom, Klaten, Kamis (29/12/2016).

Keduanya dipertemukan oleh komposer Gangsadewa Ethnic Ansamble, Memet Chairul Slamet, dalam pertunjukan bertajuk Tokyo Sobo Joglo.

"Tokyo Sobo Joglo menjadi bentuk sebuah persahabatan dari dua pencipta musik yang berjauhan, Jepang dan Jogja," ujar Memet dalam jumpa pers di Bantul, Yogyakarta, Jumat (23/12/2016).

kelompok seniman asal Jepang, Dajare, akan menggelar pertunjukan di Padepokan Ash-Somad Internasional Jatianom, Klaten pada 29 Desember 2016. (Switzy Sabandar/Liputan6.com)

Ungkapan itu ditujukan Memet kepada Makoto, komposer Dajare. Mereka sudah saling kenal sejak lima tahun lalu dan pernah bertemu dalam pertunjukan musik di Jepang. Menurut Memet, ia dan Makoto memiliki perilaku yang sama dalam menghasilkan karya, yakni selalu bersinggungan dengan alam dan kehidupan.

Memet mencontohkan, dirinya membuat musik batu, musik air, dan sebagainya, sedangkan Makoto menghasilkan musik toilet, musik genteng, dan sejenisnya.

Memet memanfaatkan kedatangan Makoto bersama dengan 15 personel Dajare untuk lebih mengenal budaya serta tradisi Indonesia. Dalam hal ini pilihan dijatuhkan ke Jatinom yang kaya sejarah dan latar belakang, serta tradisi budayanya berkembang.

Jatinom merupakan sebuah kota purba terletak di kaki Gunung Merapi, yang sudah ada sejak abad ke-14 atau pada masa Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-18, Pangeran Diponegoro pun pernah menginap di lahan yang akan menjadi tempat pertunjukan Tokyo Sobo Joglo. Wilayah itu dulu merupakan tempat persembunyian atau gerilya Diponegoro. Situs-situs agama Islam pun banyak ditemukan di tempat itu.

"Pada pertunjukan itu, Gangsadewa hanya menyiapkan beberapa repertoar saja, karena yang kami utamakan adalah tamu," kata Memet.

Kelompok seniman asal Jepang, Dajare, akan menggelar pertunjukan di Padepokan Ash-Somad Internasional Jatianom, Klaten pada 29 Desember 2016. (Switzy Sabandar/Liputan6.com)

Sementara, Makoto menuturkan Dajare yang berarti plesetan menyuguhkan pertunjukan musik kontemporer yang atraktif karena disertai dengan gerakan lucu dan menghibur.

"Ini menjelaskan irama musik tradisional Jepang yang dimainkan dengan berbagai alat musik serta vokal, dan disertai gerakan," ujarnya.

Di Jepang, hanya ada satu kelompok Dajare. Total anggota berjumlah 40 orang dari beragam latar belakang, mulai desain grafis sampai mahasiswi. Dalam jumpa pers tersebut mereka menampilkan satu repertoar berjudul Kerosinzo. Para seniman menyuarakan irama suara kodok secara kanon atau saling berkejaran.

"Dalam pertunjukan nanti kami hanya menyiapkan dua sampai tiga repertoar, sisanya kolaborasi dengan warga Jatinom dan hasil dari workshop," kata Makoto.

Pada 27 Desember 2016, Makoto dijadwalkan mengisi workshop di ISI Yogyakarta. Sehari setelahnya, diadakan pementasan bersama dengan mahasiswa ISI Yogyakarta dan Gangsadewa di Concert Hall ISI.

Ketua Yayasan Ash Shomad Titik Sismadi menyebutkan beberapa kelompok seni Jatinom yang akan berkolaborasi, antara lain, karawitan SDN 1 Krajan, Bambu Runcing, Saron Pangruyuk, Kroncong Sholawat, dan sebagainya.

"Tujuannya satu, saling mengenal budaya serta nguri-uri kabudayan," kata Titik.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya