Cerita Sumur Tua Daeng Kulle Tak Pernah Kering Meski Kemarau

Sumur ini sudah berusia 35 tahun.

oleh Eka Hakim diperbarui 22 Agu 2016, 08:09 WIB
(Eka Hakim/Liputan6.com)

Liputan6.com, Makassar - Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan, selalu menjadi langganan kekeringan setiap musim kemarau melanda.

Daerah yang permukaan tanahnya ditutupi oleh batu cadas itu menjadi faktor utama penyebab permukiman warga di kawasan tersebut kesulitan mendapatkan air. Terlebih setiap musim kemarau.

Namun, ada hal yang menarik jika musim kemarau melanda wilayah pinggiran kota tersebut. Mereka yang tadinya jarang bertemu karena kesibukan masing-masing akhirnya bersua di sebuah sumur tua.

(Eka Hakim/Liputan6.com)


Sumur itu berada di tengah perkebunan ubi, tepatnya di daerah Batu Tambung Kelurahan, Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulsel. Sumur itu merupakan milik seorang warga setempat bernama Daeng Kulle (46).

Mereka saling menegur sapa dalam sebuah antrean panjang untuk mendapatkan air bersih dari sumur tua itu. Sumur tua itu memang satu-satunya yang menjadi sumber air yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih warga selama musim kemarau ini.

(Eka Hakim/Liputan6.com)


"Ya, setiap tahun di musim kemarau, warga setempat hanya mengambil air di sumur yang usianya sudah 35 tahun ini. Sumur ini disebut warga di sini sebagai sumur tua," kata Daeng Kulle saat ditemui Liputan6.com di sela-sela menimba air dari dalam sumur tua, Minggu (21/8/2016).

Kulle mengungkapkan, tak ada perawatan khusus pada sumur tua yang merupakan karya dari neneknya itu. Dia bercerita, dahulu sumur tua itu hanya memiliki kedalaman empat meter dan perlahan digali hingga saat ini mencapai kedalaman delapan meter.

"Air dalam sumur ini tak pernah kering dan dulunya hanya digunakan menyiram tanaman ini yang ada di kebun ini. Tapi karena warga berdatangan menginginkan airnya, sehingga sumur ini selalu menjadi incaran ketika musim kemarau datang," tutur Kulle.

Sumur ini, kata dia, sampai sekarang masih tak berubah bentuk.

"Bentuk sumurnya kita lihat saja masih bentuk kuno tanpa plesteran semen. Bibir sumurnya saja rata dengan permukaan tanah. Dibiarkan saja begitu karena selama ini memang hanya digunakan untuk menyiram kebun. Nanti pada musim kemarau baru warga manfaatkan airnya untuk kebutuhan sehari-hari," Kulle memaparkan.

Tak hanya untuk keperluan mandi, warga setempat pun menggunakan air dalam sumur tua itu untuk memasak dan mencuci pakaian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya