Tantowi Yahya: Menggunakan Media Sosial, Jangan Baper

Media sosial juga dapat digunakan sebagai personal branding.

oleh Devira Prastiwi diperbarui 30 Apr 2016, 15:40 WIB
(Ilustrasi)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang di Indonesia yang menggunakan media sosial untuk mengekspresikan diri. Namun, penggunaannya harus bijak dan jangan terbawa perasaan saat mencurahkan isi hati.

Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya mengatakan, setelah seseorang menggunakan media sosial, maka ia akan masuk dalam 2 dunia. Nyata dan tidak nyata.

Sebagai politikus, dia memerlukan media sosial. Sebab isu yang muncul juga banyak bersumber dari sana. Namun, Tantowi juga mengingatkan agar pengguna sosial tidak terbawa perasaan.

"Bila masuk dalam dunia lain itu pengguna jangan baper, bawa perasaan, sebab dunia ini penuh dengan dinamika, baik dan buruk. Dalam dunia yang baper itu membuat orang enggan atau trauma dalam menggunakan media sosial," ujar Tantowi saat bedah buku berjudul The Art of Social Media di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Jumat 29 April 2016.
 
Menurut Tantowi, media sosial adalah aset yang bisa digunakan untuk kepentingan bangsa. Sebab, media sosial digunakan jutaan orang dan penuh keterbukaan.

"Media sosial mempunyai sisi negatif. Bila media sosial digunakan secara keliru hal demikian justru akan membuat demokrasi tersumbat. Ada orang-orang yang baik akan takut, trauma, menggunakan media sosial sebab bila mereka mengunggah status ia akan di-bully oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," tutur Tantowi.


Sementara itu, menurut seorang pengguna media sosial Kartika Djoemadi, perlu menggunakan seni dalam berkomunikasi di ruang publik. Sebab, saat ini sudah ada aturan dalam penggunaan media sosial yaitu Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Dalam undang-undang itu dijelaskan apa dan bagaimana dalam berkomunikasi. Dengan adanya aturan itu media sosial bisa bermanfaat," ungkap Kartika.

Kartika mengatakan, selama ini media sosial banyak digunakan untuk beragam kepentingan. Contohnya, personal branding atau pencitraan diri.

"Media sosial juga digunakan sebagai pencitraan bagi politisi untuk membangun kepercayaan dan menyerap aspirasi, update status, dan juga bisa digunakan oleh masyarakat untuk membentuk klub hobi, dan sebagainya," ujar Kartika.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya