3 Hal Ini Rupanya Tak Pengaruhi Minat Investasi di RI

Isu kenaikan harga energi dan UMP serta pelemahan nilai tukar rupiah tidak menjadi penghalang bagi investor untuk tanam uang di RI.

oleh Septian Deny diperbarui 05 Mei 2015, 15:58 WIB
Ilustrasi Investasi (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan bahwa isu-isu terkait kenaikan harga energi, kenaikan upah minimum provinsi (UMP) dan pelemahan nilai tukar rupiah tidak menjadi penghalang bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Kepala BKPM Franky Sibarani mencontohkan, rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang dilakukan oleh pemerintah pada bulan ini tidak otomatis membuat investor dari semua sektor menahan investasinya. Menurutnya, hanya beberapa sektor saja yang masih akan mempertimbangkan investasinya akibat kenaikan tersebut.

"Untu industri pengolahan yang cukup tinggi cost-nya itu kan bahan baku (bukan energi). Jadi sektornya dimana dulu. Seperti sektor mamin (makanan dan minuman) naik, industri berbasis tambang naik besar. Hanya baja sedang berhenti karena harga baja murah," ujarnya di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (5/5/2015).

Sementara itu, terkait maraknya tuntutan kenaikan UMP, Franky menilai bahwa hal tersebut tidak realistis untuk saat ini. Pasalnya kondisi ekonomi Indonesia dinilai tengah mengalami pelemahan.

"Tuntutan itu kami melihat dalam situasi ini itu tidak terlalu realistis. Pertumbuhan melemah, daya beli melemah, kemudian kita menuntut lebih. Harusnya yang didorong adalah kesempatan kerja yang lebih luas. Kemudian keberlangsungan proses industri," lanjutnya.

Menurut dia, yang paling penting saat ini sebenarnya adalah bagaimana menjaga agar industri yang ada tetap berproduksi sehingga tenaga kerja yang ada tidak kehilangan pekerjaan dan industri bisa terus mengembangkan investasinya.

"Jadi kita sebenarnya harus mendorong bagaimana industri minimal yang ada tetap berproduksi," kata dia.

Sedangkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih berlangsung hingga saat ini, Franky menyatakan hal tersebut berpengaruh besar pada minat investasi. Pasalnya, dari empat negara yang memiliki ketertarikan tinggi untuk berinvestasi di Indonesia, dia satu pun yang menggunakan dolar AS.

"Saya sudah tanya banyak ke investor, rupanya  tren kita masuk kesini 4 negara terbesar investor kita seperti Cina, Taiwan, Korea, dan Jepang, mereka tidak menggunakan uang dolar, jadi mereka tidak terpengaruh baik anjloknya kurs maupun saham. Mereka cenderung stabil," tandasnya. (Dny/Ndw)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya