Liputan6.com, Jakarta: Anak-anak tetaplah bocah. Dunianya adalah bermain. Meski berada di tempat pengungsian, anak-anak korban Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam tak pernah kehilangan keceriaannya. Senyum dan derai tawa masih mengisi hari-hari mereka. Namun, ribuan cut dan agam yang berhasil lolos dari bencana ini tak pernah menyangka ada bahaya lain yang tengah mengintai. Terbetik kabar, tak sedikit anak-anak malang ini justru diperebutkan bahkan diperdagangkan.
Kabar itu berembus dari kamp-kamp penampungan sekitar 40 ribu anak-anak Aceh yang tercerai-berai dari orang tua dan keluarga. Yayasan Aceh Sepakat, misalnya, mengaku kecolongan lebih dari 100 anak selama dua pekan ini. Anak-anak itu kebanyakan diambil orang-orang yang tak jelas identitas dan kepentingannya [baca: Anak Korban Tsunami Rawan Penculikan].
Menurut Zulkifli Hamzah petugas Yayasan Aceh Sepakat yang juga Ketua Pos Koordinasi Penampungan Pengungsi Korban Tsunami Aceh, "pemburu" anak ini tak hanya warga lokal tapi juga datang dari negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, Jepang, bahkan Swedia. Modus yang mereka pakai biasanya mengaku kerabat atau yayasan sosial agar proses pengambilan tidak berbelit-belit. Namun tak jarang mereka datang sambil mengiming-imingi sejumlah uang.
Berbekal informasi itu, Tim Sigi SCTV lalu mendatangi Yayasan Budi Citra di Jalan Selam IV, Medan, Sumatra Utara, belum lama. Yayasan ini disebut Yayasan Aceh Sepakat pernah mengambil 20 anak dari tempat penampungan mereka. Ternyata di jalan itu tak ada nama yayasan yang dimaksud alias fiktif. Di jalan tersebut memang ada tempat penampungan pengungsi Aceh yakni di Perguruan Budi Cipta. Perguruan ini memang mengakui menampung sekitar 200 pengungsi. Namun, mereka tak pernah mengambil anak dari Aceh Sepakat apalagi menjualnya.
Perburuan anak Aceh juga marak terjadi di Rumah Penampungan Sosial Anak (RSPA) Medan. Di tempat ini, sedikitnya 110 orang mendaftarkan diri ingin memungut anak-anak korban Tsunami. Bocah bawah usia lima tahun (balita) menjadi anak yang paling dicari.
Kisruh perdagangan dan perebutan anak-anak Aceh ternyata merembet hingga ke Jakarta. Cemas, panik, dan bingung berbaur menjadi satu saat evakuasi anak-anak korban Tsunami berlangsung. Warga Aceh yang lama menetap di Ibu Kota bertekad untuk menyelamatkan bocah-bocah malang itu dari ancaman perdagangan anak. Bermodalkan kepercayaan, anak-anak itu diserahkan ke sebuah yayasan pendidikan Islam, Fajar Hidayah.
Belakangan, keberadaan Fajar Hidayah sempat diragukan. Alasannya, sejumlah laporan menyebutkan anak-anak Aceh itu satu per satu dijemput kerabat masing-masing dari berbagai daerah. Namun, kecurigaan itu sirna setelah beberapa pemuda Aceh dari Yayasan Taman Iskandar Muda menyambangi Kantor Fajar Hidayah di kawasan Kota Wisata Cibubur, Jakarta Timur. Di tempat itu, 10 anak dan dua pendamping masih tinggal dan menunggu dijemput saudara mereka.
Salah satu kasus pengambilan anak Aceh yang cukup menyita perhatian adalah proses adopsi Yonanda Aulia Putri oleh Deputi Operasi Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Didi Widayadi [baca: Yonanda Menjadi Anak Angkat Didi Widayadi]. Gadis kecil berusia 11 tahun asal Banda Aceh, ini terpisah dari orang tua dan empat saudaranya saat Tsunami menghantam. Putri sempat terdampar di pengungsian Blang Bintang, Banda Aceh, sebelum dibawa Didi ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, untuk menjalani operasi karena batok kepalanya tertusuk paku.
Namun, niat mulia Didi urung dilaksanakan karena keluarga Putri ternyata selamat dari terjangan gelombang. Hanya selang dua pekan, ibunya Juariah dan tiga saudara Putri ditemukan dan menyusul ke Jakarta atas biaya Didi. Tak berkesudahan rasanya Juariah mengucap terima kasih kepada keluarga Didi yang telah merawat Putri. Layaknya seorang ibu, Juariah berniat membawa buah hatinya berkumpul dan membangun kembali mimpi-mimpi indah di Tanah Rencong.
Namun tak semua bocah Aceh bernasib semujur Putri. Tak sedikit anak-anak korban "menghilang" saat dievakuasi. Seperti ditelan bumi, keberadaan mereka tak bisa dilacak. Yayasan Fajar Hidayah sendiri mengaku ada beberapa anak yang hingga kini belum ditemukan. Padahal, mereka termasuk dalam rombongan yang dievakuasi pada 2 Januari silam.
Tak bisa dimungkiri, terpisahnya anak-anak Aceh dari keluarga membuka celah bagi sindikat perdagangan anak (trafficking) untuk bermain. Kemungkinan itu dibenarkan perwakilan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-Anak (Unicef) Indonesia Kendarti Subroto. Menurut dia, situasi sangat rawan mengingat jumlah anak yang terpisah mencapai 35 ribu hingga 100 ribu. Untuk menghidari hal tersebut, Unicef membangun 20 tempat pusat perlindungan anak. Selain itu, 110 relawan juga sudah diterjunkan untuk mendata setiap anak di tempat-tempat pengungsian.
Namun hingga saat ini pemerintah dan polisi kesulitan mengatasi bahaya traficking yang mengancam anak Aceh. Seperti diungkapkan aktivis Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, perdagangan anak memang terjadi di tengah hiruk-pikuk penanganan bencana. Namun hingga saat ini, belum ada data konkret tentang nasib anak-anak di pengungsian. "Seperti fenomena gunung es," ungkap Seto Mulyadi.
Sebagai antisipasi, Komnas Perlindungan Anak saat ini tengah mendata secara manual anak-anak korban Tsunami di 20 titik pengungsian. Untuk itu, Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto meminta dukungan yang lebih profesional dari pemerintah sehingga data tersebut bisa diinformasikan ke semua pihak.
Menanggapi maraknya permintaan adopsi, Kak Seto mengimbau untuk dihentikan. Baginya, persoalan adopsi tak perlu diperdebatkan lagi karena pemerintah sudah mengeluarkan lampu merah soal adopsi anak Aceh. "Kalau ingin membantu, jadilah orang tua asuh," tambah Kak Seto. Terakhir Kak Seto menyarankan, semua pihak yang ingin membantu hendaknya menyediakan panti sosial dengan fasilitas kesehatan, ahli psikiater, dan tenaga sosial. Itu semua diperlukan buat memulihkan guncangan mental yang dialami anak Aceh.(TOZ/Tim Sigi)
Kabar itu berembus dari kamp-kamp penampungan sekitar 40 ribu anak-anak Aceh yang tercerai-berai dari orang tua dan keluarga. Yayasan Aceh Sepakat, misalnya, mengaku kecolongan lebih dari 100 anak selama dua pekan ini. Anak-anak itu kebanyakan diambil orang-orang yang tak jelas identitas dan kepentingannya [baca: Anak Korban Tsunami Rawan Penculikan].
Menurut Zulkifli Hamzah petugas Yayasan Aceh Sepakat yang juga Ketua Pos Koordinasi Penampungan Pengungsi Korban Tsunami Aceh, "pemburu" anak ini tak hanya warga lokal tapi juga datang dari negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, Jepang, bahkan Swedia. Modus yang mereka pakai biasanya mengaku kerabat atau yayasan sosial agar proses pengambilan tidak berbelit-belit. Namun tak jarang mereka datang sambil mengiming-imingi sejumlah uang.
Berbekal informasi itu, Tim Sigi SCTV lalu mendatangi Yayasan Budi Citra di Jalan Selam IV, Medan, Sumatra Utara, belum lama. Yayasan ini disebut Yayasan Aceh Sepakat pernah mengambil 20 anak dari tempat penampungan mereka. Ternyata di jalan itu tak ada nama yayasan yang dimaksud alias fiktif. Di jalan tersebut memang ada tempat penampungan pengungsi Aceh yakni di Perguruan Budi Cipta. Perguruan ini memang mengakui menampung sekitar 200 pengungsi. Namun, mereka tak pernah mengambil anak dari Aceh Sepakat apalagi menjualnya.
Perburuan anak Aceh juga marak terjadi di Rumah Penampungan Sosial Anak (RSPA) Medan. Di tempat ini, sedikitnya 110 orang mendaftarkan diri ingin memungut anak-anak korban Tsunami. Bocah bawah usia lima tahun (balita) menjadi anak yang paling dicari.
Kisruh perdagangan dan perebutan anak-anak Aceh ternyata merembet hingga ke Jakarta. Cemas, panik, dan bingung berbaur menjadi satu saat evakuasi anak-anak korban Tsunami berlangsung. Warga Aceh yang lama menetap di Ibu Kota bertekad untuk menyelamatkan bocah-bocah malang itu dari ancaman perdagangan anak. Bermodalkan kepercayaan, anak-anak itu diserahkan ke sebuah yayasan pendidikan Islam, Fajar Hidayah.
Belakangan, keberadaan Fajar Hidayah sempat diragukan. Alasannya, sejumlah laporan menyebutkan anak-anak Aceh itu satu per satu dijemput kerabat masing-masing dari berbagai daerah. Namun, kecurigaan itu sirna setelah beberapa pemuda Aceh dari Yayasan Taman Iskandar Muda menyambangi Kantor Fajar Hidayah di kawasan Kota Wisata Cibubur, Jakarta Timur. Di tempat itu, 10 anak dan dua pendamping masih tinggal dan menunggu dijemput saudara mereka.
Salah satu kasus pengambilan anak Aceh yang cukup menyita perhatian adalah proses adopsi Yonanda Aulia Putri oleh Deputi Operasi Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Didi Widayadi [baca: Yonanda Menjadi Anak Angkat Didi Widayadi]. Gadis kecil berusia 11 tahun asal Banda Aceh, ini terpisah dari orang tua dan empat saudaranya saat Tsunami menghantam. Putri sempat terdampar di pengungsian Blang Bintang, Banda Aceh, sebelum dibawa Didi ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, untuk menjalani operasi karena batok kepalanya tertusuk paku.
Namun, niat mulia Didi urung dilaksanakan karena keluarga Putri ternyata selamat dari terjangan gelombang. Hanya selang dua pekan, ibunya Juariah dan tiga saudara Putri ditemukan dan menyusul ke Jakarta atas biaya Didi. Tak berkesudahan rasanya Juariah mengucap terima kasih kepada keluarga Didi yang telah merawat Putri. Layaknya seorang ibu, Juariah berniat membawa buah hatinya berkumpul dan membangun kembali mimpi-mimpi indah di Tanah Rencong.
Namun tak semua bocah Aceh bernasib semujur Putri. Tak sedikit anak-anak korban "menghilang" saat dievakuasi. Seperti ditelan bumi, keberadaan mereka tak bisa dilacak. Yayasan Fajar Hidayah sendiri mengaku ada beberapa anak yang hingga kini belum ditemukan. Padahal, mereka termasuk dalam rombongan yang dievakuasi pada 2 Januari silam.
Tak bisa dimungkiri, terpisahnya anak-anak Aceh dari keluarga membuka celah bagi sindikat perdagangan anak (trafficking) untuk bermain. Kemungkinan itu dibenarkan perwakilan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-Anak (Unicef) Indonesia Kendarti Subroto. Menurut dia, situasi sangat rawan mengingat jumlah anak yang terpisah mencapai 35 ribu hingga 100 ribu. Untuk menghidari hal tersebut, Unicef membangun 20 tempat pusat perlindungan anak. Selain itu, 110 relawan juga sudah diterjunkan untuk mendata setiap anak di tempat-tempat pengungsian.
Namun hingga saat ini pemerintah dan polisi kesulitan mengatasi bahaya traficking yang mengancam anak Aceh. Seperti diungkapkan aktivis Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, perdagangan anak memang terjadi di tengah hiruk-pikuk penanganan bencana. Namun hingga saat ini, belum ada data konkret tentang nasib anak-anak di pengungsian. "Seperti fenomena gunung es," ungkap Seto Mulyadi.
Sebagai antisipasi, Komnas Perlindungan Anak saat ini tengah mendata secara manual anak-anak korban Tsunami di 20 titik pengungsian. Untuk itu, Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto meminta dukungan yang lebih profesional dari pemerintah sehingga data tersebut bisa diinformasikan ke semua pihak.
Menanggapi maraknya permintaan adopsi, Kak Seto mengimbau untuk dihentikan. Baginya, persoalan adopsi tak perlu diperdebatkan lagi karena pemerintah sudah mengeluarkan lampu merah soal adopsi anak Aceh. "Kalau ingin membantu, jadilah orang tua asuh," tambah Kak Seto. Terakhir Kak Seto menyarankan, semua pihak yang ingin membantu hendaknya menyediakan panti sosial dengan fasilitas kesehatan, ahli psikiater, dan tenaga sosial. Itu semua diperlukan buat memulihkan guncangan mental yang dialami anak Aceh.(TOZ/Tim Sigi)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441352/original/085354000_1765504848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-12T084357.150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528523/original/006924900_1773286985-cek_fakta_-_ikan_budidaya_link_pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380756/original/071937100_1792737316-Screenshot_2026-10-23_124005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380731/original/013852100_1792736272-cek_fakta_-_ikan_budidaya_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/430360/original/130105csigi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)