Sukses

2015, Pangsa Pasar Robot Akan Naik Dua Kali Lipat

Pertumbuhan pasar robot yang kian pesat membuat sebagian perusahaan rela mengeluarkan dana lebih untuk memproduksi robot. Beberapa analis menganggap, ke depannya peran robot diprediksi semakin penting. Tak hanya membantu proses produksi di perusahaan manufaktur, tetapi juga sebagai mesin pembantu manusia sehari-hari.

Menurut perhitungan Komite Prospeksi dan Antisipasi Mutasi Ekonomi Antar-Kementerian (PIPAME) yang bertugas menganalisis perkembangan para pelaku utama dan sektor ekonomi yang sedang bermutasi, pangsa pasar robot sebagai mesin pembantu kalangan perorangan dan profesional diperkirakan akan naik berlipat ganda.

Di tahun 2015 pasar global diprediksi akan mencapai omset US$ 8 miliar atau sekitar Rp 97,5 triliun untuk robotika perorangan dan US$ 18 miliar atau sekitar Rp 219,5 triliun untuk robotika kalangan profesional.


Google Dirikan Kerajaan Robot
Potensi bisnis robotika yang besar, membuat beberapa perusahaan berani membeli perusahaan baru yang bisnis utamanya agak 'menyimpang'. Salah satunya adalah Google, yang belum lama ini menuntaskan deal strategis dengan mengakuisisi tujuh perusahaan robot untuk mewujudkan 'revolusi robot' di sektor teknologi.

Menurut laman Mail Online yang dikutip Jumat (27/12/2013), ketujuh perusahaan robot itu adalah Autofuss, Bot & Dolly, Holomni, Industrial Perception, Meka Robotics, Redwood Robotics, dan Schaft. Investasi Google di perusahaan-perusahaan tersebut dipimpin langsung oleh pendiri sistem operasi Android, Andy Rubin.

Belum jelas robot seperti apa yang nantinya akan dikembangkan Google. Namun Rubin mengatakan, perusahaan pengembangan proyek robot ini akan bermarkas di Palo Alto, California, dan Jepang.

Suatu saat nanti tak menutup kemungkinan kalau robot besutan Google akan banyak digunakan di rumah tangga yang dilengkapi dengan layanan lengkap Google. Yang pasti Google memiliki rencana besar di balik akuisisi tersebut.


Google Caplok Boston Dynamics
Belum puas mencaplok tujuh perusahaan robot, Google dilaporkan mengakuisisi Boston Dynamics. Perusahaan ini dikenal memiliki reputasi bagus dalam pembuatan robot. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah robot yang mampu berlari lebih cepat dari juara dunia atletik Usain Bolt dan dapat melompat setinggi 30 kaki.

Maka tak heran jika Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) kerap menggunakan jasa Boston Dynamics dalam proyek pengembangan teknologi militer. Dalam kerjasama ini muncul spekulasi, bahwa Google akan bekerjasama dengan pemerintah Amerika Serikat untuk mensuplai teknologi militer.

Namun, tidak ada informasi berapa investasi yang dikeluarkan Google untuk mengakuisisi perusahaan robot tersebut. Pendiri Boston Dynamics Marc Raibert hanya mengatakan, bahwa dirinya senang dengan Andy Rubin dan Google yang selalu berpikir ke depan untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

Dilaporkan Independent, jika dihitung nilai kontrak dengan Departemen Pertahanan Amerika, Boston Dynamics mengalahkan Google. Perusahaan ini telah memenangkan tender sekitar US$ 140 juta atau Rp 1, 7 triliun sejak tahun 2000. Sementara Google hanya bisa meraup US$ 300 ribu atau sekitar Rp 3,6 miliar untuk tender proyek keamanan dan pertahanan.

Oleh karena itu, Andy Rubin dan timnya berharap bisa mengambil manfaat dari akuisisi Boston Dynamics mulai tahun depan dan bisa segera menghasilkan keuntungan dari bisnis robot tersebut.


Amazon dan DHL Bersaing
Tak hanya Google, situs jual beli Amazon dan perusahaan pengiriman ekspres DHL juga tengah bersaing untuk mengembangkan robot berupa pesawat tanpa awak (drone) yang akan digunakan untuk mengirim paket kepada pelanggannya.

Drone milik DHL yang dijuluki 'Paketkopter' dapat terbang pada ketinggian 50 meter dan berhasil menempuh perjalanan satu kilometer dengan mengangkut paket hingga 3 kilogram. Dan hebatnya, pesawat yang dikendalikan dengan remote control itu mampu menyelesaikan perjalanan hanya dalam waktu dua menit.

Sedangkan drone milik Amazon dijuluki 'Octocopers', bisa mengangkut paket mencapai 2,3 kilogram yang diterbangkan dengan radius 16 kilometer dan dapat mengantar pesanan ke konsumen dalam kurun waktu sekitar 30 menit.

Namun layanan tersebut, kata Chief Executive Officer Amazon Jeff Bezos, kemungkinan baru bisa diluncurkan lima tahun mendatang. Selain itu, Amazon juga memerlukan izin dari Otoritas Penerbangan Amerika Serikat (FAA) terkait penerbangan pesawat sipil tanpa awak. (isk)


Baca juga:
Tak Cuma Bantu Manusia, Robot Juga Dijadikan Pemuas Birahi
Istilah Robot Lahir Dari Pertunjukan Drama
Perkembangan Robot di Jepang Terinspirasi Dari Sebuah Boneka
Perkembangan Robot di Indonesia Berawal Dari 'Tikus'?
Tak Hanya Cerdik, Wajah Robot Juga Kian Ciamik
Unik, Robot Dapat Dikontrol Lewat Pikiran dan Air Seni





 

Loading