Kompleksitas Sistem dan Serangan Berbasis AI Jadi Ancaman Serius Keamanan Siber di Indonesia

69 persen perusahaan menyatakan kekhawatirannya terhadap serangan siber yang memanfaatkan teknologi AI.

Diterbitkan 07 Mei 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan keamanan siber Fortinet Indonesia menyoroti dua tantangan besar yang tengah membayangi organisasi (perusahaan) di Tanah Air, yaitu lonjakan ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) serta kompleksitas sistem keamanan digital yang kian rumit.

Penggunaan solusi keamanan yang kompleks dinilai menjadi celah fatal dalam perlindungan data perusahaan.

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, mengungkapkan mayoritas perusahaan masih terjebak dalam pola implementasi keamanan siber yang bersifat "silo" atau terpisah-pisah. Kondisi ini membuat pengelolaan keamanan secara menyeluruh menjadi sulit dilakukan.

“Dulu, jika butuh perlindungan email, perusahaan membeli satu produk. Butuh firewall atau endpoint, beli merek lain lagi. Akibatnya, perusahaan memiliki terlalu banyak alat yang sulit dipelajari dan dioperasikan,” ujar Edwin, dikutip dari Antara, Kamis (7/5/2026).

Berdasarkan studi terbaru Fortinet bersama Forrester Consulting, 64 persen organisasi di Asia Pasifik mengakui bahwa kompleksitas arsitektur keamanan merupakan hambatan utama operasional mereka. Hal ini memicu masalah turunan, di antaranya:

  • 46 persen organisasi merasa kewalahan menghadapi volume peringatan keamanan (security alerts) yang berlebihan.
  • 43 persen organisasi masih bergantung pada proses manual dalam menangani insiden siber.

Kondisi tersebut menyebabkan organisasi lambat dalam mendeteksi dan merespons ancaman, terutama di tengah volume serangan yang terus meningkat.

 

Tren Konsolidasi Menuju Platform Terpadu

Menanggapi masalah ini, Edwin menjelaskan bahwa tren industri global kini bergeser ke arah pendekatan berbasis platform yang terintegrasi.

Langkah konsolidasi vendor mulai direkomendasikan oleh lembaga riset seperti Gartner dan IDC untuk menyederhanakan pengelolaan.

Saat ini, baru sekitar 29 persen organisasi yang mengoperasikan platform keamanan terpadu. Namun, angka ini diproyeksikan melonjak hingga 60 persen dalam dua tahun ke depan.

 

AI 'Pedang Bermata Dua'

Selain masalah sistem, ancaman berbasis AI menjadi momok baru. Sebanyak 69 persen organisasi menyatakan kekhawatirannya terhadap serangan yang memanfaatkan teknologi ini.

Edwin memperingatkan bahwa pelaku kejahatan siber kini menggunakan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas serangan mereka. Namun, AI juga menjadi kunci pertahanan.

VP of Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey, menekankan bahwa implementasi AI untuk deteksi otomatis memerlukan fondasi data yang kuat dan terintegrasi.

"Tanpa integrasi, AI justru berisiko memperbesar kompleksitas dan menambah tantangan baru bagi tim keamanan," Rashish menegaskan.