Dorong Kedaulatan Digital, Red Hat Indonesia Ajak Industri Bangun Ekosistem AI Berbasis Open Source

Country Manager Red Hat Indonesia, Vony Tjiu menjelaskan esensi dari open source adalah menciptakan teknologi yang lebih transparan, dapat diakses, dan aman.

Diterbitkan 30 April 2026, 17:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kekuatan kolektif dan kolaborasi komunitas menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan di era kecerdasan buatan (AI). Hal ini ditegaskan Country Manager Red Hat Indonesia, Vony Tjiu, yang menekankan bahwa inovasi tidak bisa terjadi secara soliter, melainkan harus dilakukan bersama-sama melalui semangat open source.

Di sela gelaran Red Hat Tech Day: Jakarta 2026, ia menggarisbawahi pentingnya Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi produsen dalam ekosistem AI global.

Menanggapi pesatnya pertumbuhan model AI dari Amerika Serikat, China, hingga Korea Selatan, Vony melontarkan tantangan bagi talenta lokal.

"Model AI baru bermunculan setiap hari. Pertanyaannya, Indonesia di mana? Kita harus menjadi produser AI, jangan hanya mengonsumsi. Red Hat berkomitmen membantu menciptakan National AI Framework melalui demokratisasi inovasi berbasis open source agar teknologi ini bisa diakses oleh siapa saja," ujar Vony, Kamis (30/4/2026) di Jakarta.

Vony menjelaskan esensi dari open source adalah menciptakan teknologi yang lebih transparan, dapat diakses, dan aman.

Dengan melibatkan banyak kontributor, inovasi dapat lahir lebih cepat dibandingkan pengembangan tertutup. Red Hat ingin membawa semangat ini ke dalam pengembangan AI di Tanah Air.

Salah satu fokus utama yang diusung adalah bagaimana membangun intelligent application yang mampu memahami penggunanya secara mendalam. Untuk mencapai hal tersebut, Red Hat menjembatani dua dunia: infrastruktur tradisional (seperti OS dan otomasi) dengan lapisan AI modern.

"Kami memberikan alat, koneksi, dan keahlian agar manfaat teknologi benar-benar terasa. Kami ingin pelanggan kami berani maju, the way is forward. Tidak ada gunanya melihat ke belakang," tuturnya dengan penuh optimisme.

 

Fleksibilitas Infrastruktur sebagai Prioritas Nasional

Vony juga menyinggung pentingnya kedaulatan infrastruktur digital. Ia menekankan bahwa infrastruktur harus menjadi prioritas nasional dengan prinsip yang selaras dengan visi pemerintah: Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.

"Konektivitas itu penting untuk tumbuh sebagai negara, tetapi paling krusial adalah 'Terjaga', yang artinya harus aman. Jangan sampai kita terkoneksi dan tumbuh, tapi sistem kita tidak terlindungi," ucapnya.

Dalam hal teknis, Red Hat menawarkan solusi yang memutus batasan ketergantungan pada perangkat keras tertentu. Di tengah kelangkaan GPU global, Red Hat bekerja sama dengan berbagai penyedia akselerator seperti Intel, AMD, hingga pemain regional seperti Rebellion (Korea) dan MetaX (China).

 

Visi Ekonomi Digital 2030

Hal tersebut diklaim bisa memberikan kebebasan bagi perusahaan Indonesia untuk terus berinovasi tanpa terhambat masalah rantai pasok global.

Dengan potensi ekonomi digital Indonesia yang diprediksi memberikan kontribusi hingga 40% bagi ASEAN pada tahun 2030, Vony melihat adanya peluang luar biasa bagi organisasi yang sudah siap secara teknologi.

"Peluang AI itu besar bagi mereka yang siap. Jika tidak, mereka akan tertinggal. Melalui kolaborasi dan penggunaan teknologi yang tepat, kita bisa mengubah tantangan kompleksitas menjadi terobosan yang membawa Indonesia ke depan panggung digital dunia," Vony memungkaskan.

Â