Lebih dari Sekadar Layar, Samsung Ingin TV Jadi Galeri Seni yang Menyatu dengan Interior Rumah

Melalui Art Store, Samsung menyediakan akses ke lebih dari 5.000 karya seni dari 800 seniman global, termasuk kolaborasi dengan institusi ternama seperti MoMA.

Diterbitkan 12 Januari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Televisi (TV) tidak lagi dipandang sebagai perangkat hiburan semata, melainkan sudah menjadi elemen dekorasi dan cerminan kepribadian pemiliknya. Pergeseran tren ini juga merambah ke konsumen di Indonesia.

Presiden Samsung Electronics Indonesia, Harry Lee, bahkan melihat potensi besar dalam pasar lifestyle di Tanah Air, di mana tren personalisasi dan integrasi seni menjadi penggerak utama permintaan konsumen generasi muda.

Menurut Harry Lee, pasar Indonesia juga tidak terlepas dari tren global yang menuntut perangkat teknologi lebih "manusiawi" dan estetis. Layar hitam yang kaku saat TV mati kini telah dianggap usang, digantikan oleh konsep layar yang hidup dan menyatu dengan interior rumah.

Strategi utama Samsung dalam menguasai pasar tersebut adalah melalui lini Lifestyle TV, dengan produk unggulan seperti The Frame. Keunggulan utama perangkat ini adalah teknologi Matte Display yang bebas pantulan (glare).

"The Frame bisa terlihat seperti sebuah lukisan. Dengan bezel yang dapat dikustomisasi, Anda bisa menjadikannya sebagai bingkai seni di dinding rumah," ujar Harry Lee dalam sesi wawancara eksklusif bersama Tekno Liputan6.com di Kantor Samsung Electronics Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Melalui Art Store, Samsung menyediakan akses ke lebih dari 5.000 karya seni dari 800 seniman global, termasuk kolaborasi dengan institusi ternama seperti Museum of Modern Art (MoMA).

Harry Lee menilai bahwa galeri seni digital ini sebagai peluang besar untuk mendukung komunitas seni, di mana TV berfungsi sebagai galeri pribadi di rumah, menampilkan karya mulai dari Mona Lisa hingga Van Gogh dengan tekstur yang sangat realistis.

Sebagai informasi, Samsung Art Store adalah layanan langganan karya seni digital eksklusif yang tersedia di Samsung Art TVs, seperti The Frame, Neo QLED, dan QLED--mengubah TV menjadi galeri seni saat tidak digunakan.

 

Menjawab Kebutuhan Hunian Modern: Movingstyle

Memasuki tahun 2026, pola hunian masyarakat urban di Indonesia pun mulai berubah dengan tren rumah yang lebih kompak dan minimalis. Menanggapi hal ini, Samsung memperkenalkan inovasi terbaru, Movingstyle TV.

“Sekarang rumah menjadi lebih kecil. Generasi muda ingin TV seperti Movingstyle yang bisa bergerak dan fleksibel," ucap Lee.

Produk ini dirancang untuk dapat dipindahkan dengan mudah antar-ruangan, mengikuti aktivitas pengguna yang dinamis. Inovasi ini melengkapi jajaran produk lifestyle lainnya seperti The Sero (TV vertikal), The Serif, The Freestyle (proyektor portabel), The Terrace (luar ruangan), dan The Premiere.

 

Personalisasi untuk Kreator Konten Lokal

Lebih jauh lagi, Vision AI juga memainkan peran penting dalam personalisasi konten. Harry Lee meyakini bahwa AI akan membawa fitur personalisasi lebih dekat kepada komunitas seni dan pencipta konten lokal di Indonesia.

Dengan kemampuan menampilkan konten dalam mode ambient, TV Samsung memberikan panggung baru bagi kreator lokal untuk memamerkan karya mereka dalam format digital yang prestisius.

"Itu adalah tren global, dan Indonesia bukanlah pengecualian. Konsumen ingin lebih banyak personalisasi," Harry Lee menambahkan.

Dengan pendekatan yang menggabungkan teknologi mutakhir dan estetika tinggi, Samsung tidak hanya menjual perangkat elektronik, tetapi juga gaya hidup baru.

Pada 2026, Samsung berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap perangkat yang masuk ke rumah konsumen Indonesia adalah sebuah karya seni yang fungsional, pintar, dan sangat personal.

Infografis gaya hidup (Samsung)