Sam Altman: ChatGPT bakal Bisa Lakukan Sexting dengan Pengguna Dewasa Terverifikasi

CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bakal menambahkan dukungan untuk percakapan dewasa (sexting) saat peluncuran sistem penentuan batas usia pada Desember 2025.

Diterbitkan 16 Oktober 2025, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - OpenAI akan segera mengizinkan konten "erotika" atau konten yang membangkitkan gairah seksual, bagi pengguna yang telah memverifikasi usia mereka di platform ChatGPT.

CEO OpenAI, Sam Altman, melalui unggahan di platform X, menyatakan bahwa perusahaan akan menambahkan dukungan untuk percakapan dewasa (sexting) saat peluncuran sistem penentuan batas usia (age-gating) pada Desember 2025.

"Seiring dengan peluncuran age-gating secara lebih menyeluruh dan sebagai bagian dari prinsip kami untuk 'memperlakukan pengguna dewasa layaknya orang dewasa', kami akan mengizinkan lebih banyak hal, seperti erotika untuk orang dewasa yang terverifikasi," tulis Sam Altman.

Awal bulan ini, OpenAI memberikan sinyal akan mengizinkan pengembang membuat aplikasi ChatGPT "dewasa" setelah sistem verifikasi dan kontrol usia yang sesuai diterapkan.

Mengutip The Verge, Rabu (15/10/2025), OpenAI bukan satu-satunya perusahaan yang merambah konten dewasa.

Kompetitornya, xAI milik Elon Musk, sebelumnya meluncurkan pendamping AI yang "sensual" (flirty AI companions), yang tampil sebagai model anime 3D di aplikasi Grok.

Selain penambahan konten erotika, OpenAI juga berencana meluncurkan versi baru dari ChatGPT yang diklaim akan "berperilaku lebih seperti apa yang disukai pengguna ChatGPT 4o."

 

Fokus pada Kesehatan Mental

Keputusan ini diambil hanya sehari setelah perusahaan menjadikan GPT-5 sebagai model default yang menggerakkan ChatGPT. Langkah mundur ini dilakukan setelah banyak pengguna mengeluhkan model baru tersebut terasa kurang "personal."

Altman mengakui sebelumnya OpenAI sengaja membuat ChatGPT "cukup ketat untuk menghindari masalah kesehatan mental." Namun, ia menyadari perubahan ini membuat chatbot tersebut kurang berguna/menyenangkan bagi banyak pengguna yang tidak memiliki masalah kesehatan mental.

Sejak saat itu, OpenAI telah meluncurkan perangkat untuk "mendeteksi lebih baik" kapan pengguna berada dalam tekanan mental.

 

Pembentukan Dewan Kesejahteraan dan AI

Dalam upaya menanggapi skenario "kompleks atau sensitif," OpenAI juga mengumumkan pembentukan dewan "kesejahteraan dan AI" (well-being and AI).

Dewan ini terdiri dari tim yang beranggotakan delapan peneliti dan pakar yang mempelajari dampak teknologi dan AI terhadap kesehatan mental.

Namun, seperti yang disorot oleh Ars Technica, dewan ini tidak menyertakan pakar pencegahan bunuh diri. Padahal, banyak dari pakar tersebut baru-baru ini menyerukan kepada OpenAI untuk meluncurkan pengamanan tambahan bagi pengguna yang mengalami pikiran untuk bunuh diri. Meskipun demikian, Altman optimis dengan kebijakan baru ini.

"Sekarang setelah kami mampu memitigasi masalah kesehatan mental yang serius dan memiliki perangkat baru, kami akan dapat dengan aman melonggarkan pembatasan di sebagian besar kasus," tutup Altman dalam unggahannya.

 

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)